Saturday, September 2, 2017

Life Not Equel Math ch 8

Chapter 8 : Pasangan
Kami pun terus berjalan menuju ke rumah kami masing-masing.
“ward, kita berpisah disini ya?”
‘kenapa, kan kita satu arah?”
“aku mau nganter cheryl pulang dulu.”
“kenapa nggak bareng saja? Oh maaf, sebaiknya aku nggak usah mengganggu. Baiklah kalau begitu kita berpisah disini. Bye, sampai besok ya?”
“iya. Ayo cheryl.”
“Tidak seperti biasanya?” ucap cheryl.
“maksudmu?”
“oh, maksudku tidak seperti biasanya edward tidak menggangu kita, biasanya kan kalau salah satu dari kita bilang seperti tadi dia langsung ikut.”
“iya juga ya. Tapi biarlah, mungkin ada yang lebih penting dari pada mengikuti kita” kataku.
“ngomongin edward, sedari aku mengenalnya, aku masih penasaran dengan satu hal mengenai apa yang dilakukan edward.”
“apa itu?” tanyaku.
“aku penasaran dengan organisasi yang sering dibicarakan oleh edward dengan kamu.”
“oh.... itu ya. Aku sarankan sebaiknya kamu nggak usah tahu tentang informasi tersebut?
“kenapa? Memang berbahaya ya?”
“benar-benar berbahaya, jika kamu mengetahuinya maka hidup kamu akan berubah 180 derajat.”
“emang informasi apa sih? Kasih tau dong?”
 “sebaiknya nggak usah?’
“kenapa?”
“bener nggak apa-apa?” tanyaku memperingatkan
“iya”
“serius?” tanyaku mengulang.
“iya, aku serius.”
“kamu akan menerimanya?”
“iya-iya, cepat, nggak usah banyak basa basi.”
“baiklah kalau kamu memaksa, sebenarnya...”
“iya-iya”
“sebenarnya organisasi yang edward ikuti adalah perserikatan jones.”
“apa! Jones, maksudnya jones (minus singles) yang itu?” ucapnya tercengang.
“iya, jomblo ngenes (minus singles)
“nggak salah dengar nih aku?” ucapnya sambil menahan tawa.
“iya aku serius”
“terus kenapa bisa mengubah hidup seseorang, bukankah itu agak berlebihan?”
“memang benar kalau pertama kali mendengar hal ini akan berfikir berlebihan. Tapi itulah yang sebenarnya?”
“contohnya?”
“contohnya… hmmm, bagaimana ya menjelaskannya? Oh begini saja! Edward dan organisasinya selalu mencari informasi mengenai bagaimana dan seperti apa itu hubungan percintaan. Yang mana setiap disitu ada laki-laki dan perempuan yang sedang berinteraksi atau cukup dekat maka disitulah ia akan bersarang sekalipun mereka bukan berstatus pacaran atau sesuatu yang lebih tinggi lagi.
terus kalau mereka sudah mendapat informasi, apa yang akan mereka lakukan?” Tanya Cheryl yang terlihat semakin penasaran.
“tentu saja mereka akan memilah informasi tersebut dan setelah itu akan mereka jadikan tuntunan untuk mendapatkan pasangan seperti yang mereka inginkan, begitulah yang Edward jelaskan saat aku bertanya.” Ucapku memperjelas.
“hmmm, begitu ya, terus dimana letak bahayanya? Bukankah itu wajar sebagai manusia yang selalu berusaha dan belajar dari sekitarnya jika menginginkan sesuatu.”
“memang benar, tapi kamu lihat sendiri kan bagaimana dia terus mengikuti aku, setiap aku bersama dengan perempuan maka di situlah dia akan muncul terutama saat bersama kamu.”
“mungkin Edward menganggap kita sebagai pasangan?”
“hah...” kata ku tercengang mendengar Cheryl berbicara seperti itu.
“ee.. bukan! Maksudku… mungkin karena kamu teman baiknya jadi dia mengikuti kamu.”
 “tapi bukan berarti harus ikut campur dengan urusan pribadiku.”
Tak terasa perjalanan dengan cheryl harus berakhir untuk malam ini.
“akhirnya sampai juga, terima kasih ya sudah mengantarku sampai depan rumah.”
“iya, nggak apa-apa kok. Kalau begitu sampai besok ya?”
“iya.. bye!”
Setelah mengantar cheryl sampai di depan apartemennya, aku pun memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.
“pasangan ya?” apa mungkin aku akan bisa memahami cinta jika aku menjadi pacarnya? Tapi bagaimana aku melakukannya, dan aku sendiri pun masih tidak tahu apa itu cinta. Masa aku harus menyatakannya hanya demi sebuah informasi? Biarlah… hari ini sudah cukup melelahkan, sebaiknya aku tidur saja.
***
“syukurlah, masih tersisa waktu sebelum jam pertama masuk.” Gara-gara semalam teringat dengan kata-kata Cheryl, semalaman aku dibuat pusing dan akhirnya aku bener-benar tidak bisa tidur.
Padahal sih bukan kata-kata mutiara atau pesan, tapi lebih mengarah ke susuatu yang sepele. Namun, ketika aku teringat kembali dengan misi yang sedang aku jalani sekarang. Rasanya ada sesuatu yang akhirnya membuatku menjadi bimbang.
Tapi apapun itu, sebaiknya aku tetap terus melanjutkan misi ini, karena aku yakin jika aku mengetahui arti sebenarnya dari sebuah cinta mungkin akan ada perubahan besar yang akan terjadi dsekitar saya. Baiklah, sekarang waktunya mencari bahan yang relevan untuk aku jadikan tuntunan.
Hampir lupa, saat ini aku sedang berada di perpustakaan. yah meskipun tadi hampir terlambat, namun bukannya aku langsung masuk kedalam kelas tapi aku justru mampir ke perpus. Namun, ini juga ada alasannya. Masalahnya ada buku yang seharusnya aku bawa namun tertinggal saat aku tergesa-gesa ke sekolah. Makanya sekarang aku sempatkan untuk meminjamnya di perpus.
“mana ya, bukunya. Seharusnya ada disekitar sini…”
‘brakk,’ tanpa sengaja aku menabarak seseorang.
“maaf, maaf, kamu nggak apa-apa kan?” ucapku meminta maaf. Siapa gadis ini, rasanya aku baru pertama kali bertemu dengannya.
“iya nggak apa-apa kok.”
“wah, banyak banget buku yang kamu bawa?”
“iya, aku sudah selesai membacanya. Jadi sekarang aku mau mengembalikannya.” Jawab gadis tersebut.
“semuanya?”
“iya, memang kenapa?”
“nggak apa-apa sih, hanya jarang sekali aku melihat orang yang bisa membaca buku-buku setebal ini sampai tuntas.”
“aku bantu ya?” usulku.
“nggak usah, aku bisa sendiri.
“nggak apa-apa, lagian juga aku yang sudah menabrak kamu jadi tolong biarkan aku menebus kesalahanku.”
“baiklah kalau kamu memaksa.”
“ngomong-ngomong siapa nama kamu, kok rasanya aku jarang melihatmu atau lebih tepatnya baru melihatmu di sekolah ini. Murid pindahan ya?”
“bukan.”
“tapi kenapa aku baru melihatmu?”
“ namaku angela sara dan aku seangkatan dengan kamu”
“tunggu sebentar, angela sara, angela sara... mungkinkah kamu siswa yang mendapat peringkat satu namun tak pernah muncul ke podium saat pemberian piagam?”
“iya, namun aku tidak bermaksud sombong atau bagaimana, hanya saja situasi saat itu memang mengharuskan saya untuk tidak menghadiri acara tersebut.” Jawab angel yang terlihat agak ketakutan.
“nggak apa-apa kok, lagian aku juga tidak mempermasalahkannya. Oh iya, perkenalkan, namaku akio ahsan dari kelas 2A.”
“salam kenal” ucapnya.
“ngomong-ngomong ini mau ditaruh dimana?”
“disini”
“baiklah, yap, selesai.”
Bel tanda masuk pun berdenting mengingatkanku dengan sesuatu yang begitu penting.
“waduh, sudah masuk ya, bagaimana ini?”
“ada apa sih?”
“buku modul seni saya tertinggal dirumah karena tadi aku berangkat dengan tergesa-gesa takut terlambat, makanya aku kesini mau meminjanya. Tapi aku cari kemana-mana tidak ada, bagaimana ini ya?”
“kebetulan aku membawanya, kalau kamu tidak keberatan, aku bisa meminjamkannya kok”
“serius, tapi kamu sendiri bagaimana?”
“nggak apa-apa kok, lagian pelajarannya dimulai jam ke 5 sehabis istirahat nanti.”
“baiklah, kalau begitu aku pinjam dulu ya. Ngomong-ngomong kamu kelas apa?”
“aku kelas 2E.”
“2E ya, kalau begitu nanti saat jam istirahat akan aku kembalikan.”
“iya,”
“pak aris pasti hampir sampai dikelas, sudah dulu ya, dan terima kasih bukunya.: ucapku sambil berlari keluar.
***
Bel tanda istirahat telah berbunyi. Syukurlah jam pertama saya tertolong oleh buku ini. Sekarang sebaiknya aku kembalikan saja.
“akio kamu punya waktu sebentar nggak?”
“ada apa anna?”
“ikut aku sebentar yuk, ada sesuatu yang ingin aku tunjukan kepada kamu?” ajak anna menarik tanganku.
“ta, tapi aku…”
“ayo ikut saja, Cheryl, akio aku pinjam dulu ya?” ucap anna sambil menarik tanganku.
“hah, kenapa ijinnya ke aku?”
“kita mau kemana sih?” tanyaku yang memang penasaran dengan tingkah anna yang mendadak seperti ini.
“nanti kamu juga tahu, ayo ikut aku saja.”
“kalau begitu, ijinkan aku mengembalikan buku ini dulu.”
 “baiklah, tapi selanjutnya kamu harus ikut aku ya?”
“siap.”
Setelah aku berkata seperti itu, anna terus menarikku kesana kemari. Entah apa yang akan dia lakukan terhadap saya, tapi semoga saja aku tidak membuat kesalahan.
“sudah sampai… ayo, sekarang kembalikan bukunya?” ucap anna.
‘buku apa?”
“katanya tadi mau mengembalikan buku, sekarang kita sudah sampai di perpus. Jadi silahkan kembalikan bukunya.”
“tapi aku meminjamnya bukan disini…”
“terus kemana?”
“makanya jangan asal tarik saja, ayo ikut aku?” ucapku.
***
“nah, kita sudah sampai”
“2E?” ucap anna yang terlihat penasaran.
“tunggu sebentar ya?”
“maaf, sara-nya ada?” tanyaku ke salah satu siswi yang ada di dalam kelas.
“sara? Dia kelasnya tidak disini.”
“tapi tadi pagi dia bilangnya ada di kelas ini, kelas 2E”
“memang benar dia siswi kelas 2E, namun yang dia maksud adalah kelasnya sendiri bukan kelas ini”
“memang kelas 2E ada berapa?” tanyaku karena bingung.
“pada dasarnya Cuma ada satu, namun entah karena alasan tertentu dia harus tinggal di kelas yang berbeda dengan kita.”
“memang kenapa?”
“kami juga tidak tahu alasannya?”
“terus, dimana kelasnya?”
“kalau kelasnya ada disamping kanan ruang perpustakaan.”
“kalau begitu terimakasih atas informasinya?” ucap ku berpamitan.
“sama-sama.”
“bagaimana, sudah kamu kembalikan bukunya?” Tanya anna.
“kelasnya bukan disini/”
“lho, kenapa?”
“nanti akan aku ceritakan, ayo!” ajakku.
“hey, kenapa kita kembali lagi ketempat ini, katanya bukan di perpustakaan? Tapi…”
“emmm, kalau tidak salah sebelah kanan perpus. Mungkin ini tempatnya?”
“kenapa kita kesini? Bukankah ini ruangan bukan unuk umum?”
“permisi, ini saya akio, yang tadi pagi meminjam buku kamu. Sekarang aku mau mengembalikannya.”
“maaf, sekarang aku sedang sibuk, bisakah kamu titipkan ke perpus saja?” jawab sara yang rupanya memang ada di dakan ruangan itu.
“baiklah, akan aku titipkan ke perpus, tapi sebelumnya bisakah kita bicara? Ada sesuatu yang ingin aku ketahui dari kamu?”
“tapi sekarang aku sedang sibuk” jawabnya dari dalam ruangan.
“kapan-kapan juga boleh.”
“kalau begitu, bagaimana kalau besok sebelum jam pelajaran masuk?”
“baiklah kalau itu mau kamu. Dimana kita bisa bertemu?”
“disini?”
“okey, sampai besok ya, dan terima kasih bukunya.”
“ayo anna!” ajakku.
Setelah aku menitipkan buku yang aku pijam dari sara, aku pun kini melanjutkan perjalannan menuju tempat yang anna inginkan.
“akio tadi siapa?”
“oh, tadi sara dari kelas 2E?”
“sara? Maksudmu angela sara yang mendapat peringkat 1?”
“iya, kenapa dia ada di ruang itu?”
“entahlah aku juga ingin tahu, tapi yang pasti itu adalah ruang kelasnya.”
“hah?”
“yang lebih penting kita mau kemana ini?” tanyaku.
“hampir lupa, ayo! Semoga saja masih ada waktu.”
Anna pun menyuruhku berlari.
“syukurlah masih ada waktu, ayo, silahkan duduk!”
“kenapa kita ke kantin?”
“pesanlah apa yang kamu inginkan.”
“maksudnya?” tanyaku yang semakin tidak jelas.
“ini sebagai rasa terimakasih dari saya karena berkat rencanamu itu sekarang keluarga saya sudah kembali seperti dulu.”
“tapi kenapa cuma saya, Cheryl kan juga ikut membantu dan Edward pun ikut membantu juga meskipun dia hampir membuat semua rencana kita hancur.”
“memang benar, makanya nanti setelah ini aku juga mau melakukan sesuatu kepada mereka seperti yang aku lakukan saat ini dengan kamu.”
“kenapa tidak bersama-sama saja?”
“salah ya jika hanya berdua saja dengan kamu?”
“tidak sih, tapi?”
“atau jangan-jangan kamu takut nanti Cheryl cemburu ya?”
“hah? Kenapa kamu ngomong seperti itu, kita nggak…”
“ya sudah, kalau begitu terima saja tawaranku ini, toh aku Cuma  mau mrntraktir kamu bukan mau melakukan sesuatu.”
“iya, iya aku terima!”
“nah, begitu dong!”
“tapi ingat ya kamu juga harus melakukan hal yang sama kepada mereka berdua seperti yang kamu lakukan terhadap saya/”
“tenang saja, aku janji kok.” Kata anna.
“soalnya aku tidak suka melihat orang yang membeda-bedakan…”
“iya, iya… ayo, silahkan pesan makanannya”
***

bersambung


Note : Hak Cipta karya tulis ini sepenuhnya milik Hirekija. dilarang melakukan penggandaan atau plagiat dalam bentuk apapun.  cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. 
Continue reading...

Sunday, August 13, 2017

Life Not Equel Math ch 7

Chapter 7 : hari bersejarah untuk mira
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah datang. Kini aku, Cheryl, dan Anna pun tengah menuju ke suatu restoran yang sengaja kita pesan untuk pesta ... “hei akio, kita mau kemana sih?” Tanya Edward memotong narasi yang tengah aku baca dalam hati.
Lebih baik narasinya aku ulangi saja,
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah datang. Kini aku, Cheryl, dan Anna pun tengah menuju ke suatu restoran untuk mengambil kue yang kita pesan untuk pesta ulang tahun Mira.
“woy, ditanya kok malah dicuekin”
eh..., kita mau ke restoran.”
“wah, emang ada apa sih menang lotre ya, atau kamu sudah dapat?”
“maksudnya?”
“itu, ‘pacar..’” bisiknya.
“ada apa sih, kok bisik-bisik bicaranya?”
“oh.., nggak ada apa-apa kok?”
“bener nggak ada apa-apa?”
“iya Cheryl.” Jawabku.
“ayo, jangan becanda terus nanti kita telat” ujar anna memotong pembicaraan kita.
“iya, dan lagian, kenapa kamu mengikuti kami sih edward?”
“jahat banget sih kamu, padahal kita kan sahabat.”
“sudah, nggak usah ngulang yang dulu dulu, nanti harga diriku hancur lagi.”
“lha itu nyadar.” Jawabnya dengan sok.
Nih, anak semakin hari kalau bicara denganku bukan tambah nyambung tapi tambah emosi “ehem, baiklah… memangnya kamu nggak ada urusan lain lagi apa, selain mengikuti kami. Misalnya seperti organisasi sesatmu itu atau urusan penting lainya?”
“ini sedang aku lakukan.”
“maksudnya?”
“ya mengikuti kalian.”
“pentingkah urusanmu itu?”
“tentu saja penting, karena ini demi keseimbangan dunia.”
“maksudnya, dan kenapa kamu bawa-bawa dunia? Kamu nggak berencana memicu perang lagi kan?” tanyaku yang semakin tidak mengerti dengan jalan pikirannya Edward.
“ya jelas pentinglah, dan tentu saja bukan urusan perang! coba kamu banyangkan, setiap hari setiap aku pulang sekolah entah itu di organisasi atau ditempat lain aku selalu saja dikelilingi cowok, sedangkan kamu setiap pulang sekolah selalu dikawal oleh dua cewek, dan bukan cuman itu saja, saat libur pun kamu tetap bersamanya, bagaimana mungkin ini dinamakan dunia adil. Ini namanya kejam tahu!”
“siapa suruh kamu mengikuti organisasi sesat itu”   
“hey, itu bukan organisasi sesat itu organisasi..”
“kalian bisa diam nggak! Semakin kalian banyak bercanda semakin banyak pula waktu yang kita buang. Jadi kalu kalian nggak mau membantuku sebaiknya kalian nggak usah ikut.” Bentak anna yang mulai marah dengan tindakan kami.
“maaf…”
***
Kami pun akhirnya sampai di restoran.
“Selamat datang di restoran kami, ada yang bisa kami bantu tuan?”
“saya yang kemarin pesan kue ukuran sedang?”
“oh, ternyata mas mencurigakan yang memesan kue ya?”
“siapa lagi yang mencurigakan!”
“oh, maaf keceplosan.”
“hahaha...”
“kalau kuenya sudah siap mas. Sebentar ya saya ambil dulu?”
Beberapa saat kemudian pelayan itupun datang dengan membawa kotak yang berisikan kue yang telah kita pesan.
“ini mas kuenya?”
“jadi berapa?”
“semuanya jadi 10 silfar.”
“oh, biar aku saja yang membayar.” Kata anna mengajukan diri. “ini mba, ayo kita pulang.”
“hey, kita langsung pulang ya?” kata edward yang terlihat kecewa.
“ya tentulah emang mau apalagi?”
“nggak makan dulu apa?” usul edward.
“nggak ada waktu, lagian juga kita sedang buru-buru nih.” Jawab cheryl.
“sia-sia aku ikut?”
“sudah nggak usah kecewa seperti itu, mumpung kamu juga sudah bersama kami, bagaimana kalau kamu ikut membantu kami?” ucap cheryl.
“membantu apa?”
“jadi begini...” kataku yang kemudian membisikan maksud kami ke telinga edward.
“oh, begitu ya. Kalau kamu bilang sejak awal pasti akan aku bantu dan untuk rencana pasti tidak akan menjadi seperti ini.”
“paling minta bantuan ke komunitas sesatmu itu”
“eich-eich,... sekalipun hubungan antar individu aku belum benar-benar memahami, namun untuk hal ini akulah ahlinya. Dengan pengalaman 2000 jam terbang sudah tak bisa dipungkiri bahwa aku ahli dalam membuat kejutan.”
“nggak usah mengkhayal. Ayo, nanti kita terlambat!” kataku.
***
“Untunglah kita tepat waktu. Ayo teman-teman kita persiapkan semuanya.”
“okey!”
Sesampainya kami di rumah anna, kami pun segera mempersiapkan segala sesuatunya sebelum mira pulang dari sekolah.
“okey, semuanya sudah siapkan?” kataku memberi aba-aba.
“iya”
“kalau sesuai dengan perhitunganku, dia pasti akan sampai sekitar 2 menit lagi, jadi bersiaplah diposisi kalian.”
 “saya pulang,” kata mira yang terdengar dari arah depan.
“kok gelap sih. bu, kak? kalian dimana?”
“Kak... Bu... Ibu... kalian dimana?” kata mira yang terus mencari-cari keberadaan anna dan ibunya.
“ayo, satu, dua tiga!” bisikku memberi aba-aba.
“selamat ulang tahun!!!” teriak semaunya
Entah kenapa setelah kami memberinya kejuta, ia pun hanya terdiam. Kami pun terus memandanginya dengan sejuta perkiraan. Apakah ia bahagia, apakah ia senang, apakah ia sedih atau apakah ia marah atas perbuatan kami. Saat itu kami pun ikut terdiam.
“... sudah, sudah selesai. Membosankan!” ketus mira sambil berjalan
“aku tahu kamu tidak suka hal-hal seperti ini. Jangankan hal seperti ini, berbaur dengan orang lain kamu pun membencinya. Namun paling tidak hargailah kakakmu ini. Dia sudah susah payah membuat semua ini.” Ucap edward dengan lantang-nya.
“tahu apa kamu? Jangan ikut campur urusan orang lain!”
“memang aku nggak tahu apa-apa, dan ini memang bukan urusanku. Tapi melihatmu bertingkah egois seperti itu didepan kakakmu sendiri membuatku tidak tahan saja....”
Entah kenapa tubuh mira mulai terlihat gemetar, ia seakan-akan takut akan sesuatu. Wajahnya mulai pucat dengan ekspresi menahan ketakutan yang begitu dalam “sudah edward,” ucapku menghentikan edward karna khawatir dengan kondisi mira.
“tapi,“
“sudah! Nggak usah diperpanjang lagi.” Teriakku karna edward tidak mau mendengarkan ucapanku.
“kenapa kamu yang jadi marah! Emang siapa yang bersalah disini!”
“aku tahu kamu Cuma mau membenarkan yang seharusnya, tapi lihatlah kondisinya.”
“maaf, bukankah kita kesini mau merayakan ulang tahunnya mira. Tapi kenapa jadi seperti ini?” ucap cheryl mencoba mengubah suasana.
“sudah tidak perlu, gadis seperti dia ulang tahunnya tidak pantas dirayakan.”
“edward!” teriakku.
“e,.. mira tunggu sebentar!” panggil anna mengejar mira yang berlari masuk ke dalam setelah mendengar ucapan seperti itu dari edward.
“kamu kenapa sih? Semakin hari mulut kamu semakin tidak bisa dijaga” ucapku kepada edward.
“ya maaf, tapi memang aku sudah nggak tahan melihatnya. Saat pertama kali aku kesini aku masih bisa terima perlakuan itu karna aku sadar aku tidak sopan, tapi untuk yang satu ini aku tidak bisa terima, karena bagaimanapun juga anna adalah kakaknya dia. jadi dia harus menghormatinya.”
“terus bagaimana ini, semuanya jadi kacau.” Kataku yang bingung dengan keadaan ini.
“untuk saat in lebih baik kita tunggu saja, mungkin nanti mira akan berubah pikiran.” Kata cheryl.
“tapi, kalau seperti ini kita jadi seperti tamu tak diundang.”
“memang benar sih, tapi mau bagaimana lagi.”
Beberapa saat kemudian kami pun mendengar pertengkaran antara mira dan anna.
“bagaimana ini?” ucap cheryl yang merasa tidak enak.
“Sebaiknya kalian pulang dan jangan pernah datang kemari lagi” kata ibunya anna mengusir kami dari rumahnya.
“kalau begitu kami permisi dulu bu. Dan maaf karena kami telah membuat masalah.” Ucap cheryl.
“tunggu sebentar!” cegat anna dari dalam. “kalian jangan pulang dulu.”
“tapi kan?”
“nggak apa-apa, kalian nggak salah!” kata anna.
“mau apa lagi, belum cukup kamu membuat adik kamu seperti ini?”
tentu saja, karena aku ingin dia kembali seperti dulu. Bukan menjadi sampah seperti ini!”
‘prakk!!!!’ suara tamparan pun terdengar begitu kencang.
“tarik.., tarik kembali ucapanmu itu.
“bu, sudah bu!” ucap mira yang rupanya ikut mendengar perdebatan antara anna dengan ibunya
“...Karena bagaimana pun juga dia adik kamu.” Lanjut ibunya anna
“tapi memang benar kan! Persetan dengan kematian ayah, persetan dengan hari kelahirannya. Kalau dia tidak bisa menerima hidupnya sendiiri, ...Bukankan itu sama saja dengan sampah. Aku tidak akan membuat hal-hal seperti ini, aku tidak akan mengusik kehidupan pribadi mira. Tapi sebaliknya tolong kembalilah seperti dulu sebagai adik yang aku sayangi.”
“bagaimana mungkin aku bisa kembali seperti dulu, sedang setiap hari aku terus dihantui dengan tingkah ibu yang seakan-akan ayah masih ada. Aku pun tidak ingin seperti ini namun bagaimana lagi... Karena keegoisanku ayah jadi meninggal, karena, karena keegoisanku pula keluarga ini hancur.” Balas mira meluapkan semua isi hatinya. “aku takut kalau aku kembali seperti biasa, aku akan membuat kalian lebih menderita lagi.”
“kenapa harus takut,  dan apa yang kamu takutkan?” tanya anna.
Mira hanya terdiam.
“takut kami akan membencimu, takut karena dihari ulang tahunmu ayah meninggal atau takut apa? Kami tidak akan membencimu, kami tidak akan menjauhimu atau bahkan meninggalkanmu. Kami ini keluargamu. Kami hanya ingin kamu hidup bahagia bersama kami.” Ucap anna yang akhirnya mengerti dengan situasi mira. “dan ibu, kenapa terus membayangi mira dengan kematian ayah?”
“ibu bukan bermaksud seperti itu.”
“terus kenapa?” tanya anna memojokan ibunya.
“mira bukan anak kecil bu, mira sudah tahu mana yang kenyataan dengan mana yang mimpi.” Tambah mira melanjutkan kalimat anna.
“ibu tidak ingin melihat masa anak-anak mira menjadi kelam karena kematian ayahnya. Ibu tidak ingin melihat mira menderita, makanya ibu terus mencoba melakukan hal itu sampai pada waktunya nanti ibu akan menjelaskan semuanya... Ibu tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini. Ibu minta maaf. Ibu nggak bermaksud seperti itu.”
“mira juga minta maaf bu. Selama ini mira sudah membuat ibu khawatir.” Kata mira memeluk ibunya.
“jadi, sekarang bagaimana?” kataku yang mulai merasakan perubahan suasana.
“mari kita buat hari ini menjadi hari bersejarah untuk mira! Ayo mira, sekarang tiup lilinnya dan buat hidup kamu menjadi lebih baik lagi!” seru anna.
“terima kasih kak.”
“ayo buat harapanmu dan segera tiup lilinnya!” kata ibunya.
Mira pun akhirnya meniup lilinnya.
“mira ini hadiah dari kami, tolong diterima ya?” ucapku sambil memberikan kado tersebut.
“terima kasih kak.”
“ibu juga punya sesuatu untuk kamu tunggu sebentar ya?”
“mira, ini juga kado dari ibu.”
“wah banyak banget bu.”
“iya, karena ini adalah kado yang seharusnya ibu berikan beberapa tahun lalu.”
“terima kasih bu.”
“dan ini juga kado terakhir dari ayah yang beliau titipkan sebelum terbang ke luar negeri.” Kata ibunya memberikan kado tersebut.
Setelah mendengar hal tersebut wajah mira mulai tampak berlinangan air mata.
“bu… maaf bu, maaf...” ucap mira yang kini tampak sudah tak mampu untuk menahan air matanya.
“iya, dan kenapa menangis, ini kan hari ulang tahunmu? Ayo tersenyum!” jawab ibunya.
Syukurlah semuanya berjalan dengan lancer sesuai dengan rencana. Dengan begini misiku untuk hal ini sudah selesai. Selanjutnya aku harus kembali ke rencana awal. Hah, sekalipun berpikir demikian, sampai saat ini aku pun belum menemukan seseorang yang bisa aku jadikan sebagai pacarku agar aku bisa mengerti apa itu cinta.
“hey, kenapa melamun akio? Ini, aaa….”
“apaan sih Cheryl?”
“karena dari tadi kamu bengong terus, sini aku suapin kue. Enak lho…”
“jangan-jangan! aku bisa sendiri kok.”
“cie cie… disuapin?” kata Edward yang lagi-lagi mengejekku.
“apaan sih.” Kataku yang terpaksa menjawab.
“ayo-ayo, silahkan makanannya dinikmati.” Kata anna mempersilahkan.
Waktu pun berlalu begitu cepat.
“cheryl, sudah jam segini. Pulang yuk!” ucapku berbisik ke Cheryl.
“ayo!” jawab Cheryl.
“maaf bu, mungkin sudah waktunya kami untuk pulang.” Ucapku berpamitan karena sekarang memang sudah jam 9 malam.
“sudah mau pulang ya. Padahal sedang asyik-asyiknya.”
“iya bu.” jawab Cheryl.
“mungkin lain kali kami akan main lagi.” Tambah Edward.
“Edward!” ucapku.”
“nggak apa-apa kok, lagian ibu juga senang melihat anna mempunyai teman seperti kalian. Maaf ya kalau tadi ibu sempat mengusir kalian.”
“nggak apa-apa kok bu, sebaliknya kami juga minta maaf karena kami sudah membuat keributan.” Ucapku.
“kalau begitu kami permisi dulu, sampai jumpa lagi di sekolah ya anna!” ucap Cheryl berpamitan.
“iya terima kasih ya.” Jawab anna.
Kami pun akhirnya berjalan pulang.
“wah, nggak nyangka ya, kalau akting anna dengan ibunya tadi begitu nyata.”
“akio, aku rasa tadi memang beneran dan bukan akring”
“serius!”
“buat apa aku berbohong, dan kalau tadi memang acting, apakah di skenario yang kita buat ada adegan menamparnya?”
“iya juga ya. Tapi yang penting mereka sudah berbaikan. Dan dengan kata lain semua usaha kita selama ini tidak sia-sia.”
ada apa kasih tahu dong?
“bukan apa-apa Edward.”
bersambung


Note : Hak Cipta karya tulis ini sepenuhnya milik Hirekija. dilarang melakukan penggandaan atau plagiat dalam bentuk apapun.  cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. 
Continue reading...

Saturday, July 29, 2017

Life Not Equel Math ch 6


Chapter 6 : Marah ya?
“akio, kalau hanya ingincari tahu makanan dan minuman kesukaannya mira, kenapa nggak tanya langsung sama anna saja? Dia pasti akan memberitahukanya dan yang pasti nggak perlu repot-repot berdebat dengan pelayan.”
“iya juga ya. Maaf, nggak kepikiran sampai situ.”
Beberapa saat kemudian pesanan kami pun datang.
"maaf menunggu lama, ini pesanannya."
"terimakasih"
"kalau begitu saya permisi dulu dan selamat menikmati."
Untuk beberapa saat kami pun terdiam untuk meneguk jus yang telah kami pesan.
"jadi..?" tanya cheryl.
"apa..?"
"…selanjutnya kita mau ngapain?" jawabnya menyambung.
"ngapain? Kamu sendiri tahu kan? Tentu saja kita akan mengikuti mira sampai ia pulang."
"terus, bagaimana dengan tujuan awalmu untuk datang ke sini?"
"tentu saja sedang kita lakukan."
"hah? Jangan bilang kalau kamu datang kesini hanya untuk…”
“eich, tunggu sebentar, aku tahu apa yang akan kamu katakan tapi untuk sebagiannya juga salah..”
“maksudmu?”
“memang benar tujuanku datang kesini ada kaitannya dengan mira. Namun, aku juga tidak menyangka kalau kita akan bertemu dengannya disini.. Jadi  ketimbang menebak hadiah yang cocok untuknya tapi belum tentu dia sukai, dan mumpung orangnya ada, kenapa tidak sekalian kita ikuti. Mungkin saja, kita bisa menemukan kunci permasalahan yang terjadi terhadap trauma yang dialami mira.”
”terus, kenapa mengajakku juga?”
“kalau itu,... Karena kamu seorang cewek sama seperti mira, jadi mungkin, jika aku mengajakmu aku bisa memahami apa yang paling disukai seorang gadis, terutama saat ini untuk mira.”
“jadi intinya kamu mengajakku kesini hanya dijadikan sebagai alat ukurmu saja!”
“yahahaha, tidak seperti itu juga sih” aduh kenapa cheryl tiba-tiba marah, apa aku membuat kesalahan ya? Tapi kalau dilihat, ini pertama kalinya aku melihat cheryl marah.
“… kalau tahu begini seharusnya tadi pagi aku tolak saja tawaranmu, kecewa jadinya, aku terlalu berharap…”
“hah kamu tadi bilang apa?”
“bukan apa-apa!”
“kamu marah ya?”
“nggak kok”
“tapi wajahmu bilang begitu, maaf ya kalau aku salah. Tapi, untuk sebagian juga sudah jadi tanggungjawabmu. Kamu nggak lupa kan tugas yang sudah kita buat tadi pagi saat istirahat?”
“iya aku ingat, …ngomong-ngomong, mira sedang menunggu siapa ya?"
"entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi bagaimana kalau ia tidak sedang menunggu seseorang, bagaimana jika ia hanya sedang beristirahat?"
"tapi kenapa raut wajahnya seperti itu? Dan, kalau kamu berpikir dia disini hanya untuk istirahat saja, kenapa kita mengukutinya!"
“tujuan kita dari awal kan mencari tahu hadiah yang pas untuknya, jadi mau tidak mau kita harus mengikutinya.”
“memang nggak ada cara lain apa selain menunggu, kenapa nggak langsung ditanya saja, kenapa harus mengikutinya? Bikin repot saja!"
“lho kenapa jadi marah? Kan kamu sendiri yang mengusulkan untuk membantu anna, tapi kenapa kamu sekarang yang marah.”
“memang aku yang mengusulkan untuk membantunya, tapi aku tidak mengusulkan untuk kamu menipuku!”
“maksudanya?”
“maksudnya ya… ah…! Dasar tidak peka. Lebih baik aku pulang sajalah!”
“hei tunggu!” Aduh, kenapa jadi begini. “pelayan,!”
“ya ada apa?”
“semuanya jadi berapa?” Aku harus mengejarnya.
“semuanya jadi 20 silfar.”
“ini uangnya, terima kasih” ucapku yang kemudian berlari mengejar cheryl.
“kemana ya perginya cheryl? Cheryl” ucapku sambil terus berjalan mencari.
Oh itu dia! “cheryl! Tunggu sebentar.” Akupun segera menghampirinya.
“kenapa kamu marah sih?”
“aku nggak suka saja sama cara kamu?”
“maksudnya?”
“aku nggak suka cara kamu meminta bantuan yang terkesan menutupi apa yang kamu inginkan dari bantuan tersebut. Kamu seolah-olah hanya memperralat seseorang yang kamu mintai bantuan. Begitulah yang tersirat dalam benakku saat mendengar tujuan sebenarmu.”
“terus, salahkah aku?”
“ya jelas salah, apa yang kamu lakukan ini hanya membuat orang yang kamu mintai tolong berpikir tentang sesuatu yang sebenarnya tidak akan kamu lakukan. Dan kamu tahu itu, itu hanya membuat orang tersebut menjadi kecewa.”
”kalau begitu aku minta maaf, aku nggak tahu kalau kamu akan sebegitu kecewanya terhadap apa yang aku lakukan.”
“hm!” Jawabnya ketus.
“ayolah, maafkan aku ya?”
Aduh bagaimana ini, aku sudah buat anak orang marah. Kalau begini terus bisa-bisa cheryl membenciku. Dan kalau seperti itu semua rencana yang dibuat untuk mira bisa-bisa terhambat atau bahkan gagal. Pokoknya aku harus melakukan sesuatu.
“baiklah, karena sebagian juga sudah menjadi tanggungjawabku, jadi akan aku  maafkan. Tapi, dengan satu syarat?”
“apa itu syaratnya?”
“syaratnya mulai dari sini kamu yang harus mengikuti rencanaku, bagaimana, mau?”
“baiklah akan aku ikuti. Terus seperti apa rencananya”
“begini…!” Kata cheryl yang kemudian membisikan sesuatu ke telingaku.
“hah…? Kenapa harus seperti itu”
“itu terserah kamu, mau mengikuti caraku atau tidak?”
“iya baiklah, akan aku ikuti.”
“okey, kalau begitu sebaiknya kamu bersiap-siap sementara aku akan terus mengawasi mira.”
Beberapa saat kemudian akupun sudah ada di pinggir jalan raya dengan mengenakan kostum badut yang diberikan cheryl untuk aku pakai.
“hah, kenapa aku jadi begini sih?, udah panas lagi.”
“sudah nggak usah banyak mengeluh, sebentar lagi mira akan melewatimu, jadi bersiap-siaplah.” Jawab cheryl melalui handphone.
“iya aku tahu.”
Itu dia orangnya “selamat siang?”
“siang, ada apa ya?”
“kami dari perusahaan bedream ingin menawarkan promo gratis besar-besaran.”
“maaf saya tidak tertari.”
Aduh,… “tunggu dulu mbak. Perusahaan kami adalah perusahan swasta  berskala nasional yang bertujuan mewujudkan impian terdalam setiap konsumen dengan biaya terjangkau. Dengan kata lain kami akan memenuhi keinginan anda sebisa mungkin dengan biaya yang cukup terjangkau. Dan karena saat ini perusahaan kami telah memasuki usia yang ke 3 tahun maka kami tengah mengadakan event gratis yang mana mbak bisa mengabulkan impian terdalam mbak tanpa sepeserpun uang yang harus anda keluarkan. Dengan syarat permintaan tersebut tidak diluar nalar.”
“maaf pak, saya tidak tertarik dengan hal seperti itu. Jadi maaf ya.”
“ya kalau begitu, sebagai bahan survey. Mohon tulis keinginan terdalam mbak”
“baik, akan aku tulis mana alat tulisnya.”
“ini mbak.”
“ini, sudah saya tulis. Kalau gitu saya permisi dulu.”
“silahkan mbak.” Okey, semoga saja yang tertulis disini adalah permintaan mira yang sebenarnya.
“bagaimana! Sudah dapat?” kata cheryl yang tiba-tiba muncul dari belakang.
“iya ini sudah aku dapat. Ngomong-ngomong kamu dapat kostum ini dari mana?”
“oh, itu... beberapa hari yang lalu aku dapat kenalan sama orang sini yang mempunyai toko kostum. Kebetulan tokonya sedang sepi jadi aku pinjam saja alih-alih mempromosikan. Bagaimana, cemerlang bukan ide saya?”
“iya, terus catatan ini mau kita apakan?”
“sekarang coba kamu baca?”
“baik akan aku baca...  disini tertulis ‘jangan ikut campur urusan orang lain!’... lho kenapa seperti ini?”
“hmm... kalau seperti ini jalan terbaiknya cuman satu.”
“apa itu?”
“ikhlaskan saja!”
“kenapa seperti itu, kamu juga ikut bertanggungjawab lho”
“iya-iya aku tahu.”
“hm,.. kalau seperti ini nggak ada pilihan lain selain kembali ke plan A”
“maksudnya kita mengawasinya lagi? Kamu nggak sadar ya dengan tulisan itu?”
“iya aku tahu, dan siapa lagi yang mau mengikuti mira. Aku kan Cuma bilang kembali ke plan A. Artinya kita jalan-jalan cari benda yang pas buat mira.”
“oh, begitu ya?”
“iya, ayo! Tapi sebelumnya aku juga mau ganti baju dulu” ajakku menarik tangan cheryl
“kenapa, kan bagus.”
“tapi memakai pakaian seperti ini rasanya seperti dipanggang ”
Aku pun terus memegang tangan cheryl ke berbagai tempat hingga akhirnya sampai di sebuah mall yang cukup besar.
“meneurutmu, hadiah yang cocok untuk mira benda seperti apa? Boneka, cincin, atau apa?”
“kalau aku sih lebih memilih boneka, tapi kalau untuk selera mira aku tidak terlalu yakin?”
“baiklah kita ke toko boneka saja?”
“hah?”
“ada apa, nggak mau ya?”
“bukan begitu, tapi ?”
“kan sudah aku bilang kalau tujuanku meminta kamu menemaniku kesini buat mencari hadiah yang cocok buat mira, jadi setiap pendapat yang kamu lontarkan tentu saja akan aku coba. Paham kan maksudku?”
“iya sekarang aku tahu.?”
“kalau begitu ayo?”
Setelah itu kami pun terus mencari-cari hadiah yang cocok untuk mira.
“wah, lucu-lucu sekali bonekanya?”
“bagaimana? Sudah ada yang cocok tidak menurutmu?”
“entahlah, tapi sebelum kita beli sebaiknya kita lihat-lihat dulu.”
“okey”
“hey...?” kata cheryl sambil melihat-lihat boneka.
“iya?”
“kenapa tidak kamu pilih hadiahnya sesuai dengan kata perasaanmu saja? Bukankah yang terpenting dari sebuah kado itu adalah ketulusan dari perasaan yang memberikan hadiah tersebut?”
“memang benar sih kalau bicara kado, aku pun bisa memilihnya sendiri. Namun, rasanya kurang saja kalau kamu nggak ikut?”
“kenapa?”
“emm alasannya ya.... karna kamu juga punya tanggungjawab yang sama jadi tentu saja aku ajak kamu.”
“oh, begitu ya. Terus, kalau aku tidak punya tanggungjawab yang sama denganmu, apakah kamu juga akan mengajakku?”
“kalau itu tergantung kamu mau ikut apa nggak.”
“lho kok malah balik tanya?”
“ya iyalah, emang harus ada alasan, jika ingin mengajak kamu untuk bersenang-senang?"
“nggak sih”
“lagian kenapa kita jadi membahas ini sih?”
“hahaha....” tawa cheryl yang merespon pertanyaanku.
Mungkin aku juga perlu memberinya hadiah sebagai rasa terima kasih sekaligus ucapan maafku karena telah membuatnya kecewa. Tapi, kalau dipikir-pikir lucu juga sih melihat dia kecawa dengan ajakanku ini. Padahal kan aku Cuma mengajaknya jalan, kenapa harus mengaharapkan sesuatu. Lagian apa sih yang dia harapkan dariku? Hah, entahlah setidaknya aku harus berterimakasih karena masih mau menemaniku meski sebelumnya aku telah membuatnya kecewa.
“cheryl”
“iya?”
“sebentar ya, aku mau ke toilet dulu.”
“okey, tapi jangan lama-lama ya?”
“tenang saja, cuman sebentar kok. Kamu tunggu disini ya” Kataku yang kemudian pergi.
Hmm kira-kira benda seperti apa ya, yang bisa aku berikan untuk dia.” Kataku yang berjalan sambil mencari hadiah yang pas untuk Cheryl.
Kebetulan sekali ada toko aksesoris, aku coba kesana sajalah.
“wah... bagus juga gantungan kuncinya, mungkin ini bisa aku dijadikan hadiah untuknya.”  Hmm, yang mana ya? Jadi bingung milihnya. “yang ini saja.., berapa mbak ini?”
“yang itu 2.5 silfar.”
“ini mbak uangnya.”
“terima kasih.”
“baiklah, sekarang waktunya kembali. Dan semoga saja dia suka dengan hadiah ini.”
“lama banget sih?”
“maaf, tadi toiletnya penuh.”
“sungguh?”
“kalau nggak percaya ayo ikut aku?”
“nggak, nggak, nggak... lagian kenapa aku harus ikut kamu ke toilet?” jawabnya dengan spontan menolak ajakanku.
“kamu sendiri sudah tahu aku ke toilet, masih saja nggak percaya.”
“soalnya lama banget sih? bosan tahu.”
“iya aku tahu, maaf. Terus bagaimana hadiahnya, sudah ada yang cocok untuk mira?”
“bingung, semuanya bagus-bagus.”
“begini saja, kamu pilih 3 benda yang menurutmu paling bagus. Nanti setelah itu akan aku pilih salah satunya yang akan kita beli. Bagaimana?”
“baiklah. Kalau begitu ini, yang ini dan ini.”
sudah nggak ada yang lain?”
“iya sudah”
“kalau begitu aku pilih boneka kucingnya saja. Bagaimana menurutmu?”
“oilihan tepat, dari ketiga boneka yang aku pilih memang boneka ini yang benar-benar membuat saya tertarik.”
“baiklah, kalu begitu kita beli yang ini saja.”
***
“okey, tugas kita untuk mencari hadiah sudah selesai. Sekarang kita mau ngapain?”
“lho kok Tanya aku? Kan kamu sendiri yang mengajak aku?”
“itu tadi waktu aku mau mencari hadiah untuk mira, kalau sekarang ya aku nggak ada rencana”
“kalau nggak ada rencana ya kita pulang saja.”
“beneran pulang langsung?”
“maksudnya?”
“ya, maksudku nggak mau mengabulkan harapanmu terhadap aku?”
“hah, apaan sih!”
“masa lupa sih sama ucapanmu sendiri saat di restoran?” ucapku sedikit meledek.
“emang kapan aku ngomong kayak gitu, perasaan nggak pernah.” Jawab Cheryl dengan wajah memerah.
“ya sudahlah kalau kamu nggak mau ngaku. Ayo!”
“kemana?”
“ya pulanglah, kan kamu sendiri yang minta.”
“oh, ayo.”
“tunggu!” kataku menghentikan langkah Cheryl.
“apa lagi?”
 “nih, buat kamu? Maaf ya, kalau hari ini saya telah membuat harapan palsu. Dan terima kasih karena mau menemani aku meski aku sudah membuatmu kecewa.”
“iya…”
“yaaah, kalau begitu ayo kita pulang.”
bersambung


Note : Hak Cipta karya tulis ini sepenuhnya milik Hirekija. dilarang melakukan penggandaan atau plagiat dalam bentuk apapun.  cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. 
Continue reading...