Saturday, February 24, 2018

Life Not Equel Math ch 12

Chapter 12 : Konyol
Akhirnya selesai juga pelajaran hari ini... kurasa, sekaranglah saatnya, aku harus menahan semuanya agar mau mendengar pendapatku sebelum mereka pulang.
“ehem, perhatian semuanya!” ucapku menarik perhatian semua anak di kelas.
“ada apa akio, tidak seperti biasanya?” tanya Erwin yang duduk di depanku.
“mmm, ada hal yang ingin aku bahas dengan teman-teman semua.”
“memang ada apa?” tanya tasya.
“ini soal kompetisi yang tadi pagi kita bahas?”
“iya, kenapa?”
“setelah aku pikir-pikir kembali. Rasanya aku sudah tidak bisa menolaknya lagi. Karena itu aku akan menerima pencalonan ini.”
“ya memang harus, karena sejak awal kamu sudah tidak punya pilihan lain.” Ucap Edward.
“iya aku juga tahu, tapi jangan berkata seperti itu juga.”
“terus?” tanya ketua kelas.  
“begini, tadi saat jam istirahat, saya sempat ditanya tentang rencana apa yang akan kita buat dalam acara ini. nah, karena ini bukan hanya tugas aku dan Cheryl, jadi kami berdua memutuskan untuk membahasnya bersama kalian semua, bagaimana?”
“bukankah tadi pagi kita sudah membahasnya?”
“itu hanya pembagian tugas, tapi apa yang akan kalian kerjakan, apa kalian sudah tahu?”
“untuk bagian pakaian apakah kalian sudah memiliki rencana tentang pakaian apa yang akan kalian buat untuk kami kenakan dalam kontes busana?”
“sudah.., kami sudah tahu, pakaian apa yang cocok untuk kalian berdua kenakan nanti? Hmmmm, tak sabar untuk melihat kalian berdua mengenakannya.”
“baguslah kalau kalian sudah tahu tapi untuk bagian event dan proposal, apakah kalian sudah memiliki ide untuk hal tersebut. Karena pada dasarnya dua hal tersebutlah inti dari kegiatan ini.”
“tenang saja, kamu kan pintar. Jadi sudah pasti kamu akan memikirkan tema yang cocok untuk kita kerjakan, iya kan teman-teman?”
“iya, benar. Siapa lagi coba, yang cocok menjadi raja dalam kelas ini?”
“hmmm, begitu ya? Jadi, menurut kalian aku pantas jadi raja kalian ya? Kalau begitu, sebagai permulaan bagaimana kalau kita coba dulu peran kita, aku jadi raja dan kalian jadi rakyatku.”
“boleh, apa yang harus kita lakukan?”
“mmm, apa ya..? bagiamana kalau push up seratus kali untuk laki-laki dan dua puluh kaliskot jump untuk perempuan? Kecuali Cheryl, karena dia ratuku.”
“apa maksudmu!” ucap ketua kelas.
“iya benar, kenapa kamu berkata seperti itu?”
“mau protes, marah? bukankah kalian yang memilihku? Jadi, kalian hanya perlu menuruti perintahku dan jangan membantah… dengar dengan baik-baik ya, jika kalian mengajukanku dalam kompetisi ini semata-mata untuk menghindar agar kalian tidak terpilih. Lebih baik kita berhenti saja disini. Karena dengan begitu, aku akan terbebas dari kegiatan yang dipaksakan ini!” ucapku tegas Karena rasanya aku mulai marah dengan tingkah mereka yang menganggapku sebagai benda.
“maaf akio, aku tidak bermaksud memaksamu?”
“tidak-tidak, ini bukan salahmu cheryl. Disini aku hanya menegaskan saja, kalau aku bukan alat! Apakah aku peringkat ke dua di sekolah ini atau terakhir,itu terserah saya dan bukan hasil dari meminta-minta ke kalian. Jadi, jika kalian tidak terima dengan ucapanku ini, silahkan gantikan aku! Tapi, jika kita ingin lanjut, maka pikirkan lagi cara untuk kalian bertindak dan menjaga mulut kalian!” ucapku yang kemudian meninggalkan ruang kelas.
Wahhh… kenapa aku tadi bicara seperti itu. Biarlah,sebagian juga salah mereka. Aku tidak meminta untuk diperlakukan khusus atau dihormati secara berlebihan. Hanya saja cobalah untukmenjaga etika jika ingin meminta atau melakukan sesuatu kepada orang lain.
“tunggu aku akio! Kenapa kamu bicara seperti itu di depan mereka, kamu masih marah denganku ya?”
“tidak, siapa yang marah denganmu?”
“terus tadi apa, bukankah yang pertama kali mengusulkan kamu dalam kompetii ini adalah aku. Jadi kenapa kamu marah dengan mereka? Kenapa bukan denganku? Apa kamu takut denganku?”
“aku tidak takut denganmu dan memang benar kamulah yang pertama kali mengatakan dan mengusulkan aku dalam kompetisi ini, tapi itu hanya masalah perbedaan waktu, jikapun saat itu kamu tidak mengusulkan aku, tentu saja mereka akan tetap mengusulkan aku juga. Bukan karena aku percaya diri atau bagaimana, namun karena akulah yang paling menonjol di kelas dalam hal akademis, sehingga mereka akan memilihku dalam acara ini.”
“terus kenapa kamu marah, bukankah kamu juga sudah menerimanya?”
“aku marah karena aku diperlakukan khusus oleh mereka” ucapku.
“bukankah bagus, kamu mendapat perlakuan khusus oleh teman-temanmu?”
“bagus, jika mereka tidak memiliki niat tersembunyi dalam perlakuan khusus itu. Tapi jika mereka memiliki niat tersembunyi. Apakah itu bagus, memang banar hidup manusia tidak lepas dari saling membantu, namun bukan berarti dapat diperalat.”
“kalau seperti itu, bukankah kalimat itu seharusnya untuk kamu sendiri?” ucap Cheryl.
“kenapa?”
“kamu lupa ya, bagaimana kamu memperalat aku saat kamu meminta jalan denganku padahal kamu hanya meminta untuk ditemani menguntit si mira?”
“hah… kalau itu… aku tidak berniat seperti itu, aku hanya…”
“hanya apa, pada akhirnya kamu juga memperalat.”
“jadi kamu lebih membela mereka?”
“ini bukan masalah aku membela kamu atau mereka, tapi ini masalah bagaimana menjaga kata-kata agar sejalan dengan perbuatan”
“tapi…”
“tapi apa?” potong Cheryl.
“ok, aku minta maaf atas tindakanku yang dulu pernah memperalatmu!” ucapku yang kemudian meninggalkannya.
“hah… akio… tunggu aku!”
“ada apa lagi?”
“aku tidak bermaksud seperti itu/”
“lagian, kenapa sih kamu masih mengingat kejadian itu?”
“memang salah ya, kalau aku mengingatnya.”
“bukan begitu… hanya saja, kenapa yang kamu ingat hanya dibagian itu saja, apa tidak adakah kenangan yang lainnya?” 
“ada, namun itu yang paling tidak bisa aku lupakan.”
“memang apa sih, yang saat itu kamu harapkan dari aku sampai-sampai kamu merasa diperalat? Bukankah sebelumnya kita sudah sepakat kalau saat itu kita akan membantu anna. Tapi kenapa kamu masih mempermasalahkan hal sepele seperti itu?”
“itu bukan hal sepele! Karena itu pertama kalinya kamu mengajakku jalan setelah sekian lama.”
“apa maksudmu pertama kali setelah sekian lama, memangnya kita pernah bertemu sebelum kamu pindah ke sekolah ini?”
“hah… nggak jadi, tolong lupakan yang tadi!” ucapnya yang justru sekarang dia yang pergi.
“apa maksudmu? Hei Cheryl, tolong jelaskan?”
“tolong lupakan saja pembicaraan yang tadi!”
“ayolah..?”
“sudahlah, aku tidak mau membahas itu lagi…”
***
Hmmm… kira-kira, apa ya maksud Cheryl tadi siang, apa aku telah melupakan sesuatu dimasa lalu, lalu jika cheryl merasa kita pernah bertemu sebelumnya, kapan pertemuan itu, saat sekolah menengah pertama-kah, sekolah dasar-kah atau saat aku masih kecil?Tunggu sebentar, Cheryl berasal dari fusioneren tempat dimana ayahku dulu bertugas sebagai perwakilan pertama dari leute untuk misi perdamaian, jika memang Cheryl adalah teman masa kecilku saat berada disana mungkinkah aku yang sebenarnya dia cari? Tidak, tidak... gadis itu bernama aya bukan Cheryl, jadi mana mungkin dia mencari aku. Ini mungkin hanya pemikiranku saja lantaran misi utama saya masih belum ada peningkatan sama sekali. Dan jika dia aya mana mungkin dia datang jauh-jauh kesini hanya untuk bertemu dengan saya namun justrus merahasaiakan identitasnya terhadapku?. Pasti dia salah orang…
dan kalau dipikir lagi, bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan besok terhadap teman-teman dikelas, bagaimana aku harus berhadapan dengan mereka setelah ucapanku tadi siang?
“akio..! makan malamnya sudah siap, ayo kita makan!”
“iya bu, sebentar…”
Aku pun segera keluar menuju meja makan.
“hah, Ide seperti apa yang bisa aku berikan untuk mereka, sekalipun aku tak memintanya namun tetap saja aku harus melakukannya.”
“Ada apa, bukannya bersyukur tapi hanya mengeluh di depan makanan.” Tanya ibuku.
”Siapa yang mengeluh?”
“Itu tadi apa?”
“Aku hanya bingung saja bu.”
“Bingung kenapa?”
“Ibu tahu bukan, sebentar lagi hari perdamaian?”
“Oh, begitu ya... jadi kamu sedang memikirkan siapa saja gadis yang akan memberimu cokelat. Kalau tidak salah hari perdamaian juga bertepatan dengan hari valentine yang sering dirayakan oleh banyak pasangan di masa lalu bukan?”
“Bukan itu bu, tapi tentang ide apa yang bisa aku ajukan untuk acara di sekolah. Ibu tahu sendiri bukan, setiap hari perdamaian pasti sekolahku mengadakan pemilihan raja dan ratu perdamaian?”
“Oh itu ya, kalau tidak salah acaranya debat bukan?”
“Iya bu, makanya aku bingung mau mengangkat tema apa untuk debat nanti. Sedangkan acaranya bukan cuma berdebat tapi masih ada yabg lainnya juga yang pada akhirnya saling berkaitan.”
“Mmm... Terus siapa yang jadi pasangan raja dan ratunya?”
“kalau itu saya tidak bisa memberitahukannya…”
“mmm… jadi kamu nggak kepilih ya? Nggak apa-apa, tahun depan masih ada kesempatan…” ucapnya memberiku semangat.
Kenapa aku harus berkecil hati, justru aku pusing seperti ini karena terpilih bu… “hah, bagaimana ini…”
“ya sudah, kalau begitu ayo makan dulu, Mikirnya nanti.”
“Iya bu.”
***
Seperti hari-hari sebelumnya, kini aku sudah berada di dalam kelas menunggu jam pertama dimulai. Tapi, entah kenapa suasana disini terasa begitu dingin, separah inikah efek dari perkataanku kemarin? jika iya, apa yang harus aku lakukan sekarang, sedangkan aku juga sudah terlanjur malu lantaran perkataan ku kemarin yang terdengar begitu kekanak-kanakan. Mungkin cheryl bisa membatuku. Tapi, sedari tadi dia tidak menyapaku dan bahkan ketika aku memanggilnya, ia justru memalingkan wajahnya. Bagaimana ini, mungkinkan masa-masa sekolahku yang normal akan berakhir hari ini?
Misi mencari arti cinta belum selesai, lagi-lagi aku harus terjerat dengan berbagai macam urusan yang semakin membuatku terpojok. Apa yang harus aku lakukan, lalu bagaimana dengan kelanjutan misi mencari arti cinta yang selama ini aku lakukan jika masa sekolah normalku akan berakhir hari ini.
Aku harus melakukan sesuatu, tapi sesuatu seperti apa? Sedangkan suasana kelas sudah seperti ini. "Hah..."
Apapun itu, yang paling utama sekarang adalah memastikan terlebih dahulu apakah cheryl marah terhadapku atau tidak? Untuk masalah kelas mungkin bisa aku selesaikan jika aku bicarakan dengan cheryl, mau bagaimana pun juga dialah yang terpilih menjadi ratuku. Jadi sudah sepantasnya aku meminta saran terhadapnya.
"Hey!" Ucap edward sambil menepuk bahuku yang membuatku terkejut.
"Ada apa, nggak seperti biasanya,menunggu jam awal dengan diam tanpa kata?"
"Terserah aku!"
"Wuss, raja-nya marah!"
"Ngomong-ngomong, kamu nggak marah ya?"
"Marah, kenapa, kepada siapa?" Tanya edward.
"Ya marah kepadaku lah, soal perkataanku kemarin?"
"Apa yang kamu katakan soal kompetisi sudah benar, jadi kenapa harus marah. Memang, ada beberapa kalimat yang membuat saya marah, tapi kalau melihat kelanjutan kalimatnya, rasanya ok-ok saja."
"Syukurlah, kalau begitu bukan saya yang menyebabkan kelas menjadi seperti ini."
"Siapa bilang ini bukan kesalahanmu? justru karena perkataanmu kemarin, kelas menjadi pecah seperti ini! apalagi saat ada yang tahu kalau kamu bertengkar dengan cheryl lantaran masalah kemarin, semuanya jadi kacau dan saling menyalahkan."
“terus aku sekarang harus bagaimana?”
“entahlah, aku juga tidak tahu, tapi yang pasti kamu harus segera menyelesaikan masalah ini sebelum menjadi besar!” tegas Edward yang membuatku semakin tersudut karena ulahku sendiri.
Bel tanda masuk akhirnya berbunyi.
“ingat akio, kamu harus segera menyelesaikan masalah ini!” ucap Edward memperingatkanku.
“iya aku tahu.”
***
Akhirnya istirahat juga, berkat Edward yang menginterogasiku habis-habisan, akhirnya aku tadi pagi kehabisan waktu untuk memastikan apa yang sedang dialami Cheryl hingga dia mengacuhkanku. Makanya saat ini aku putuskan untuk menemuinya dan meminta penjelasan darinya. Mungkin dengan demikian aku juga bisa menyelesaikan masalah ini.
“Cheryl!” panggilku.
“hey, Cheryl!” panggilku mengulang sambal memegang bahunya.
“ada apa?”
“ada apa, seharusnya aku yang berkata begitu. Kamu kenapa dari pagi mengacuhkan aku? Kamu masih marah ya soal yang kemarin?” ucapku.
“nggak, siapa yang marah?” ucapnya dengan wajah memerah.
“wajahmu kenapa, kamu sakit?”
“aku tidak apa-apa.”
“kalau tidak apa-apa kenapa dari pagi kamu terus mengacuhkan aku?”
“memang ada apa?” tanya Cheryl.
“mmm, bagaiamana ya aku harus mengatakannya? Ayo ikut denganku.” Ucapku membawanya ke suatu tempat.
“ada apa sih”
“pokoknya ikut denganku.”
“iya aku akan ikut, tapi jangan ditarik seperti ini juga, malu tau.”
“iya maaf…” ucapku.
Akupun berhasil membawanya ke belakang sekolah, tempat dimana siswa jarang datang kesini.
“ada apa sampai membawaku ke tempat sepi seperti ini!”
“jangan marah dulu, masalahnya ini sangat penting jadi aku tidak bisa membicarakannya di tempat yang ramai.”
“iya, aku paham. Jadi ada apa?”
“sebelumnya aku minta maaf soal yang kemarin dan selanjutnya aku mau minta tolong kepadamu.”
“mau minta tolong apa?”
“ini menyangkut masa depanku disekolah ini. aku tidak mau kelulusanku dari sekolah ini meninggalkan kesan yang memalukan. Jadi aku butuh bantuanmu untuk bisa menyelesaikan masalahku ini.”
“kenapa harus aku, lagian apa sih masalahnya sehingga terlihat separah ini?”
“tolong bantu aku untuk meminta maaf ke teman-teman di kelas!”
“hah…”
“kenapa hah…”
“soalnya, lucu saja, setelah kemarin kamu marah dengan hebatnya lanyaknya seorang raja. Sekarang kamu mau minta bantuanku untuk meminta maaf ke meraka? Yang benar saja?”
“ayolah, aku juga sadar kalau tindakanku kemarin sangat konyol dan aku tidak ingin karena tindakanku yang kemarin, kelas kita menjadi kelas yang tidak bisa terlupakan dalam arti negatif.”
“kenapa kamu tidak langsung meminta maaf sendiri saja!”
“soalnya aku malu dan ini juga bukan hanya masalah meminta maaf tapi juga ada kesalahpahaman yang harus kita selesaikan dalam kelas.”
“kesalahpahaman apa dan kenapa aku yang harus membantumu?”
“kamu tahu alasan kenapa hari ini suasana kelas menjadi seperti ini?”
“nggak, memang kenapa?”
“coba kamu bandingkan suasana kelas hari ini dengan hari-hari sebelumnya? Berbeda bukan, biasanya sebelum jam pelajaran dimulai semua orang membentuk kelompok masing-masing dan saling berbincang satu sama lain, tapi hari ini berbeda, mereka hanya duduk diam dengan ekspresi dingin seperti akan menghadapi ujian, sedangkan dalam keadaan akan ujian yang sebenarnya pun mereka tidak bertingkah seperti ini.”
“iya juga. Terus apa hubungannya dengan masalah yang sedang kita bahas.”
“hubungannya karena ini semua ulah kita.”
“lho, kenapa jadi kita, bukankah kamu yang kemarin memulainya? Lalu kenapa aku ikut juga?”
“soalnya mereka mengira kalau kemarin aku bertengkar denganmu lantaran masalah pencalonan.”
“hahaha… mana mungkin mereka menjadi seperti itu hanya pertengkaran kita, memangnya kita siapa sehingga bisa membuat kelas menjadi seperti ini.”
“terserah kamu mau percaya atau tidak, intinya aku butuh bantuanmu.”
“sebelumnya aku mau tanya, kamu tau masalah ini dari siapa?” ucap Cheryl.
“aku tau masalah ini dari edward.”
“jadi kamu percaya dengan perkataan Edward?”
“ya, aku percaya, sekalipun tampang dan cara bicaranya tidak bisa dipercaya tapi aku sudah mengenalnya sejak sekolah menengah pertama. Jadi aku tau seperti apa saat dia bercanda dengan saat dia serius.”
“mmm… begitu ya, baiklah aku akan membantumu.”
“syukurlah kalau kamu mau. Ngomong-ngomong kenapa tingkahmu dari pagi berbeda sekali. Biasanya kamu selalu memperhatikan ketika orang lain memanggilmu dan cara berbicaranya juga halus terutama ketika bersamaku. Tapi, kenapa hari ini kamu berbeda?’
“mau aku bantu tidak!”
“iya… tentulah”
“ya sudah nggak usah banyak tanya!”
kenapa sih?
***

Note : Hak Cipta karya tulis ini sepenuhnya milik Hirekija. dilarang melakukan penggandaan atau plagiat dalam bentuk apapun.  cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. 
Continue reading...

Monday, December 11, 2017

Life Not Equel Math ch 11


Chapter 11 : Kesalahpahaman
Sekarang sudah memasuki jam istirahat, dan aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan saat ini. Karena semua berjalan begitu saja tanpa bisa aku kendalikan.  Sebenarnya setelah jam istirahat dimulai aku berencana ingin memperkenalkan Sara kepada teman-teman. Namun, kalau sekarang aku bertemu dengan mereka, pasti mereka akan membicarakanku. Bagaimana ya, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa, tapi bagaimana dengan Cheryl? Memang benar sebagian merupakan kesalahan cheryl. Namun, keterlibatan cheryl dalam pencalonan ini juga kesalahanku.
“akio, ada orang yang sedang mencarimu!” ucap seseorang dengan menepuk bahuku..
“siapa?”
“itu orangnya.” Jawab rendi sambil menunjuk ke seseorang yang ternyata anna..
“lama sekali sih, semua sudah menunggu di taman, ayo!” Ucap Anna sambil menarik tanganku.
“tapi..”
“sudah nggak ada tapi-tapian... ayo!”
“iya, iya... sepertinya tidak ada waktu untuk aku berfikir, baiklah aku akan kesana.” Ucapku mengiyakan..
Aku juga sudah berjanji akan bertemu dengan Sara di taman, kalau aku mengingkarinya bisa-bisa dia akan merasa ditipu.
“kenapa sih?” tanya anna.
“nggak ada apa-apa, Cuma bimbang saja”
“oh... Bisa bimbang juga ya?”
“kamu pikir aku apa?”
“marah, bimbang karena apa sih?” ucap anna.
“bukan apa-apa.”
“aku dengar kamu terpilih sebagai perwakilan kelasmu untuk kompetisi pemilihan raja dan ratu perdamaian?” Ucap anna.
“ya, berkat cheryl dan yang lainnya, aku terpilih sekalipun aku tidak menginginkannya!”
“tapi bukankah cheryl ikut terpilih karena kamu, jadi kenapa marah?”
“memang benar aku mengajukan cheryl sebagai pasanganku, tapi itu cuman sekedar cara agar dia berhenti memojokkanku.”
“tapi kamu berhasil kan.., membuatnya diam?”
“iya, memang benar dia terdiam. Tapi..”
“tapi apa? Terus kenapa kamu marah, apa kamu membenci cheryl?”
“tidak, bukan seperti itu. Aku tidak membencinya.”
“terus kenapa, atau jangan-jangan kamu menyukai cheryl?”
“hah..!” mungkin kalau aku tahu apa itu cinta, tapi saat ini aku sendiri juga tidak tahu apa itu cinta?
“kenapa hah? Aku bertanya, kamu suka atau membencinya?”
“kalau cinta, aku tidak tahu. Tapi, kalau membencinya, tidak mungkin aku bisa membencinya?”
“terus kenapa kamu marah sama dia?” tanya anna.
“marah? Siapa yang marah?”
“hah… kalau begitu setelah sampai disana, cepat kamu jelaskan sejelas-jelasnya ke Cheryl!”
 “jadi cheryl mengira kalau aku sedang marah sama dia? kenapa sih, emang aku melakukan apa sampai-sampai dia mengira kalau aku marah?”
“ayo cepat, nggak usah banyak bicara! Intinya nanti kamu harus menjelaskannya, paham!”
“iya, akan aku jelaskan.”
Kami berdua pun akhirnya sampai di taman sekolah.
“maaf Cheryl menunggu lama, ini orangnya.” Ucap Anna dengan lembut, “ayo, cepat kamu jelaskan!”
“iya akan aku jelaskan. Emm… Cheryl…”
“maaf, aku benar-benar minta maaf!” ucap Cheryl yang tak kusangka dia meminta maaf dengan ekspresi yang begitu takut dan sedih.
“maaf, aku bukan bermaksud menyudutkanmu dengan keputusan sepihakku, aku hanya ingin akio menjadi lebih terang lagi dengan menjadi perwakilan raja untuk kelas kita, aku tidak bermaksud apa-apa.” Tambahnya.
“kenapa kamu minta maaf?”
“karena kamu marah.”
“marah, kenapa aku marah? Memang benar tadi aku sempat kesal terhadapmu, namun bukan berarti aku marah. Dan itu juga sesaat. Terus kenapa kamu menganggap kalau aku sedang marah?”
“soalnya, karena aku kamu dipaksa menjadi perwakilan kelas walaupun kamu tidak menyukainya. Makanya kamu marah dan tidak mau menjawab serta mendengarkan ucapanku.”
“kapan?”
“tadi, sesaat setelah bel istirahat berbunyi”
“begitu, maaf karena perilaku saya kamu jadi salah paham. Alasan  kenapa aku tidak menjawab ataupun mendengarkan ucapanmu, karena pada saat itu aku sedang tenggelam dalam pikiranku sendiri, makanya aku tidak merasakan keadaan disekitarku.”
“syukurlah kalau kamu tidak marah kepadaku.”
“kenapa aku harus marah, kalaupun aku marah tentu bukan kamu saja yang akan membuatku marah tapi semua anak di kelas kita yang telah memilihku. Makanya kamu tidak perlu cemas tentang masalah pencalonanku. Dan justru sebaliknya aku yang seharusnya minta maaf ke kamu , karena keegoisanku kamu ikut terpilih sebagai pasanganku. Jadi, kalau kamu tidak suka dengan keadaan ini, nanti akan aku bicarakan ke wali kelas kita agar pencalonannya kita ulangi lagi. Bagaimana?”
“jangan-jangan, kamu nggak usah melakukannya! Aku nggak apa-apa kok kalau harus jadi pasanganmu di acara ini.” ucap Cheryl yang tampak agak malu.
“cie cie...! kalau begitu selamat ya atas pencalonan kalian dan semoga langgeng.” seru Anna yang tampaknya sudah tidak marah lagi.
“apaan sih?”
“anna, sudah nggak usah becanda. Masalah baru selesai, kamu jangan menambah masalah lagi!” ucapku.
“iya, begitu saja marah!”
“hampir lupa, sebentar ya aku akan segera kembali!” ucapku.
“mau kemana?”
“Cuma sebentar, tunggu ya?” ucapku yang kemudian berlari.
Dimana ya Sara? Semoga saja ia belum kembali ke dalam kelasnya. Itu dia “Sara!” ucapku sambal berlari.
“maaf ya lama menunggu, tadi ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan.”
“iya nggak apa-apa, jadi kita mau ngapain ke tempat ini?”
“kok bicaranya begitu, ini kan masih di area sekolah?”
“iya aku tahu, tapi kita mau ngapain?”
“ayo ikut aku!” ucapku sambal mearik Sara.
“kemana?”
“sudah ikut saja.” Lanjutku sambal menggandeng Sara ke tempat Anna dan Cheryl.
“nah, sekarang kita sudah sampai, maaf sudah menunggu.”
“ini siapa akio?” tanya anna.
“perkenalkan, ini Sara dan kelas 2E dan Sara ini Cheryl teman sekelasku, dan ini Anna dari kelas 2A.”
 “salam kenal.”
“salam kenal juga” jawab Anna dan Cheryl.
“kenapa tiba-tiba memperkenalkanku dengan teman-temanmu” bisik Sara
“tenang saja mereka orang baik kok” ucapku meyakinkan agar Sara tidak grogi.
“akio, ternyata kamu playboy ya, pertama Cheryl, kemudian aku setelah itu Sara terus gadis kelas mana lagi yang akan kamu incar?” ucap Anna.
“kalau ngomong jangan seenaknya bikin orang salah paham. Siapa yang playboy, atau jangan-jangan kamu menyukaiku ya?”
“hm...! siapa lagi yang suka denganmu. Suka juga pilih-pilih dan nggak mungkin sama laki-laki yang nggak bertanggungjawab sepertimu!”
“emang dia melakukan apa sama kamu?” tanya Sara.
“dia mau jadi pahlawan dengan menolongku tapi akhirnya justru aku yang menolongnya Aneh dan nggak bertanggungjawab bukan?”
“okey, kalau kamu seperti itu, selanjutnya kalau ada masalah yang menimpamu lagi aku nggak akan membantunmu.”
 “siapa juga yang meminta bantuanmu”
“sudah jangan ribut, kayak anak kecil saja!” bentak Cheryl.
“ngomong-ngomong kamu... Sara yang dapat peringkat 1 paralel berturut-turut selama 2 tahun ini bukan?” tanya anna.
“iya benar”
“wah… hebat sekali, bagimana sih caranya agar kamu dapat nilai sempurna terus menerus?”
“makanya belajar, jangan Cuma ngajak berantem!” ucapku.
“aku nggak nanya kamu!”
“aku cuman suka membaca makanya setiap ada pertanyaan hampir semua jawaban sudah ada dalam benak saya.”
“begitu ya, kapan-kapan ajari aku ya” pinta anna.
“iya!”
“terus ngomong-ngomong bagaimana kamu bisa berkenalan dengan laki-laki ini?” tanya Anna sambil menyindirku lagi.
“hei aku punya nama!”
“awalnya sih kami bertemu di perpustakaan”
“begitu ya, terus menurutmu dia bagaimana?” tanya anna.
“hei aku ada disini, kenapa sih yang dibahas cuman masalahku saja?”
“sudah orang luar diam saja!”
“tapi aku orang yang sedang kalian bahas!”
“menurutku… bagaimana ya menjelaskannya?”
“nggak usah malu-malu atau takut, anggap saja dia nggak ada disini.”
“Cheryl, bagaimana ini. bantuin aku, tolong jangan biiarkan Anna terus-menerus merusak harga diriku di depan Sara!”
“Cheryl, kamu nggak usah ikut campur! Ini demi keamanan kita semua” ucap anna.
“kamu dengar kan? Jadi maaf saat ini aku nggak bisa bantu kamu akio. Dan sebenarnya aku juga penasaran dengan pandangan orang lain terhadap kamu, jadi maaf ya.”
“ayo lanjutkan!” perintah Anna yang benar-benar membuatku terpojok.
“menurutku akio orangnya pemaksa dan selalu ikut campur masalah orang lain.”
“benar kan, makanya mulai sekarang kita harus berhati-hati dengan akio, soalnya dia sudah tertular virusnya Edward. Atau jangan-jangan, Edward seperti itu juga karena akio? Wah gawat ini” ucap Anna.
“hah, sekarang harga diriku tak ubahnya seperti virus. Tak berguna dan hanya menyakiti orang lain...” uapku menyerah untuk berargumen.
“tapi meski begitu, akio orangnya baik. Dia mau membantuku mencarikan jalan keluar untuk masalah yang selama ini aku alami dan tak bisa aku selesaikan. Dan lebih dari itu, dia adalah orang pertama yang benar-benar mau menjadi temanku. Jadi menurutku dia adalah orang yang bertanggung jawab.”
“hmm… begitu ya, sekarang bersyukurlah karena Sara sudah membantumu.”
“terima kasih Sara, terima kasih, berkatmu harga diriku bisa tertolong dihadapan perempua-perempuan ini!”
“ kalau begitu aku tarik kembali ucapanku kalau kamu adalah virus. Sekarang aku mengerti kalau kamu bukan virus, kamu adalah pengganggu.”
“itu sama saja anna!”
“hahaha…” tawa semua orang.
“mumpung masih jam istirahat bagaimana kalau kita makan dulu?” tawarku.
“iya benar aku juga sudah tidak bisa menahan rasa laparku.” Ucap Cheryl.
“kamu bilang seperti itu, terus mana makananmu?”
“oh iya aku lupa. Karena kamu tadi menarikku ke sini dengan paksa makanya aku lupa membawanya.”
“siapa suruh melamun, kan sudah kesepakatan kita kalau setiap jam istirahat kita akan berkumpul dan makan disini?”
“iya, iya aku tahu. Kalau begitu aku ambil dulu ya makananku dikelas.”
“aku juga mau ke kantin untuk membeli makanan.” Sahut Sara.
“sudah tidak ada waktu, karena beberapa menit lagi jam istirahat akan berakhir.” Ucap Anna.
“tenang saja, aku bawa lebih kok makanannya. Ayo silahkan!” ucap Cheryl.
“baiklah kalau begitu, ayo Sara kita makan.” Ucapku mengajak Sara.
Syukurlah rencanaku berjalan dengan lancar, dengan begini Sara mungkin akan mulai mengerti tentang bagaimana menyenangkannya memiliki teman yang bisa diajak melakukan berbagai macam hal bersama.
“bagaimana Sara?” tanya Cheryl.
“enak, aku suka.”
“syukurlah kalau kamu suka.”
“ngomong-ngomong apa yang akan kalian berdua tampilkan dalam sesi presentasi?” tanya Anna yang tiba-tiba membahas kompetisi pemilihan raja dan ratu perdamian.
“entahlah, karena aku terpilih bukan karena kehendaku, maka sampai saat ini aku belum ada bayangan tentang apa yang akan aku presentasikan.”
“maaf…”
“enggak, enggak, enggak… ini bukan salahmu Cheryl. Aku hanya belum ada bayangan saja jadi nggak perlu cemas.”
“kalau kamu Cheryl?” tanya anna.
“sama, belum ada bayangan. Karena terlalu fokus mengajukan akio agar jadi raja, aku sendiri tidak terlalu memikirkan apa yang akan aku lakukan jika aku yang jadi pasangan rajanya.’
“hah, kalian berdua? Waktunya singkat lho, cuman seminggu untuk mempersiapkan segala sesuatunya, dan  selanjutnya kalian harus siap apapun yang terjadi.”
“iya-iya kami tahu, kamu sendiri bagaimana, apa yang akan kelas kamu presentasikan nanti dalam kompetisi ini?”
“belum tahu.” 
“kalau begitu jangan tanya kami jika rencana kelasmu sendiri belum tahu!”
“apa salahnya kalau aku tanya, terus aku juga tidak ikut jadi mau tahu atau nggak itu terserah akulah, hehehe… maaf Cheryl, tapi kalimat tadi aku tunjukan untuk akio”
“tapi itu berlaku juga untuk Cheryl tahu!” jawabku.
“oh, begitu ya. Sorry!”
“jadi kalian berdua dicalonkan dalam pemilihan raja dan ratu perdaimaian ya, selamat ya?”
“hehe… bagaimana ya menjawabnya…. Sebenarnya, aku juga tidak tertarik untuk mengikutinya, tapi mau bagaimana lagi satu kelas sudah memilihku” ucapku yang memang bingung harus berbuat apa.
“jangan besar kepala, baru dipercaya kelas saja sudah sombong!” ucap Anna yang lagi-lagi perkatannya begitu menusuk.
“siapa yang sombong?”
“tadi apa, kalau bukan sombong?”
“terus aku harus merespon seperti apa”
“sudah, nggak usah ribut! Dari tadi nggak ada habis-habisnya mempermasalahkan hal sepele.”
“iya, kenapa sih dari tadi kamu ingin ngajak berantem terus? Ada masalah apa sama aku.”
“nggak ada apa-apa, cuman ingin tau saja bagaimana reaksi kamu saat marah”
“sekarang aku sudah benar-benar marah, puas!”
“hehehe…”
“ngomong-ngomong benar juga kata anna, apa yang akan kita presentasikan nanti akio?” tanya Cheryl.
“entahlah, tapi yang pasti ini bukan Cuma tugas kita berdua saja, ini juga tugas kelas kita. Jadi, kalau mau membahasnya sebaiknya kita bahas nanti bersama teman-teman yang lainnya.”
“baiklah kalau kamu seperti itu.” Jawab Cheryl.  
 Tak terasa bel tanda jam istirahat telah berbunyi. Perbincangan kami berempat pun akhirnya berakhir.
“kalau begitu kita berpisah dulu ya, besok kita bertemu lagi disini di jam yang sama pula.” Ucap Cheryl mengakhiri.
“okey.”
“kamu juga Sara?” ucapku.
“aku?”
“iya, karena kamu mulai sekarang adalah teman kami, jadi kamu harus ikut kami juga.” Sahut anna.
“terus terima kasih juga anna, berkatmu kesalahpahaman diantara aku dan akio akhirnya selesai dengan cepat.”
“iya nggak apa-apa. Kalau begitu sampai besok ya?” ucap Anna mengakhiri pertemuan saat itu.
Kini aku pun tengah berjalan bersama Cheryl. Dan karena kesalahpaman tadi , rasanya aku agak canggung juga untuk berbicara dengannya.
“semakin meriah juga kelompok kita ya?” ucap Cheryl memecah kekhawatiranku..
“iya…”
“terus begini, mmm… karena beberapa minggu ini kita akan bekerja sama terus-menerus, jadi mohon kejasamanya ya?”
“sama, aku juga… dan .  aku juga minta maaf untuk yang tadi.”

“nggak apa-apa kok, lagian itu kan Cuma kesalahpahaman saja, jadi nggak usah kamu pikirkan lagi.”
***

bersambung



Note : Hak Cipta karya tulis ini sepenuhnya milik Hirekija. dilarang melakukan penggandaan atau plagiat dalam bentuk apapun.  cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. 
Continue reading...