Saturday, September 23, 2017

Life Not Equel Math ch 9

Chapter 9 : Sama seperti biasa
“terimakasih ya sudah mau menerima ajakanku.”
“iya sama-sama, tapi ingat ya, kamu juga harus mengajak mereka berdua?”
“iya, tenang saja… sudah dulu ya, soalnya sudah masuk nih.”
“iya”
Sebaiknya aku juga harus bergegas.
“kamu dari mana sih?” Tanya Cheryl yang tampak marah terhadap saya.
“memang kenapa?”
“dari tadi aku sudah menunggu di tempat biasa, kenapa kamu dan anna tidak datang? Katanya sebentar?”
Bagaimana aku harus menjelaskannya?
“kok diam, ayo jawab, Ada apa sih?” Tanya Cheryl.
“nggak ada apa-apa kok, dan maaf kami tadi sibuk sekali jadi nggak bisa datang ke sana.” Jawabku agak tergagap karena bingung.
“ehem...! permisi? Bisakah yang disana kembali ke tempat duduk masing-masing.”
“maaf pak!” jawabku yang kemudian duduk.
“hei... hei.. akio...” samar samar aku mendengar bisikan seseorang memanggilku.
Aku pun melihat ke setiap samping tempat duduk aku.
“hei... disini?”
“apa sih edward?” jawabku berbisik.
 “tadi habis dari mana?”
“dari mana? Ya tentu saja masih di sekolah. Emang aku habis dari mana?”
“bukan itu, maksudku kamu tadi diajak sama anna kemana?”
“itu bukan urusanmu edward.”
“tentu saja itu menjadi urusanku, sebab kamu adalah aset berhargaku.”
“jangan seenaknya menjadikan orang lain sebagai asetmu. Aku bukan benda aku manusia.”
“iya aku tahu kamu manusia. Jadi kamu diajak kemana?”
“nanti kamu juga tahu...” jawabku.
“kenapa, kan yang diajak kamu? Mungkinkah... kamu sudah ditembak dia”
“bukan! Makanya jadi manusia jangan hanya memikirkan pasangan saja.”
“ya mau bagaimana lagi, aku juga manusia yang ingin merasakan cinta.”
“ya aku juga tahu, tapi nggak perlu seperti itu juga.”
“terus apa, kalau dia nggak menembak kamu.”
“aku nggak bisa memberitahukannya, tapi yang pasti dia juga akan mengajakmu juga.”
“serius!” teriaknya.
“yang dibelakang tolong jangan ribut!” bentak pak rendy yang tengah mengajar.
“iya maaf pak.” Jawab edward. “serius, dia mau mengajak aku juga?” bisiknya lagi.
“iya”
“akhirnya setelah sekian lama aku melakukan riset bersama club jones, tiba juga saatnya untuk aku praktekan hasil kerja keras ku ini.” Ucapnya yang terlihat begitu bahagia.
“jadi kapan dia akan mengajakku akio?”
“aku juga tidak terlalu tahu kapan tapi yang pasti dia akan mengajakmu.” Jawabku yang memang tidak tau.
***
Lagi-lagi hari berlalu begitu cepat, tak terasa jam sekolahku untuk hari ini telah berakhir. Kini aku, cheryl dan edward terngah berbincang-bicang didalam kelas yang telah kosong karena sekolah telah berakhir.
“hey, bener tadi kamu nggak ada apa-apa sama anna?”
“iya bener aku nggak ada apa-apa?”
“terus kenapa lama?” ucap cheryl yang masih tidak percaya.
“iya benar, aku juga tidak percaya kalau kamu nggak ada apa-apa sama anna?” tambah edward.
“kenapa masih nggak percaya sih? Aku serius nggak ada apa-apa dan lagian kita juga nggak ada hubungan apa-apa kenapa kamu jadi ikut seperti edward?”
“ya soalnya....”
“permisi...”
“oh, kebetulan ada orangnya, anna tadi pagi kita nggak ada apa-apa kan?”
“iya, memang ada apa sih?”
“mereka berdua nggak percaya dengan apa yang aku katakan.”
“syukurlah kamu belum pulang Edward” ucap anna yang justru tak merespon perkataanku.
“mungkinkah ini saatnya akio?” ucap Edward berbisik setelah menarikku.
”iya, inilah saatnya”
“tapi kenapa kamu nggak bilang kalau hari ini?” bisiknya lagi.
“mana aku tahu, terus kalau aku tahu hari ini memang kamu mau ngapain?”
“ye tentu saja aku akan menyiapan segala sesuatunya.”
“permisi, Edward?”
“iya anna ada apa?”
“begini, hari ini kamu ada kegiatan nggak?” Tanya anna.
“nggak ada sih, memang ada apa sih?” jawab Edward yang terlihat begitu berharap.
“ada sesuatu yang ingin aku sampaikan terhadap kamu?”
“apa?” jawab Edward.
“tapi aku tidak bisa mengatakannya disini, jadi aku ingin kamu ikut denganku ke suatu tempat” jawab anna.
Waaaah, kenapa anna ngomongnya seperti itu, aku yakin saat ini Edward sedang membayangkan sesuatu yang tidak-tidak. Tapi terserahlah, aku harap apa yang dibayangkannya saat ini tidak akan membuat hatinya nanti terluka. Ya semoga saja.
“baikalah, aku akan ikut.”
“syukurlah…”
“jadi kapan kita akan berangkat anna?”
“sekarang saja, soalnya aku juga takut nanti pulangnya terlalu sore.”
“baiklah, ayo!”
“tapi tunggu sebentar, ada satu hal lagi yang ingin aku katakan” ucap anna menghentikan Edward.
“begini, aku juga ingin mengajak Cheryl ”
“heh!”  ucap Edward tercengang.
“kamu mau kan ikut dengan kami?” ucap anna mengajak Cheryl.
“aku mau tapi kalau akio juga diajak.” Jawab Cheryl.
“kalu begitu kamu juga ikut ya?”
Kenapa aku juga dibawa-bawa “tapi kan…?” jawabku.
“ayo ikut saja!” ucap anna dengan nada menekan.
“baiklah aku akan ikut”
“nah, begitu dong”
“ayo!”
“hei, kenapa jadi seperti ini?” bisik edward ke telingaku.
“aku juga nggak tahu.”
“kalau akhirnya seperti ini lagi, sama saja seperti biasanya dong.” Gumam edward yang berjalan disampingku.
“terima saja.” Jawabku.
Kami pun terus berjalan, setapak demi setapak jalan kami lewati hingga akhirnya sampai di sebuah restoran yang dulu aku dan Cheryl masuki untuk mengintai mira.
“kita sudah sampai, ayo kita cari tempat duduk yang nyaman.” Ucap anna mempersilahkan kami.
“bagaimana kalau di situ saja.” Saran Cheryl.
“ada apa sih, kok kita kesini lagi?” Tanya Edward penasaran.
“nggak ada apa-apa sih, ayo silahkan pesan makanan yang kalian suka?”
“beneran nih, aku boleh memesan?” Tanya Edward yang tampaknya sudah tak peduli lagi dengan urusan sebelumnya.
“hari ini aku yang traktir.”
‘wah, terimakasih ya anna, kalau begitu aku akan memesan.”
“hey, jangan bikin malu.” Kataku.
“iya-iya aku tahu” jawab Edward.
“ngomong-ngomong ada apa sih, tidak seperti biasanya samapi repot-repot membawa kita kesini?” Tanya Cheryl.
“nggak ada apa-apa kok, aku Cuma mau berterimakasih saja sama kalian, karena berkat bantuan dari kalian semua kini akhirnya keluargaku kembali seperti keluarga pada umumnya.”
“itulah gunanya teman, saling membantu disaat ada masalah maupun dalam kesenangan.”
“meskipun itu hanya untuk cewek kan?”
“jangan begitu akio, begini begini aku tipe manusia yang setia kawan lho..”
“hahaha... iya-iya, ayo silahkan pesan makanannya!” ucap anna tersenyum.
***
‘cinta adalah suatu perasaan yang dapat menghasilkan perasaan lain seperti, sakit, senang, bahagia, iri bahkan hingga dendam. Cinta adalah satu kata yang memiliki definisi yang sangat luas tergantung seseorang memandang perasaan cinta tersebut. Karena pada hakikatnya cinta tak ubahnya sebuah kehidupan atau bahkan ada beberapa filosofi yang mengatakan kalau sebuah kehidupan lahir berawal dari adanya cinta itu sendiri.
Ada cinta harta yang mana harta adalah sesuatu yang lebih sempurna atau bisa dikatakan manusia itu akan merasa hidupnya sempurna jika memiliki banyak harta, ada cinta kekuasaan yang mana kekuasaan akan menjadi segalanya bagi orang tersebut, ada cinta kepada sesama yang mana ia akan selalu lebih memperhatikan sekitarnya ketimbang dirinya sendiri, karena dengan begitu ia akan merasa hidup, dan masih banyak lagi cinta cinta yang lainnya yang mungkin akan berakibat baik atau juga buruk untuk mereka yang mencintai sesuatu.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa cinta memiliki banyak arti tergantung bagaimana sudut pandang orang tersebut melihat, merasakan, atau bahkan memaknai arti kata cinta…’  hah, aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh buku ini.
Semakin aku coba memahaminya semakin bingung aku dibuatnya. “Sebenarnya apa sih itu cinta?”
“heeeee... jadi kamu tidak tahu apa itu cinta ya?”
“sejak kapan kamu disini cheryl?” ucapku yang kaget dibuatnya.
“sekitar 10 menitan.”
“lumayan lama juga ya, tapi kenapa aku tidak menyadarinya”
“masalahnya telinga kamu…” jawab Cheryl.
“oh maaf, aku memang suka mendenagrkan lagu lewat headset saat sedang membaca seperti ini.”
“nggak apa-apa kok. ngomong-ngomong kamu sedang menunggu siapa, duduk sendirian di taman?”
“aku tidak sedang menunggu siapa siapa, aku cuman mau mencari suasana segar saja.”
“oh begitu ya?”
“kalau kamu sendiri bagaimana Cheryl?”
“sama, cuman sekedar mencari suasana baru. Soalnya bosan juga jika cuman duduk-duduk saja di dalam apartemen sendirian.”
“oh, begitu ya”
“ngomong-ngomong, tidak biasanya kamu baca buku sepert itu? Sedang jatuh cinta ya sama seseorang?”
“nggak, cuman penasaran saja.”
“oh... cinta ya? Bagi saya, cinta itu menyenangkan.”
“kok bisa, kenapa?”
“coba banyangkan saja, setelah sekian lama berpisah, kini bersama lagi dengan seseorang yang kamu sayangi. Bukankah menyenangkan? Memang ada kalanya aku merasa marah, tapi hal itu kembali menjadi menyenangkan ketika aku mengingatnya kembali disaat-saat seperti ini”
“aku tebak itu adalah orang yang sedang kamu cari?”
“100!”
“jadi kamu sudah menemukannya ya? Dimana orangnya, dan kapan kamu bertemu dengan dia?” tanyaku penasaran.
“rahasia!”
“ayolah, perkenalkan dengan saya? aku juga penasaran dengan orang tersebut yang sudah membuatmu pergi jauh dari dari Negara asalmu hanya untuk bertemu dengan dia?”
“nggak bisa dan nggak akan pernah.”
“ngomong-ngomong sudah jam segini, sebaiknya ayo kita pulang.” Ajakku.
“iya, Dan kalau tidak salah besok kita ada ulangan kan?” tanya Cheryl.
“iya, kamu sudah belajat?”
“sudahlah, dan mana mungkin malam-malam begini aku keluar rumah jika pekerjaanku sendiri belum aku selesaikan.”
“iya juga ya?”
***
Kini aku sudah berada disamping ruang perpus. sesuai janji kemarin, kali ini aku ingin menanyakan beberapa hal kecil kepada sara mengenai sekolah ini sekaligus alasan mengapa ia ditempatkan di kelas yang terpisah dengan siswa lainnya disekolah ini. Tidak ada alasan spesial mengapa aku ingin menanyakan hal ini, hanya saja apa yang terjadi dengan sara mengingatkan aku dengan masa lalu yang seharusnya kini menjadi sebuah kenangan indah. Kini aku memang sudah tidak mempermasalahkannya lagi, karena dengan adanya peristiwa itu dunia mau berbicara dan memutuskan untuk berdamai. Sekalipun hal tersebut cukup membuat hidup keluargaku menderita dalam senyum untuk waktu yang lama.
Seiring berjalannya waktu luka itu sudah sembuh, kini aku memandanganya sebagai sesuatu yang indah. Karena berkatnya kini aku bisa hidup dengan bebas tanpa harus takut adanya peluru yang menyasar ke segala tempat, tanpa adanya darah yang berceceran ataupun tangis karena kehilangan. Aku senang dan aku bangga dengan kepergiannya. Namun, aku tidak akan bisa menerima jika sesuatu yang telah ia bangun dengan nyawanya sendiri harus diubah menjadi awal adanya suatu kecemburuan yang mungkin bisa menumbuhkan luka lama.
“hey, akio… akio..?”
“oh, maaf.”
“melamun terus, ada apa sih?” Tanya sara yang rupanya sudah berada disamping saya.
“nggak ada apa-apa kok?”
“maaf, lama ya menunggunya?”
“nggak kok.”
sambil ngobrol ayo masuk” ajaknya masuk ke dalam kelas.
“wah, kelas apa ini, banyak sekali peralatannya?”
“ini adalah lab sekaligus ruang kelasku, disinilah aku belajar dan melakukan banyak penelitian.”
“oh, begitu ya?” jawabku.
ngomong-ngomong kemarin kamu mau tanya apa?”
hampir lupa aku. emm, bagaimana ya. Begini, sebelumnya maaf bukannya aku mau ikut campur, tapi aku hanya penasaran saja. Jadi jika kamu berkenan menjawab pertanyaanku ini tolong jawablah, namun jika kamu tidak mau tentu saja aku tidak memaksa.” Kataku memperjelas sebelum aku menyinggung masalah sebenarnya.
“jadi, apa pertanyaanmu?”
“mengapa siswa di kelas ini hanya kamu seorang, dan bukannya kelas 2E bukan disini?”
“masalahkah buat kamu?”
“tidak sih, hanya saja aku merasa kamu dibedakan dengan siswa lain. Dan disisi lain dengan adanya ini bukankah kamu akan susah mendapatkan teman?”
“ini memang permintaanku terhadap sekolah, dan sebagai gantinya aku akan berusaha semampu saya untuk mendapatkan peringkat pertama di sekolah ini.”
“kenapa?” tanyaku.
“aku hanya lebih suka sendiri saja?”
“alasannya?”
“alasannya karena dengan demikian aku tidak akan menyusahkan orang lain.”
“tapi kenapa?”
ya itu bukan urusanmu… Masih ada yang mau ditanyakan lagi?”
Bagaimana ini, apakah saya sudah membuatnya marah, Kenapa nada bicaranya berbeda dengan saat pertama kali aku berjumpa dengannya? “lalu, maukah kamu menjadi teman saya?”
“hah?”
“kenapa hah? Aku hanya ingin menjadi teman kamu, apa ada yang salah?
“aneh, aneh kamu!” jawab sara.
“apanya yang aneh?”
“kamu bilang kalau kamu ingin menjadi temanku setelah kamu  menginterogasiku, bukankah aneh, bagaimana kalau sebelumnya aku menjawab aku seorang pembunuh, apakah kamu masih ingin menjadi temanku?”
“bukan begitu, hanya saja apa yang terjadi dengan kamu membuatku teringat dengan masa lalu dan membuatku berfikir negatif dengan sekolah ini... luka akibat perang masih tersisa hingga kini, meski demikian semuanya bertekad untuk mengubah masa depan menjadi lebih baik. Namun, jika sekolah ini yang menjadi lambang perdamaian itu sendiri justru melakukan tindakan membeda-bedakan terhadap siswanya, bukankah sama saja menciptakan kecemburuan yang mungkin bisa memicu perpecahan?” ucapku memperjelas.
“maaf sudah berprasangka buruk terhadapmu... Namun. ini bukan keputusan dari sekolah. Ini adalah keputusanku sejak pertama kali aku mendaftar ke sekolah ini… ayahku adalah seorang jenderal akatan darat dari utopia, karena pekerjaan ayah saya yang seperti itu mau tidak mau kami pun ikut kemanapun ia akan ditugaskan, saat itu hanya itulah pilihan yang dimiliki olah orang tua saya. Dimana-mana ada perang, dimana-mana ada kematian dan tidak ada tempat yang aman untuk kami berlindung. Tumpukan mayat, bau darah, orang-orang yang kelaparan serta semua hal yang dihasilkan dari perang sudah menjadi hal biasa untuk saya lihat. Namun, tak ubahnya seperti kutukan, peristiwa itu pun menghampiri keluarga saya hingga sampai pada saatnya dimana aku bisa kembali manjadi manusia normal lantaran perdamaian yang aku inginkan telah datang, aku justru tak mampu untuk berhadapan dengan dunia luar. Aku takut untuk membaur dengan masyarakat, aku takut untuk menjalin pertemanan dan aku takut untuk hidup bersosial”
“apa yang kamu takutkan? Bukankah ini yang sudah kamu harapkan, bukankah tadi kamu menginginkan kehidupan seperti ini?”

“memang benar inilah kehidupan yang aku inginkan… hanya saja, ketika aku mencoba untuk menikmatnya selalu saja kalimat itu menghapiri otakku. Sebuah kalimat yang tidak bisa aku lupakan namun ingin aku lupakan.”
***

bersambung


Note : Hak Cipta karya tulis ini sepenuhnya milik Hirekija. dilarang melakukan penggandaan atau plagiat dalam bentuk apapun.  cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. 
Load disqus comments

0 comments