Sunday, July 9, 2017

Life Not Equel Math ch 5

Chapter  5:  seandainya
“pokoknya kita harus cepat soalnya anna pasti sudah menunggu kita.” Ujar cheryl .
Karena kelamaan bercanda, kami takut anna sudah menunggu lama sehingga kami pun berlari .
“hei....” sapa anna yang rupanya sudah menunggu
“maaf ya kami telat? Soalnya tadi ada penggangu sih.” Ujarku menjelaskan situasi.
“nggak apa-apa kok. Terus ini siapa?”
“ya ini dia orangnya.”
“hehehe... perkenalkan nama saya edward, saya sahabat karibnya akio.”
“sahabat, sejak kapan kita jadi sahabat?”
“kejam sekali.... tapi begitulah akio.” Jawab edward.
“anna...  senang berkenalan denganmu.”
“ngomong-ngomong katanya mereka berdua mau berkunjung ke rumahmu, aku boleh ikut tidak?”
“celamitan amat sih kamu?”
“nggak apa-apalah?”jawab edward.
“boleh.”
“dengar kan, orangnya saja boleh, kenapa kamu melarang aku akio?”
“terserah kamu.”
“kalau begitu, ayo kita pulang.” Celoteh edward.
“pulang kemana?” jawabku.
“tentu saja ke rumah anna?”
“sejak kapan rumah anna jadi rumahmu?”
“masalah amat sih buatmu? Intinya begitulah.”
“hahaha” anna dan cheryl tertawa.
“lihatkan harga diriku jadi turun dihadapan wanita-wanita cantik ini.”
“huh... edward, edward sejak kapan kamu punya harga diri?”
"Stop! sesama tak punya harga diri jangan bertengkar"  cegat cheryl yang terdengar lebih menyakitkan
“lihat kan aku jadi ikutan kena?” kataku.
“salah siapa?”
“sudah jangan bertengkar atau kalian mau melihat kemarahanku” ancam anna.
Gawat kalau dia sampai marah lebih baik aku nurut. “yes mom!” ucapku serentak dengan edward yang sadar akan kekuatannya.
***
Setelah berjalan cukup lama akhirnya kami sampai di rumah anna.
“nah, ini dia rumah saya, ayo masuk!”
kami pun terkejut dengan kemegahan rumah yang bagaikan sebuah istana yang cukup besar.
“kenapa melongo, ayo masuk!” ajak anna.
“o... iya”
“permisi”
Kami pun masuk.
“sebentar ya, aku mau ganti baju dulu. Silahkan duduk!”
 “wah... temannya anna ya?” kata seorang wanita yang terlihat seperti kakaknya anna pun keluar dari dalam.
“iya.... " jawab kami serentak.
"terus anna-nya pergi kemana?”
“katanya tadi mau ganti baju mba.”
“oh.. begitu ya?”
“ibu, mira-nya mana?” tanya anna yang tampaknya telah selesai ganti baju.
Ibu, Mana? Kok aku nggak lihat ibunya anna? “emang mana ibu kamu anna?” tanyaku yang penasaran.
“itu yang sedang bicara dengan kalian siapa?”
“hah!” ucap kami serentak yang terkejut.
“hahaha..... “ tawa ibunya anna melihat kami terkejut.
“maaf bu , kami kira ibu, kakaknya anna.”
“iya nggak apa-apa, memang banyak orang salah mengira saat pertama kali bertemu dengan saya.”
“perkenalkan bu, mereka teman-temanku. Ini cheryl, akio, dan edward.”
 “akio..? oh akio yang sering kamu ceritakan ya?” kata ibunya anna.
“emang anna cerita apaan bu, tentang akio?” tanya edward.
“ anna selalu...“
“apaan sih ibu.” Jawab anna memotong disertai ekspresi yang tampak malu.
“hm... hm... hmmm... rupanya ada sesuatu?” sindir edward yang tanpa malu.
“ibu, mira-nya mana?” tanya anna mengulang pertanyaan sebelumnya.
“mira belum pulang, mungkin sebentar lagi.”
“begitu ya.”
“hampir lupa, sebentar ya ibu buatkan minum dulu.”
“nggak usah repot repot bu.” Kata edward.
“nggak apa-apa.”
“Kalau begitu sebaiknya ayo kita mulai saja. Tapi enaknya dimana ya?”
“mungkin sebaiknya di teras saja, sekalian lihat pemandangan diluar.”
“baiklah...”
Kami pun menuju ke teras rumahnya anna.
“wah... indah sekali tamannya.” Ucap cheryl.
“ngomong-ngomong bagaimana rencana kita?” tanyaku.
“karena mira-nya belum pulang mending kita tunggu saja sampai dia pulang.”
“baiklah...”
“ada apa sih?” tanya edward.
“bukan apa-apa.”
“ayolah, beritahu saya”
“saya pulang” datanglah seorang gadis dengan seragam sekolah menengah pertama
“oh, mira? Selamat datang, bagaimana sekolahnya?”
Oh, jadi ini adiknya anna.
”biasa...” jawabnya.
 “hari ini saya mau jalan sama teman-teman saya, kamu mau ikut mira?”
“iya betul ikut sajal.” Tambah cheryl.
“nggak, terima kasih... ” jawabnya begitu dingin.
 “tapi...” sanggah anna.
“aku lelah kak.”
“kalau kapan-kapan bagaimana?” tambahku.
“nggak bisa?”
“kenapa nggak bisa?” tanyaku.
Kini mira terlihat marah, pipinya memerah dan matanya mulai berkaca-kaca. Kalau seperti ini bisa-bisa aku yang jadi tokoh jahatnya. Lebih baik aku berhenti memaksanya saja.
“ayolah?” tambah edward.
“nggak”
“sudah, nggak usah di paksa, mira pun punya haknya sendiri.” Usulku yang mulai khawatir dengan mira.
“ ya sudahlah.” Jawab cheryl.
“tapi, sebelumnya kenapa sih nggak mau ikut? Kita kan Cuma mengajakmu main. Bukan untuk melakukan sesuatu yang aneh.” Sanggah cheryl.
“Bagaimana bisa ikut, mengenal kalian saja nggak? Kenapa aku harus ikut, lagian siapa kalian? Kalaupun kalian teman kakakku bukan berarti kalian telah menjadi temanku.”
“kalau begitu perkenalkan, nama saya akio ahsan dan biasa dipanggil akio, kalau ini cheryl, dan ini edward.”
“ ohh...” ucapnya seraya bergerak masuk ke dalam.
“hei, mau kemana?” panggil edward.
“masuk. Emang ada apa?”
“cuma begitu reaksinya, setelah kami memperkenalkan diri?”  kata edward yang rupanya merasa tersinggung.
“emang kenapa? Kan kalian sendiri yang memperkenalkan diri, bukan aku yang menyuruh.”” Ketus mira.
“yahh... iya sih...” jawab edward yang kehabisan kata-kata.
Mira pun akhirnya masuk, dan setelah beberapa saat kami menunggu, mira pun tak kunjung keluar.
“terus bagaimana ini?” tanyaku.
“yah, kalian lihat sendiri kan bagaimana sikapnya?” jawab anna yang terlihat sedih.
“jadi bngung harus bagaimana.” Ucapku yang memang bingung mengenai permntaan anna.
***
Keesokan harinya
Bel istirahat sudah berlalu sekitar lima menit yang lalu, dan seperti sudah menjadi kebiasaan saya, anna dan cheryl. kami pun telah berkumpul di taman sekolah sebatas menghilangkan kejenuhan setelah beberapa jam mengikuti pelajaran.
“gimana, sudah dapat ide soal kejutan untuk adikku?”
“jujur, sekarang aku justru tambah semakin bingung.” Jawab Cheryl.
“kalau kamu bagaimana akio, sudah dapat ide?”
“bagaimana ya? Mmmm…” berpikir, ayo akio berpikir, putar otakmu akio “okey! Aku punya” .
“bagaimana idenya?” jawab anna.
“kesini sebentar” ajakku ke anna dan Cheryl untuk mendekat.
“apa idenya?” Tanya Cheryl.
“apa ya idenya?” jawabku meledek.
“hei akio, kamu masih ingatkan saat pertama kali bertemu dengan saya?” kata anna yang rupanya sedikit mengancamku.
“tenang - tenang, aku punya kok. jadi begini, di rencana ini aku butuh satu orang lagi untuk memerankan peran ini.”
“siapa orangnya?”
“jadi begini… bla bla bla… bagaimana?” bisikku ke cheryl dan anna.
“oh… begitu ya, bagus-bagus…  aku setuju”
“kalau kamu, gimana Cheryl?”
“bagus sih, tapi kalian yakin dengan rencana ini, resikonya dia semakin benci lho?”
“gimana?” tanyaku memastikan kebulatan anna dengan rencana ini.
“iya, aku siap dengan resiko tersbut.”
“baiklah, kalau seperti itu.  Berarti setelah ini kamu harus memberitahukannya kepada yang besangkutan. Kamu harus bisa menjelaskannya agar beliau mau memerankan peran serta mengerti akan maksudmu anna.”
“iya, aku mengerti.”
“dan untuk urusan kado biar aku dan cheryl yang mengurusnya.”
“tugas sudah kita bagi selanjutnya kita tinggal melaksanakannya.” ujar Cheryl.
Bel tanda istirahat telah usai berdenting.
“baiklah pertemuan kali ini sampai disini dulu selanjutnya tinggal melaksanakan.”
“iya benar.”
 “akio, ngomongin kado emang kamu sudah tahu kado apa yang pas untuk mira?” tanya cheryl sambil berjalan menuju kelas.
“entahlah, aku juga belum dapat ide untuk kado. Tapi paling tidak kita sudah membuat rencana.”
“iya sih”
“cheryl..?”
“iya ada apa?”
“pulang sekolah nanti kamu ada acara?”
“nggak ada, ada apa sih?”
“jalan yuk?”
“kemana?”
“ke pusat kota, nemenin aku.”
“berdua?”
“iya berdua, aku sama kamu. Bagaimana?” tanyaku.
Entah kenapa cheryl jadi terpaku dengan wajah memerah.
“emmm... iya aku mau”
“serius....?”
“iya aku mau.”
“hore...!” teriakku merasa senang karena cheryl mau menemaniku jalan. “lho?”
“ kenapa?“ tanya cheryl yang heran kepadaku
“wajahmu kenapa, kok merah?” tanyaku.
“eh.... nggak, nggak ada apa-apa, pokoknya ayo cepat,  nanti kita telat.”
***
Saat ini aku dan cheryl tengah menuju ke pusat kota. Sesuai dengan janji yang aku buat tadi pagi, rencananya aku ingin membeli sesuatu, namun aku tidak yakin dengan benda tersebut sehingga aku memutuskan untuk mengajak cheryl.
“akio?”
“ya, ada apa?” jawabku sambil berjalan.
“kamu punya impian?”
“punya, kenapa sih?”
“seandainya detik ini kamu punya satu kesempatan untuk mewujudkan impian itu, impian apa yang pertama kali akan kamu wujudkan?”
“haha... mana mungkin ada yang seperti itu?”
“makanya aku bilang seandainya! Seandainya, kamu tahu kan?”
 “iya aku tahu, kalau memang seperti itu. mungkin, aku akan berharap gadis yang diselamatkan oleh ayahku bisa hidup dengan baik.”
“alasannya?“
“mungkin dengan begitu kepergiannya bisa menjadi lebih bermakna?”
“maaf ya?”
“maaf kenapa?”
“maaf aku nggak tahu kalau ayahmu....”
“nggak apa-apa. lagian itu sudah lama terjadi, jadi aku sudah bisa menerima.”
“ hmm... aku yakin gadis yang kamu maksud itu pasti sekarang hidup dengan baik.”
“ya harus, ngomong-ngomong, kamu sendiri bagaimana cheryl?”
“aku..?”
“oh, aku tahu, aku tahu..! kamu pasti ingin bertemu dan minta maaf dengan orang yang kamu cari kan? Iya kan?”
“kenapa kamu yang jawab?”
“tapi benar kan tebakanku?”
“iya sih. Terus, ngomong-ngomong kita mau kemana?”
“ ke pusat kota.”
“ya, aku tahu ke pusat kota, sejak pagi pun kamu bilang begitu. Maksud aku, kita mau ngapain dan tepatnya kemana?”
“oh... entahlah kita lihat saja kemana kita akan sampai.”
“jadi kamu ngajak aku tanpa punya tujuan?”
“ada sih”
“kalau begitu beri tahu aku.”
“nanti kamu juga tahu.”
Satelah menempuh jarak yang cukup jauh kami pun akhirnya sampai di pusat kota tempat aku akan membeli beberapa barang.
“Akhirnya kita sampai? Sekarang, cepat beritahu aku apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”
“tunggu sebentar?”
“ada apa?”
“lihat itu , kalau tidak salah dia mira kan adiknya anna?”
“iya benar, memang ada apa?”
“Kita ikutin yuk?”
“kenapa?”
“ya bukan apa-apa sih, tapi kamu ingin tahu kan kado yang pas buat dia?”
“iya sih”
“ayo!” kami pun akhirnya mengikuti mira.
“kira-kira dia mau kemana ya?”
“mana aku tahu! kan kamu sendiri yang memutuskan untuk mengikutinya!” jawabnya yang terdengar jutek.
“lho kok marah?”
“hah, siapa lagi yang marah?”
Aneh, kenapa cheryl jadi marah? Apa aku melakukan kesalahan ya?
“benar, kamu nggak marah?” tanyaku memastikan lagi.
“iya, benar. Lihat, sebentar lagi dia mau pergi, sebaiknya cepat kita ikuti dia kalau nggak mau kehilangan jejak.”
Kami pun terus mengikutinya, berharap ada satu petunjuk yang bisa memberitahukan kami akan kado yang pantas untuknya. Sampai di suatu persimpangan jalan kami melihat mira berhenti di depan sebuah restauran sederhana.
“Kenapa dia kesini?” ujar cheryl.
 “Sepertinya dia lapar, ayo kita ikut masuk juga?” jawabku.
Kami pun akhirnya masuk dan memilih duduk di tempat yang agak jauh namun masih bisa mendengar apa yang di ucapkan mira.
“Biar tidak ketahuan sebaiknya kita juga pesan makanan, permisi!”
“Selamat datang di restaurant kami, ini daftar menu yang kami miliki hari ini, silahkan?”
“Terimakasih, kamu mau pesan apa cheryl! Aku yang traktir lho?”
“Serius ! ”
“iya, aku serius”
“kalau begitu aku pesan orange juicenya mbak.”
“kalau mas-nya”
“sama mbak, oh iya, kalau boleh tahu, mbak yang di sana sering datang kesini?”
“yang mana mas?”
“itu yang memakai seragam SMP.”
“oh, mbak mira ya?”
“mbak kenal?”
“iya mas, kalau mbak mira memang sering datang kesini.”
“sendirian seperti ini?”
“kalau beberapa tahun yang lalu sih dia sering datang kesini bersama saudara dan kedua orang tuanya. Tapi untuk beberapa tahun terakhir dia datang sendiri. Emang kenapa sih mas?”
“nggak apa-apa kok. Kira-kira mbak tahu nggak makanan atau minuman yang sering dia pesan baik saat masih sering bersama keluarganya maupun beberapa tahun terakhir?”
“maaf mas, kami tidak bisa memberikan informasi pribadi mengenai pelanggan kami kepada orang lain, ini sudah menjadi prosedur kami untuk menjaga kenyamanan pelanggan dari tindak kejahatan.”
“oh, jangan kuatir mbak, kami nggak punya niat jahat kok, kami cuman mau memberi kejutan untuk mira di hari ulang tahunnya nanti. Jadi, boleh kan mbak?” entah kenapa suasananya jadi tegang ya, padahal cuman mau minta menu yang disukai mira, bukan mau minta sesuatu yang aneh-aneh.
“tunggu sebentar.” Ucapnya yang kemudian tampak berfikir.
“sebagai jaminan, ini kartu pelajar saya, mbak bisa mencatat nama sekaligus alamat saya untuk berjaga-jaga kalau sesuatu terjadi terhadap mira”
“melihatmu seperti itu, aku justru jadi tidak percaya kalau mas tidak punya niat buruk terhadap mira.”
“lho, kenapa?”
“ehm…begini saja mbak, mbak nggak usah memberi informasi pribadi pelanggan mbak, mbak cukup memberitahu kami makanan atau minuman yang mira sukai. Bagaimana?” ucap Cheryl memotong pembicaraan kami berdua.
 “kalau Cuma masalah menu sih, pasti akan aku beritahu.” Ucapnya dengan jelas.
“hah… dari tadi maksud kami pun seperti itu, bukan mau minta sesuatu yang aneh-aneh mbak
“hahaha… maaf…”
“kalau mbak mira sih sukanya pesan softcake sama fruity ice
“oh… kalau begitu makasih ya mbak infonya”

“iya… kalau begitu saya permisi dulu mau mengambil pesanannya.
bersambung



Note : Hak Cipta karya tulis ini sepenuhnya milik Hirekija. dilarang melakukan penggandaan atau plagiat dalam bentuk apapun.  cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. 
Continue reading...

Saturday, July 1, 2017

Life Not Equel Math ch 4


Chapter 4 : Semakin banyak semakin baik.
“sebentar lagi adik saya akan berulang tahun yang ke 14 tahun dan saya ingin membuat kejutan untuk dia, tapi aku tidak tahu harus berbuat apa?”
 “hmmmm, jadi seperti itu ya? Bagaimana cheryl?” kataku.
“kalau seperti itu baiklah kami akan membantu. Pertama, kita harus tahu apa yang adik kamu inginkan saat ini. Dengan begitu kita bisa membuat sesuatu yang berhubungan dengan apa yang diinginkannya.”
“ jadi apa yang adik kamu inginkan saat ini?”
“aku tidak tahu”
“kenapa?”
“karena yang aku tahu dia sangat membenci hari kelahirannya. Makanya sekalipun aku ingin merayakan hari ulang tahunnya aku masih tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”
“memangnya apa yang terjadi dengan adikmu sehingga ia membenci hari kelahirannya?”
“sebenarnya aku sudah berjanji untuk tidak menceritakan hal ini lagi kepada siapapun, namun tetap saja aku tidak bisa jika terus melihatnya tersiksa dengan masa lalunya.”
“maksudnya...” tanya cheryl yang mulai serius.
“baiklah akan aku ceritakan, namun kalian harus berjanji untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapapun!” perintah anna.
“baiklah kami berjanji tidak akan menceritakannya kepada siapapun.”
“Semuanya berawal sehari sebelum hari ulang tahun adik saya yang ke 9, saat itu ...”
“tunggu sebentar... ya sudah.” Kataku memotong pembicaraan karena mau pindah posisi duduk.
“saat itu ayahku sedang berada diluar negeri karena urusan pekerjaan yang begitu padat,  meski demikian beliau tak pernah sekalipun tidak menghadiri ulang tahun anak-anaknya. Ia begitu sayang terhadap keluarganya sehingga ia lebih memprioritaskan keluarga ketimbang pekerjaan. Namun, tiga hari sebelum hari ulang tahun adikku dia mendapat tugas untuk melakukan studi banding dengan perusahaan yang ada diluar negeri selama lima hari. Dia pun menerima tugas tersebut dan saat itu juga ia langsung pergi ke negara tersebut berharap bisa menyelesaikannya dalam waktu tiga hari. Ia pun berjanji untuk datang ke perayaan hari ulang tahun adik saya”
 “ugh... ughh.. tunggu sebentar... air, air!”
“hei, dengar dulu. Katanya ingin tahu penyebabnya! Tapi setiap kali aku bicara selalu saja kamu potong!”
Wah serem juga ya kalau anna sedang serius, baiklah aku menurut saja. “ maaf tadi mulutku penuh dengan jalabiya jadi aku mau minum dulu.”
 “emang ayah kamu bekerja di perusahaan apa?” tanya cheryl.
“yang aku tahu ayahku bekerja di suatu perusahaan IT milik swasta sebagai pengembang hardware. Sementara itu tiga hari telah berlalu dan ayahku pun menepati janjinya untuk menghadiri pesta ulang tahun adik saya.”
“lalu apa yang membuatnya memiliki trauma?” tanyaku
“karena yang datang saat itu bukan ayah saya dalam keadaan hidup tapi ayah saya yang telah menjadi mayat.”
“hah, Apa maksudnya? Eh, maaf. kenapa?” tanyaku yang begitu kaget mendengar cerita tersebut.
“saat itu aku pun tak tahu apa yang telah terjadi karena tiba-tiba saja ibu saya mendapat kabar kalau ayah saya telah meninggal dan jasadnya tengah dalam perjalannan pulang. Dan dari pihak perusahaan hanya mengatakan kalau ayahku mengalami serangan jantung di dalam pesawat dengan tujuan kembali.
Semua rencanna yang telah kami buat pun kini hancur dan pesta ulang tahun berubah menjadi upacara pemakaman. Dua hari setelah kepergian ayahku, ibuku mulai menemukan kejanggalan dengan kematian ayah saya. Karena ia tahu kalau ayah saya tidak memiliki riwayat penyakit jantung dan satu minggu sebelumnya pun ia telah memeriksakan kesehatannya ke dokter. Mengingat akan hal tersebut, ibu saya kemudian membawa kasus tersebut ke pihak berwajib.”
“terus?” tanya cheryl.
“seperti yang kalian perkirakan, ayahku pun terbukti meninggal karena racun. Dan pembunuhnya tak lain adalah teman sekaligus rekan kerjanya yang menginginkan hasil riset yang telah dibuat oleh ayah saya.”
“lalu kenapa adik kamu trauma, bukankah kasus pembunuhan ayah kamu sudah usai?” tanyaku memperjelas.
“memang benar kasus pembunuhan ayahku telah usai namun bukan untuk trauma yang dimiliki oleh adik saya. Ia menganggap kematian ayah kami lantaran hari ulang tahunnya, dan jika di hari tersebut ia tidak berulang tahun ia berfikir mungkin ayah kami tidak akan terburu-buru dalam pekerjaannya dan dia tidak akan terbunuh pada hari tersebut.” Ujar anna yang tampak sedih.
“ sejak hari itu adik saya mulai menutup diri, ia menjadi pendiam dan sampai saat ini aku sudah tidak pernah melihat senyum diwajahnya. Tidak apa jika ulang tahunnya tidak ingin ia rayakan, tapi tolong kembalilah menjadi adikku yang penuh dengan senyum.” Sambung anna sambil meneteskan air mata.
Seketika aku dan cheryl pun terdiam, kami tidak tahu apa yang bisa kami lakukan untuk menghibur anna. Kami ingin membantunya namun kami tak tahu apa yang bisa kami perbuat. “ ngomong-ngomong siapa nama adik kamu?” tanyaku berharap dapat menghilangkan sedikit kesedihannya.
“dia bernama Reiko Celmira, ia masih kelas 1 sekolah menengah pertama, dan bulan ini ia akan genap berumur 14 tahun.”
“tenang saja kami pasti akan membantu kok, iya kan akio?”
“iya benar, pokoknya sekarang kamu nggak usah sedih. Dan ngomong-ngomong kapan ulang tahun adik kamu?”
“nanti tanggal 18 januari.”
“baiklah kita masih punya waktu 1 minggu sampai kita bisa menyeret adik kamu keluar dari cangkangnya.” Kataku memberi semangat anna.
“iya benar. Aku juga tak sabar ingin melihat gadis yang tega membuat kakak tercantiknya menangis.” Kata cheryl yang juga ikut menghibur.
Tak lama kemudian bel tanda masuk telah berbunyi.
“ayo, sudah waktunya kita kembali ke dalam kelas!”
***
Hmmm, kira-kira sebaiknya aku pakai baju yang mana ya? Rasanya jadi agak nerves padahal kan ini Cuma sekedar menemani belanja bukan kencan. Yang ini, nggak bagus. Yang ini, terlalu formal. Haaaah....! kepalaku jadi pusing Cuma karena pakaian.
Sesuai dengan janji yang aku buat dengan cheryl, hari ini aku akan menemani dia belanja kebutuhan rumah. Namun, meski demikian rasanya aku jadi semakin grogi. Jantungku semakin berdebar-debar sama seperti saat pertama kali aku bertemu dengan dia. ”Tenang akio... kira-kira sudah jam berapa yah?”
Hah gawat tinggal 15 menit lagi, sebaiknya aku cepat!
Pakaian sudah, wangi sudah, uang sudah, sekarang tinggal berangkat. Semoga saja cheryl belum datang.
“bu, aku pergi dulu ya!”
“mau kemana?” tanya ibuku.
“main ke rumah teman.”
“kalau begitu hati-hati di jalan!”
“iya.”
Tepat setelah ku buka pintu keluar, aku pun langsung berlari. “Semoga dia belum datang. Aku harus cepat! Yaaaa....!”
Syukurlah masih tersisa waktu 5 menit lagi... dan dia belum datang. Kalau begitu sebaiknya aku istirahat sebentar. Aku pun kemudian duduk di tempat duduk umum yang telah tersedia dipinggir jalan tempat pertemuan.
 “akio..!”
oh itu dia orangnya.
“akio, akio!”
“oh, maaf ada apa?”
“kenapa sih ? kok ngelamun?”
“nggak, Cuma kagum saja?”
“kagum?”
“iya, rasanya baru pertama aku melihat kamu mengenakan pakaian bebas.”
“nggak bagus ya?”
“bukan begitu, hanya terlihat cantik saja.”
“kenapa ngomong begitu sih?”
“emang kenapa nggak suka ya aku puji?”
“bukan begitu, rasanya Cuma mendadak saja. Maaf ya aku terlambat?”
“nggak kok, lihat, masih jam 9. jadi kamu nggak terlambat."
"iya, kalau begitu ayo kita berangkat!"
Kami berdua akhirnya memulai perjalannan mencari perlengkapan rumah untuk cheryl.
“akio!”
“iya,”
“kamu sudah dapat ide tidak?”
“ide untuk apa?”
“Ya ide untuk membantu anna.”
“oh, anna ya. Kalau melihat permasalahan yang dia punya rasanya sulit juga. Aku belum dapat ide untuk membangunkan adiknya yang masih terbungkus kegelapan. Meski demikian setelah mendengar cerita dari anna, rasanya aku ingin menemui anak itu.”
“begitu ya, bagaimana kalau nanti kita main ke rumah anna?”
“kapan?”
 “tentu saja bukan sekarang.”
“iya juga ya. oh iya, ngomong-ngomong kamu sudah melihat-lihat suasana kota disini belum?”
“belum, makanya aku minta ditemani kamu sekalian membeli beberapa peralatan rumah yang belum aku miliki.”
“baiklah, hari ini akan aku tunjukan keindahan dari kota ini.
“jadi, kita mau kemana?”
“kemana ya? Menurutmu kemana, cheryl?”
“lho kok tanya aku, kan kamu yang mau mengajak aku berkeliling?”
“iya juga ya. Mmm baiklah kita kesini saja.” Ajak ku tanpa sadar menggandeng tangan cheryl menuju ke berbagai tempat yang entah muncul dengan sendirinya dalam kepala..
Mulai dari stand musik, toko kue, supermarket, bahkan bioskop hingga akhirnya kami berakhir di sebuah taman.
“istirahat dulu yuk, nggak terasa hampir semua tempat sudah kita kunjungi. Bagaimana, kamu suka?”
“iya, aku nggak menyangka kalau kota tempat kelahirannya begitu indah.”
“maksudnya.”
“nggak, aku Cuma kagum dengan kota tempat kelahiran seseorang yang aku cari selama ini.”
 “heeeh, begitu ya? Ngomong – ngomong apakah orang tersebut sama dengan orang yang kamu ceritakan beberapa hari yang lalu?”
“iya benar.”
“emang siapa sih namanya?”
“maaf, untuk saat ini aku masih belum bisa memberitahukannya kepada siapapun.”
“begitu ya? Emang kenapa sih, terus ada keperluan apa sampai-sampai kamu memutuskan untuk pindah ke negara ini hanya untuk bertemu dengan orang tersebut.”
“aku... aku ingin meminta maaf kepadanya.... ya, aku ingin meminta maaf dan berterima kasih.” Jawabnya tersenyum.
Entah kenapa raut wajah cheryl terlihat sedih saat menjawab pertanyaanku sekalipun akhirnya ia tersenyum.
“maaf ya aku jadi seperti mengusik kamu.”
“nggak kok.”
“oh iya, ngomong-ngomong gimana belanjaan kamu?”
“iya aku lupa, yuk kita beli sekarang.”
Sebelum pulang, kami berdua memutuskan pergi ke swalayan untuk membeli beberapa barang yang dibutuhkan cheryl.
 “menurut kamu lebih bagus yang mana?”
“mmm... kalau menurutku, karena kamu yang akan menggunakannya kenapa tidak kamu pilih saja yang menurutmu bisa memudahkan pekerjaanmu?”
“benar juga ya, kalau begitu aku pilih yang ini deh.”
“he... ngapain kalian berdua?” sapa edward mengagetkan kami berdua.
“hmmm... dari baunya aku mencium sedang ada yang kencan nih? Kira-kira siapa yah?” kata edward yang lagi-lagi mengusik ketenanganku.
“ah kamu, kita nggak sedang kencan. Aku Cuma meminta akio menemani aku belanja keperluanku saja karena aku belum hafal lokasi di kota ini.” Kata cheryl menepis sindiran dari edward.
“hmmm begitu ya.”
“kamu sendiri lagi ngapain?” tanya cheryl.
“tentu saja belanja lah, aku juga punya beberapa barang yang harus aku beli.”
“akio! Sini sebentar?” kata edward menarik aku menjauh dari cheryl, “hehe... aku pinjam dulu ya” tambahnya kali ini ke cheryl.
“ada apa sih?” tanyaku ke edward setelah menarik aku menjauh dari cheryl
“beneran kamu nggak kencan nih?”
“tidak, kenapa sih?”
“hmm, sayang banget, sayang banget! Padahal kesempatan sudah terbuka lebar.”
“ngomong apaan sih kamu? Terus kalau memang aku sedang kencan kamu mau apa.”
“ya cuman ingin tahu saja, kamu tahu sendiri kan kalau aku juga anggota dari perserikatan jones, jadi aku butuh data untuk referensi saat sedang kencan.”
“kamu tahu, kalau teman yang aku miliki semua sama seperti kamu aku pasti sudah menjadi gila.”
“kenapa?”
“nggak jadi. Terus ada apa lagi?”
“sudah..” jawabnya datar.
“ya sudah kalau gitu aku mau ke cheryl dulu.”
“ada apa sih tadi?” tanya cheryl yang tampak penasaran dengan tingkah edward dan saya
“nggak, nggak ada apa-apa kok. Gimana sudah ketemu dengan benda yang kamu inginkan?”
“sudah ketemu."
"kalau gitu ayo kita bayar dan pulang, soalnya sudah sore.”
“iya, tapi edward gimana?”
“nggak usah khawatir dengan edward. Lagian katanya ada yang mau dia beli.”
“begitu ya. Ayo!”
Usai melakukan pembayaran di bagian kasir kami berdua akhirnya kembali kerumah masing-masing. Perjalannan hari itu pun telah berakhir.
***
Keesokan harinya.
“Bagaimana akio?” tanya cheryl.
“enak, aku suka makannannya.”
“baguslah kalau kamu suka. Oh iya ngomong-ngomong gimana rencanna adiknya anna yang kemarin?”
“rencanna apa?” tanya anna yang juga sedang makan bekal di taman sekolah.
“oh, rencanna yang kemarin ya, gimana kalau kita langsung tanya sama anna?”
“memangnya rencanna apa sih?” ucap anna mengulang pertanyan tadi.
“jadi begini, kemarin aku dan cheryl telah mendiskusikan tentang rencanna ulang tahun buat adik kamu. Namun, seperti hasil yang sudah-sudah pada akhirnya kami tidak menemukan solusi apa-apa hingga akhirnya muncul untuk melihat keadaan adik kamu. Mungkin jika kami bisa mengerti situasi yang sebenarnya kami bisa menemukan jalan untuk menyadarkan adik kamu.”
“hmmm begitu, jadi intinya kalian ingin melihat kedaan adik saya? boleh”
“jadi kapan kita bisa bertemu dengan adik kamu?” tanya cheryl.
“hari ini pun kita bisa. Namun, meski demikian aku tidak ingin adik saya mengetahui kalau tujuan kedatangan kalian kerumahku adalah hanya untuk membuat rencanna kejutan ulang tahun adik saya.”
“bagaimana kalau kamu ajak adik kamu jalan-jalan bersama kami?”
“kamu masih ingat kan apa yang aku ceritakan kemarin lusa? Jangankan mengajaknya berjalan-jalan untuk berbicara dengannya saja sudah sulit lantaran ia menjadi begitu tertutup.”
“iya juga ya.” Kata cheryl mengangguk.
“bagaimana kalau kita mengadakan kelompok belajar di rumahmu? Dengan demikian kita bisa mengamati sikap adik kamu tanpa harus takut ketahuan adik kamu?”
“hmmm, boleh juga ide kamu akio!” kata cheryl
“baiklah, kalau begitu kapan kita menjalankan misi ini?” tanyaku semakin bersemangat.
“kalau hari ini bagaimana?”
Hari ini sih aku nggak ada rencanna mungkin sebaiknya aku setuju. “boleh, kalau kamu cheryl”
“aku juga setuju.”
“baiklah, kalau begitu nanti setelah bel pulang sekolah kita langsung berkumpul di gerbang sekolah.”
***
Akhirnya hari ini selesai juga. Aku pun segera memasukan semua alat tulisku ke dalam tas. “bagaimana cheryl, sudah selesai?” tanyaku menunggu dia memasukan semua alat tulisnya ke dalam tasnya.
“iya sebentar.”
“cie-cie.. ada yang makin lengket saja?” ucap edward.
“apaan sih?” jawab cheryl tersenyum.
“emang mau pergi ke mana sih?”
“mau tahu saja?”
“ya tentu harus tahu, kamu ingat kan akio, aku ikut organisasi apa?”
“iya-iya aku ingat. Kamu ikut organisasi sesat.”
“tunggu sebentar bro. Organisasi ini bukan organisasi sesat tapi tepatnya menuntun keluar dari jalan kesesatan.”
“kalian ngomongin apa sih?”
“nggak ngomongin apa-apa kok, Cuma membahas masalah pria sejati.” Jawab edward dengan gagahnya.
“oh begitu ya.  Emang masalah pria sejati seperti apa?” tanya cheryl.
“ya tentu saja...”
Kalau seperti ini bakal terlambat nih. “sudah-sudah, kenapa kita jadi bahas soal yang nggak penting sih? Ayo cheryl kita sudah terlambat nih?” ucapku memotong perkataan edward.
“emang mau kemana sih?”
“kita mau main ke rumah anna.” Jawab cheryl.
“anna si wanita super dari kelas B ya, aku boleh ikut?”
“nggak bisa kamu ngak diundang.”
”bener kamu mau ikut.” Tanya cheryl yang rupanya tak sependapat denganku.
“ya tentu saja.”
“mm... baiklah kamu boleh ikurt.”
“tapi kan..?”
“nggak apa-apa akio, semakin banyak semakin bagus.”

“terima kasih... lihat kan akio, aku bisa ikut!”
bersambung


Note : Hak Cipta karya tulis ini sepenuhnya milik Hirekija. dilarang melakukan penggandaan atau plagiat dalam bentuk apapun.  cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. 
Continue reading...