Saturday, September 23, 2017

Life Not Equel Math ch 9

Chapter 9 : Sama seperti biasa
“terimakasih ya sudah mau menerima ajakanku.”
“iya sama-sama, tapi ingat ya, kamu juga harus mengajak mereka berdua?”
“iya, tenang saja… sudah dulu ya, soalnya sudah masuk nih.”
“iya”
Sebaiknya aku juga harus bergegas.
“kamu dari mana sih?” Tanya Cheryl yang tampak marah terhadap saya.
“memang kenapa?”
“dari tadi aku sudah menunggu di tempat biasa, kenapa kamu dan anna tidak datang? Katanya sebentar?”
Bagaimana aku harus menjelaskannya?
“kok diam, ayo jawab, Ada apa sih?” Tanya Cheryl.
“nggak ada apa-apa kok, dan maaf kami tadi sibuk sekali jadi nggak bisa datang ke sana.” Jawabku agak tergagap karena bingung.
“ehem...! permisi? Bisakah yang disana kembali ke tempat duduk masing-masing.”
“maaf pak!” jawabku yang kemudian duduk.
“hei... hei.. akio...” samar samar aku mendengar bisikan seseorang memanggilku.
Aku pun melihat ke setiap samping tempat duduk aku.
“hei... disini?”
“apa sih edward?” jawabku berbisik.
 “tadi habis dari mana?”
“dari mana? Ya tentu saja masih di sekolah. Emang aku habis dari mana?”
“bukan itu, maksudku kamu tadi diajak sama anna kemana?”
“itu bukan urusanmu edward.”
“tentu saja itu menjadi urusanku, sebab kamu adalah aset berhargaku.”
“jangan seenaknya menjadikan orang lain sebagai asetmu. Aku bukan benda aku manusia.”
“iya aku tahu kamu manusia. Jadi kamu diajak kemana?”
“nanti kamu juga tahu...” jawabku.
“kenapa, kan yang diajak kamu? Mungkinkah... kamu sudah ditembak dia”
“bukan! Makanya jadi manusia jangan hanya memikirkan pasangan saja.”
“ya mau bagaimana lagi, aku juga manusia yang ingin merasakan cinta.”
“ya aku juga tahu, tapi nggak perlu seperti itu juga.”
“terus apa, kalau dia nggak menembak kamu.”
“aku nggak bisa memberitahukannya, tapi yang pasti dia juga akan mengajakmu juga.”
“serius!” teriaknya.
“yang dibelakang tolong jangan ribut!” bentak pak rendy yang tengah mengajar.
“iya maaf pak.” Jawab edward. “serius, dia mau mengajak aku juga?” bisiknya lagi.
“iya”
“akhirnya setelah sekian lama aku melakukan riset bersama club jones, tiba juga saatnya untuk aku praktekan hasil kerja keras ku ini.” Ucapnya yang terlihat begitu bahagia.
“jadi kapan dia akan mengajakku akio?”
“aku juga tidak terlalu tahu kapan tapi yang pasti dia akan mengajakmu.” Jawabku yang memang tidak tau.
***
Lagi-lagi hari berlalu begitu cepat, tak terasa jam sekolahku untuk hari ini telah berakhir. Kini aku, cheryl dan edward terngah berbincang-bicang didalam kelas yang telah kosong karena sekolah telah berakhir.
“hey, bener tadi kamu nggak ada apa-apa sama anna?”
“iya bener aku nggak ada apa-apa?”
“terus kenapa lama?” ucap cheryl yang masih tidak percaya.
“iya benar, aku juga tidak percaya kalau kamu nggak ada apa-apa sama anna?” tambah edward.
“kenapa masih nggak percaya sih? Aku serius nggak ada apa-apa dan lagian kita juga nggak ada hubungan apa-apa kenapa kamu jadi ikut seperti edward?”
“ya soalnya....”
“permisi...”
“oh, kebetulan ada orangnya, anna tadi pagi kita nggak ada apa-apa kan?”
“iya, memang ada apa sih?”
“mereka berdua nggak percaya dengan apa yang aku katakan.”
“syukurlah kamu belum pulang Edward” ucap anna yang justru tak merespon perkataanku.
“mungkinkah ini saatnya akio?” ucap Edward berbisik setelah menarikku.
”iya, inilah saatnya”
“tapi kenapa kamu nggak bilang kalau hari ini?” bisiknya lagi.
“mana aku tahu, terus kalau aku tahu hari ini memang kamu mau ngapain?”
“ye tentu saja aku akan menyiapan segala sesuatunya.”
“permisi, Edward?”
“iya anna ada apa?”
“begini, hari ini kamu ada kegiatan nggak?” Tanya anna.
“nggak ada sih, memang ada apa sih?” jawab Edward yang terlihat begitu berharap.
“ada sesuatu yang ingin aku sampaikan terhadap kamu?”
“apa?” jawab Edward.
“tapi aku tidak bisa mengatakannya disini, jadi aku ingin kamu ikut denganku ke suatu tempat” jawab anna.
Waaaah, kenapa anna ngomongnya seperti itu, aku yakin saat ini Edward sedang membayangkan sesuatu yang tidak-tidak. Tapi terserahlah, aku harap apa yang dibayangkannya saat ini tidak akan membuat hatinya nanti terluka. Ya semoga saja.
“baikalah, aku akan ikut.”
“syukurlah…”
“jadi kapan kita akan berangkat anna?”
“sekarang saja, soalnya aku juga takut nanti pulangnya terlalu sore.”
“baiklah, ayo!”
“tapi tunggu sebentar, ada satu hal lagi yang ingin aku katakan” ucap anna menghentikan Edward.
“begini, aku juga ingin mengajak Cheryl ”
“heh!”  ucap Edward tercengang.
“kamu mau kan ikut dengan kami?” ucap anna mengajak Cheryl.
“aku mau tapi kalau akio juga diajak.” Jawab Cheryl.
“kalu begitu kamu juga ikut ya?”
Kenapa aku juga dibawa-bawa “tapi kan…?” jawabku.
“ayo ikut saja!” ucap anna dengan nada menekan.
“baiklah aku akan ikut”
“nah, begitu dong”
“ayo!”
“hei, kenapa jadi seperti ini?” bisik edward ke telingaku.
“aku juga nggak tahu.”
“kalau akhirnya seperti ini lagi, sama saja seperti biasanya dong.” Gumam edward yang berjalan disampingku.
“terima saja.” Jawabku.
Kami pun terus berjalan, setapak demi setapak jalan kami lewati hingga akhirnya sampai di sebuah restoran yang dulu aku dan Cheryl masuki untuk mengintai mira.
“kita sudah sampai, ayo kita cari tempat duduk yang nyaman.” Ucap anna mempersilahkan kami.
“bagaimana kalau di situ saja.” Saran Cheryl.
“ada apa sih, kok kita kesini lagi?” Tanya Edward penasaran.
“nggak ada apa-apa sih, ayo silahkan pesan makanan yang kalian suka?”
“beneran nih, aku boleh memesan?” Tanya Edward yang tampaknya sudah tak peduli lagi dengan urusan sebelumnya.
“hari ini aku yang traktir.”
‘wah, terimakasih ya anna, kalau begitu aku akan memesan.”
“hey, jangan bikin malu.” Kataku.
“iya-iya aku tahu” jawab Edward.
“ngomong-ngomong ada apa sih, tidak seperti biasanya samapi repot-repot membawa kita kesini?” Tanya Cheryl.
“nggak ada apa-apa kok, aku Cuma mau berterimakasih saja sama kalian, karena berkat bantuan dari kalian semua kini akhirnya keluargaku kembali seperti keluarga pada umumnya.”
“itulah gunanya teman, saling membantu disaat ada masalah maupun dalam kesenangan.”
“meskipun itu hanya untuk cewek kan?”
“jangan begitu akio, begini begini aku tipe manusia yang setia kawan lho..”
“hahaha... iya-iya, ayo silahkan pesan makanannya!” ucap anna tersenyum.
***
‘cinta adalah suatu perasaan yang dapat menghasilkan perasaan lain seperti, sakit, senang, bahagia, iri bahkan hingga dendam. Cinta adalah satu kata yang memiliki definisi yang sangat luas tergantung seseorang memandang perasaan cinta tersebut. Karena pada hakikatnya cinta tak ubahnya sebuah kehidupan atau bahkan ada beberapa filosofi yang mengatakan kalau sebuah kehidupan lahir berawal dari adanya cinta itu sendiri.
Ada cinta harta yang mana harta adalah sesuatu yang lebih sempurna atau bisa dikatakan manusia itu akan merasa hidupnya sempurna jika memiliki banyak harta, ada cinta kekuasaan yang mana kekuasaan akan menjadi segalanya bagi orang tersebut, ada cinta kepada sesama yang mana ia akan selalu lebih memperhatikan sekitarnya ketimbang dirinya sendiri, karena dengan begitu ia akan merasa hidup, dan masih banyak lagi cinta cinta yang lainnya yang mungkin akan berakibat baik atau juga buruk untuk mereka yang mencintai sesuatu.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa cinta memiliki banyak arti tergantung bagaimana sudut pandang orang tersebut melihat, merasakan, atau bahkan memaknai arti kata cinta…’  hah, aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh buku ini.
Semakin aku coba memahaminya semakin bingung aku dibuatnya. “Sebenarnya apa sih itu cinta?”
“heeeee... jadi kamu tidak tahu apa itu cinta ya?”
“sejak kapan kamu disini cheryl?” ucapku yang kaget dibuatnya.
“sekitar 10 menitan.”
“lumayan lama juga ya, tapi kenapa aku tidak menyadarinya”
“masalahnya telinga kamu…” jawab Cheryl.
“oh maaf, aku memang suka mendenagrkan lagu lewat headset saat sedang membaca seperti ini.”
“nggak apa-apa kok. ngomong-ngomong kamu sedang menunggu siapa, duduk sendirian di taman?”
“aku tidak sedang menunggu siapa siapa, aku cuman mau mencari suasana segar saja.”
“oh begitu ya?”
“kalau kamu sendiri bagaimana Cheryl?”
“sama, cuman sekedar mencari suasana baru. Soalnya bosan juga jika cuman duduk-duduk saja di dalam apartemen sendirian.”
“oh, begitu ya”
“ngomong-ngomong, tidak biasanya kamu baca buku sepert itu? Sedang jatuh cinta ya sama seseorang?”
“nggak, cuman penasaran saja.”
“oh... cinta ya? Bagi saya, cinta itu menyenangkan.”
“kok bisa, kenapa?”
“coba banyangkan saja, setelah sekian lama berpisah, kini bersama lagi dengan seseorang yang kamu sayangi. Bukankah menyenangkan? Memang ada kalanya aku merasa marah, tapi hal itu kembali menjadi menyenangkan ketika aku mengingatnya kembali disaat-saat seperti ini”
“aku tebak itu adalah orang yang sedang kamu cari?”
“100!”
“jadi kamu sudah menemukannya ya? Dimana orangnya, dan kapan kamu bertemu dengan dia?” tanyaku penasaran.
“rahasia!”
“ayolah, perkenalkan dengan saya? aku juga penasaran dengan orang tersebut yang sudah membuatmu pergi jauh dari dari Negara asalmu hanya untuk bertemu dengan dia?”
“nggak bisa dan nggak akan pernah.”
“ngomong-ngomong sudah jam segini, sebaiknya ayo kita pulang.” Ajakku.
“iya, Dan kalau tidak salah besok kita ada ulangan kan?” tanya Cheryl.
“iya, kamu sudah belajat?”
“sudahlah, dan mana mungkin malam-malam begini aku keluar rumah jika pekerjaanku sendiri belum aku selesaikan.”
“iya juga ya?”
***
Kini aku sudah berada disamping ruang perpus. sesuai janji kemarin, kali ini aku ingin menanyakan beberapa hal kecil kepada sara mengenai sekolah ini sekaligus alasan mengapa ia ditempatkan di kelas yang terpisah dengan siswa lainnya disekolah ini. Tidak ada alasan spesial mengapa aku ingin menanyakan hal ini, hanya saja apa yang terjadi dengan sara mengingatkan aku dengan masa lalu yang seharusnya kini menjadi sebuah kenangan indah. Kini aku memang sudah tidak mempermasalahkannya lagi, karena dengan adanya peristiwa itu dunia mau berbicara dan memutuskan untuk berdamai. Sekalipun hal tersebut cukup membuat hidup keluargaku menderita dalam senyum untuk waktu yang lama.
Seiring berjalannya waktu luka itu sudah sembuh, kini aku memandanganya sebagai sesuatu yang indah. Karena berkatnya kini aku bisa hidup dengan bebas tanpa harus takut adanya peluru yang menyasar ke segala tempat, tanpa adanya darah yang berceceran ataupun tangis karena kehilangan. Aku senang dan aku bangga dengan kepergiannya. Namun, aku tidak akan bisa menerima jika sesuatu yang telah ia bangun dengan nyawanya sendiri harus diubah menjadi awal adanya suatu kecemburuan yang mungkin bisa menumbuhkan luka lama.
“hey, akio… akio..?”
“oh, maaf.”
“melamun terus, ada apa sih?” Tanya sara yang rupanya sudah berada disamping saya.
“nggak ada apa-apa kok?”
“maaf, lama ya menunggunya?”
“nggak kok.”
sambil ngobrol ayo masuk” ajaknya masuk ke dalam kelas.
“wah, kelas apa ini, banyak sekali peralatannya?”
“ini adalah lab sekaligus ruang kelasku, disinilah aku belajar dan melakukan banyak penelitian.”
“oh, begitu ya?” jawabku.
ngomong-ngomong kemarin kamu mau tanya apa?”
hampir lupa aku. emm, bagaimana ya. Begini, sebelumnya maaf bukannya aku mau ikut campur, tapi aku hanya penasaran saja. Jadi jika kamu berkenan menjawab pertanyaanku ini tolong jawablah, namun jika kamu tidak mau tentu saja aku tidak memaksa.” Kataku memperjelas sebelum aku menyinggung masalah sebenarnya.
“jadi, apa pertanyaanmu?”
“mengapa siswa di kelas ini hanya kamu seorang, dan bukannya kelas 2E bukan disini?”
“masalahkah buat kamu?”
“tidak sih, hanya saja aku merasa kamu dibedakan dengan siswa lain. Dan disisi lain dengan adanya ini bukankah kamu akan susah mendapatkan teman?”
“ini memang permintaanku terhadap sekolah, dan sebagai gantinya aku akan berusaha semampu saya untuk mendapatkan peringkat pertama di sekolah ini.”
“kenapa?” tanyaku.
“aku hanya lebih suka sendiri saja?”
“alasannya?”
“alasannya karena dengan demikian aku tidak akan menyusahkan orang lain.”
“tapi kenapa?”
ya itu bukan urusanmu… Masih ada yang mau ditanyakan lagi?”
Bagaimana ini, apakah saya sudah membuatnya marah, Kenapa nada bicaranya berbeda dengan saat pertama kali aku berjumpa dengannya? “lalu, maukah kamu menjadi teman saya?”
“hah?”
“kenapa hah? Aku hanya ingin menjadi teman kamu, apa ada yang salah?
“aneh, aneh kamu!” jawab sara.
“apanya yang aneh?”
“kamu bilang kalau kamu ingin menjadi temanku setelah kamu  menginterogasiku, bukankah aneh, bagaimana kalau sebelumnya aku menjawab aku seorang pembunuh, apakah kamu masih ingin menjadi temanku?”
“bukan begitu, hanya saja apa yang terjadi dengan kamu membuatku teringat dengan masa lalu dan membuatku berfikir negatif dengan sekolah ini... luka akibat perang masih tersisa hingga kini, meski demikian semuanya bertekad untuk mengubah masa depan menjadi lebih baik. Namun, jika sekolah ini yang menjadi lambang perdamaian itu sendiri justru melakukan tindakan membeda-bedakan terhadap siswanya, bukankah sama saja menciptakan kecemburuan yang mungkin bisa memicu perpecahan?” ucapku memperjelas.
“maaf sudah berprasangka buruk terhadapmu... Namun. ini bukan keputusan dari sekolah. Ini adalah keputusanku sejak pertama kali aku mendaftar ke sekolah ini… ayahku adalah seorang jenderal akatan darat dari utopia, karena pekerjaan ayah saya yang seperti itu mau tidak mau kami pun ikut kemanapun ia akan ditugaskan, saat itu hanya itulah pilihan yang dimiliki olah orang tua saya. Dimana-mana ada perang, dimana-mana ada kematian dan tidak ada tempat yang aman untuk kami berlindung. Tumpukan mayat, bau darah, orang-orang yang kelaparan serta semua hal yang dihasilkan dari perang sudah menjadi hal biasa untuk saya lihat. Namun, tak ubahnya seperti kutukan, peristiwa itu pun menghampiri keluarga saya hingga sampai pada saatnya dimana aku bisa kembali manjadi manusia normal lantaran perdamaian yang aku inginkan telah datang, aku justru tak mampu untuk berhadapan dengan dunia luar. Aku takut untuk membaur dengan masyarakat, aku takut untuk menjalin pertemanan dan aku takut untuk hidup bersosial”
“apa yang kamu takutkan? Bukankah ini yang sudah kamu harapkan, bukankah tadi kamu menginginkan kehidupan seperti ini?”

“memang benar inilah kehidupan yang aku inginkan… hanya saja, ketika aku mencoba untuk menikmatnya selalu saja kalimat itu menghapiri otakku. Sebuah kalimat yang tidak bisa aku lupakan namun ingin aku lupakan.”
***

bersambung


Note : Hak Cipta karya tulis ini sepenuhnya milik Hirekija. dilarang melakukan penggandaan atau plagiat dalam bentuk apapun.  cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. 
Continue reading...

Saturday, September 2, 2017

Life Not Equel Math ch 8

Chapter 8 : Pasangan
Kami pun terus berjalan menuju ke rumah kami masing-masing.
“ward, kita berpisah disini ya?”
‘kenapa, kan kita satu arah?”
“aku mau nganter cheryl pulang dulu.”
“kenapa nggak bareng saja? Oh maaf, sebaiknya aku nggak usah mengganggu. Baiklah kalau begitu kita berpisah disini. Bye, sampai besok ya?”
“iya. Ayo cheryl.”
“Tidak seperti biasanya?” ucap cheryl.
“maksudmu?”
“oh, maksudku tidak seperti biasanya edward tidak menggangu kita, biasanya kan kalau salah satu dari kita bilang seperti tadi dia langsung ikut.”
“iya juga ya. Tapi biarlah, mungkin ada yang lebih penting dari pada mengikuti kita” kataku.
“ngomongin edward, sedari aku mengenalnya, aku masih penasaran dengan satu hal mengenai apa yang dilakukan edward.”
“apa itu?” tanyaku.
“aku penasaran dengan organisasi yang sering dibicarakan oleh edward dengan kamu.”
“oh.... itu ya. Aku sarankan sebaiknya kamu nggak usah tahu tentang informasi tersebut?
“kenapa? Memang berbahaya ya?”
“benar-benar berbahaya, jika kamu mengetahuinya maka hidup kamu akan berubah 180 derajat.”
“emang informasi apa sih? Kasih tau dong?”
 “sebaiknya nggak usah?’
“kenapa?”
“bener nggak apa-apa?” tanyaku memperingatkan
“iya”
“serius?” tanyaku mengulang.
“iya, aku serius.”
“kamu akan menerimanya?”
“iya-iya, cepat, nggak usah banyak basa basi.”
“baiklah kalau kamu memaksa, sebenarnya...”
“iya-iya”
“sebenarnya organisasi yang edward ikuti adalah perserikatan jones.”
“apa! Jones, maksudnya jones (minus singles) yang itu?” ucapnya tercengang.
“iya, jomblo ngenes (minus singles)
“nggak salah dengar nih aku?” ucapnya sambil menahan tawa.
“iya aku serius”
“terus kenapa bisa mengubah hidup seseorang, bukankah itu agak berlebihan?”
“memang benar kalau pertama kali mendengar hal ini akan berfikir berlebihan. Tapi itulah yang sebenarnya?”
“contohnya?”
“contohnya… hmmm, bagaimana ya menjelaskannya? Oh begini saja! Edward dan organisasinya selalu mencari informasi mengenai bagaimana dan seperti apa itu hubungan percintaan. Yang mana setiap disitu ada laki-laki dan perempuan yang sedang berinteraksi atau cukup dekat maka disitulah ia akan bersarang sekalipun mereka bukan berstatus pacaran atau sesuatu yang lebih tinggi lagi.
terus kalau mereka sudah mendapat informasi, apa yang akan mereka lakukan?” Tanya Cheryl yang terlihat semakin penasaran.
“tentu saja mereka akan memilah informasi tersebut dan setelah itu akan mereka jadikan tuntunan untuk mendapatkan pasangan seperti yang mereka inginkan, begitulah yang Edward jelaskan saat aku bertanya.” Ucapku memperjelas.
“hmmm, begitu ya, terus dimana letak bahayanya? Bukankah itu wajar sebagai manusia yang selalu berusaha dan belajar dari sekitarnya jika menginginkan sesuatu.”
“memang benar, tapi kamu lihat sendiri kan bagaimana dia terus mengikuti aku, setiap aku bersama dengan perempuan maka di situlah dia akan muncul terutama saat bersama kamu.”
“mungkin Edward menganggap kita sebagai pasangan?”
“hah...” kata ku tercengang mendengar Cheryl berbicara seperti itu.
“ee.. bukan! Maksudku… mungkin karena kamu teman baiknya jadi dia mengikuti kamu.”
 “tapi bukan berarti harus ikut campur dengan urusan pribadiku.”
Tak terasa perjalanan dengan cheryl harus berakhir untuk malam ini.
“akhirnya sampai juga, terima kasih ya sudah mengantarku sampai depan rumah.”
“iya, nggak apa-apa kok. Kalau begitu sampai besok ya?”
“iya.. bye!”
Setelah mengantar cheryl sampai di depan apartemennya, aku pun memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.
“pasangan ya?” apa mungkin aku akan bisa memahami cinta jika aku menjadi pacarnya? Tapi bagaimana aku melakukannya, dan aku sendiri pun masih tidak tahu apa itu cinta. Masa aku harus menyatakannya hanya demi sebuah informasi? Biarlah… hari ini sudah cukup melelahkan, sebaiknya aku tidur saja.
***
“syukurlah, masih tersisa waktu sebelum jam pertama masuk.” Gara-gara semalam teringat dengan kata-kata Cheryl, semalaman aku dibuat pusing dan akhirnya aku bener-benar tidak bisa tidur.
Padahal sih bukan kata-kata mutiara atau pesan, tapi lebih mengarah ke susuatu yang sepele. Namun, ketika aku teringat kembali dengan misi yang sedang aku jalani sekarang. Rasanya ada sesuatu yang akhirnya membuatku menjadi bimbang.
Tapi apapun itu, sebaiknya aku tetap terus melanjutkan misi ini, karena aku yakin jika aku mengetahui arti sebenarnya dari sebuah cinta mungkin akan ada perubahan besar yang akan terjadi dsekitar saya. Baiklah, sekarang waktunya mencari bahan yang relevan untuk aku jadikan tuntunan.
Hampir lupa, saat ini aku sedang berada di perpustakaan. yah meskipun tadi hampir terlambat, namun bukannya aku langsung masuk kedalam kelas tapi aku justru mampir ke perpus. Namun, ini juga ada alasannya. Masalahnya ada buku yang seharusnya aku bawa namun tertinggal saat aku tergesa-gesa ke sekolah. Makanya sekarang aku sempatkan untuk meminjamnya di perpus.
“mana ya, bukunya. Seharusnya ada disekitar sini…”
‘brakk,’ tanpa sengaja aku menabarak seseorang.
“maaf, maaf, kamu nggak apa-apa kan?” ucapku meminta maaf. Siapa gadis ini, rasanya aku baru pertama kali bertemu dengannya.
“iya nggak apa-apa kok.”
“wah, banyak banget buku yang kamu bawa?”
“iya, aku sudah selesai membacanya. Jadi sekarang aku mau mengembalikannya.” Jawab gadis tersebut.
“semuanya?”
“iya, memang kenapa?”
“nggak apa-apa sih, hanya jarang sekali aku melihat orang yang bisa membaca buku-buku setebal ini sampai tuntas.”
“aku bantu ya?” usulku.
“nggak usah, aku bisa sendiri.
“nggak apa-apa, lagian juga aku yang sudah menabrak kamu jadi tolong biarkan aku menebus kesalahanku.”
“baiklah kalau kamu memaksa.”
“ngomong-ngomong siapa nama kamu, kok rasanya aku jarang melihatmu atau lebih tepatnya baru melihatmu di sekolah ini. Murid pindahan ya?”
“bukan.”
“tapi kenapa aku baru melihatmu?”
“ namaku angela sara dan aku seangkatan dengan kamu”
“tunggu sebentar, angela sara, angela sara... mungkinkah kamu siswa yang mendapat peringkat satu namun tak pernah muncul ke podium saat pemberian piagam?”
“iya, namun aku tidak bermaksud sombong atau bagaimana, hanya saja situasi saat itu memang mengharuskan saya untuk tidak menghadiri acara tersebut.” Jawab angel yang terlihat agak ketakutan.
“nggak apa-apa kok, lagian aku juga tidak mempermasalahkannya. Oh iya, perkenalkan, namaku akio ahsan dari kelas 2A.”
“salam kenal” ucapnya.
“ngomong-ngomong ini mau ditaruh dimana?”
“disini”
“baiklah, yap, selesai.”
Bel tanda masuk pun berdenting mengingatkanku dengan sesuatu yang begitu penting.
“waduh, sudah masuk ya, bagaimana ini?”
“ada apa sih?”
“buku modul seni saya tertinggal dirumah karena tadi aku berangkat dengan tergesa-gesa takut terlambat, makanya aku kesini mau meminjanya. Tapi aku cari kemana-mana tidak ada, bagaimana ini ya?”
“kebetulan aku membawanya, kalau kamu tidak keberatan, aku bisa meminjamkannya kok”
“serius, tapi kamu sendiri bagaimana?”
“nggak apa-apa kok, lagian pelajarannya dimulai jam ke 5 sehabis istirahat nanti.”
“baiklah, kalau begitu aku pinjam dulu ya. Ngomong-ngomong kamu kelas apa?”
“aku kelas 2E.”
“2E ya, kalau begitu nanti saat jam istirahat akan aku kembalikan.”
“iya,”
“pak aris pasti hampir sampai dikelas, sudah dulu ya, dan terima kasih bukunya.: ucapku sambil berlari keluar.
***
Bel tanda istirahat telah berbunyi. Syukurlah jam pertama saya tertolong oleh buku ini. Sekarang sebaiknya aku kembalikan saja.
“akio kamu punya waktu sebentar nggak?”
“ada apa anna?”
“ikut aku sebentar yuk, ada sesuatu yang ingin aku tunjukan kepada kamu?” ajak anna menarik tanganku.
“ta, tapi aku…”
“ayo ikut saja, Cheryl, akio aku pinjam dulu ya?” ucap anna sambil menarik tanganku.
“hah, kenapa ijinnya ke aku?”
“kita mau kemana sih?” tanyaku yang memang penasaran dengan tingkah anna yang mendadak seperti ini.
“nanti kamu juga tahu, ayo ikut aku saja.”
“kalau begitu, ijinkan aku mengembalikan buku ini dulu.”
 “baiklah, tapi selanjutnya kamu harus ikut aku ya?”
“siap.”
Setelah aku berkata seperti itu, anna terus menarikku kesana kemari. Entah apa yang akan dia lakukan terhadap saya, tapi semoga saja aku tidak membuat kesalahan.
“sudah sampai… ayo, sekarang kembalikan bukunya?” ucap anna.
‘buku apa?”
“katanya tadi mau mengembalikan buku, sekarang kita sudah sampai di perpus. Jadi silahkan kembalikan bukunya.”
“tapi aku meminjamnya bukan disini…”
“terus kemana?”
“makanya jangan asal tarik saja, ayo ikut aku?” ucapku.
***
“nah, kita sudah sampai”
“2E?” ucap anna yang terlihat penasaran.
“tunggu sebentar ya?”
“maaf, sara-nya ada?” tanyaku ke salah satu siswi yang ada di dalam kelas.
“sara? Dia kelasnya tidak disini.”
“tapi tadi pagi dia bilangnya ada di kelas ini, kelas 2E”
“memang benar dia siswi kelas 2E, namun yang dia maksud adalah kelasnya sendiri bukan kelas ini”
“memang kelas 2E ada berapa?” tanyaku karena bingung.
“pada dasarnya Cuma ada satu, namun entah karena alasan tertentu dia harus tinggal di kelas yang berbeda dengan kita.”
“memang kenapa?”
“kami juga tidak tahu alasannya?”
“terus, dimana kelasnya?”
“kalau kelasnya ada disamping kanan ruang perpustakaan.”
“kalau begitu terimakasih atas informasinya?” ucap ku berpamitan.
“sama-sama.”
“bagaimana, sudah kamu kembalikan bukunya?” Tanya anna.
“kelasnya bukan disini/”
“lho, kenapa?”
“nanti akan aku ceritakan, ayo!” ajakku.
“hey, kenapa kita kembali lagi ketempat ini, katanya bukan di perpustakaan? Tapi…”
“emmm, kalau tidak salah sebelah kanan perpus. Mungkin ini tempatnya?”
“kenapa kita kesini? Bukankah ini ruangan bukan unuk umum?”
“permisi, ini saya akio, yang tadi pagi meminjam buku kamu. Sekarang aku mau mengembalikannya.”
“maaf, sekarang aku sedang sibuk, bisakah kamu titipkan ke perpus saja?” jawab sara yang rupanya memang ada di dakan ruangan itu.
“baiklah, akan aku titipkan ke perpus, tapi sebelumnya bisakah kita bicara? Ada sesuatu yang ingin aku ketahui dari kamu?”
“tapi sekarang aku sedang sibuk” jawabnya dari dalam ruangan.
“kapan-kapan juga boleh.”
“kalau begitu, bagaimana kalau besok sebelum jam pelajaran masuk?”
“baiklah kalau itu mau kamu. Dimana kita bisa bertemu?”
“disini?”
“okey, sampai besok ya, dan terima kasih bukunya.”
“ayo anna!” ajakku.
Setelah aku menitipkan buku yang aku pijam dari sara, aku pun kini melanjutkan perjalannan menuju tempat yang anna inginkan.
“akio tadi siapa?”
“oh, tadi sara dari kelas 2E?”
“sara? Maksudmu angela sara yang mendapat peringkat 1?”
“iya, kenapa dia ada di ruang itu?”
“entahlah aku juga ingin tahu, tapi yang pasti itu adalah ruang kelasnya.”
“hah?”
“yang lebih penting kita mau kemana ini?” tanyaku.
“hampir lupa, ayo! Semoga saja masih ada waktu.”
Anna pun menyuruhku berlari.
“syukurlah masih ada waktu, ayo, silahkan duduk!”
“kenapa kita ke kantin?”
“pesanlah apa yang kamu inginkan.”
“maksudnya?” tanyaku yang semakin tidak jelas.
“ini sebagai rasa terimakasih dari saya karena berkat rencanamu itu sekarang keluarga saya sudah kembali seperti dulu.”
“tapi kenapa cuma saya, Cheryl kan juga ikut membantu dan Edward pun ikut membantu juga meskipun dia hampir membuat semua rencana kita hancur.”
“memang benar, makanya nanti setelah ini aku juga mau melakukan sesuatu kepada mereka seperti yang aku lakukan saat ini dengan kamu.”
“kenapa tidak bersama-sama saja?”
“salah ya jika hanya berdua saja dengan kamu?”
“tidak sih, tapi?”
“atau jangan-jangan kamu takut nanti Cheryl cemburu ya?”
“hah? Kenapa kamu ngomong seperti itu, kita nggak…”
“ya sudah, kalau begitu terima saja tawaranku ini, toh aku Cuma  mau mrntraktir kamu bukan mau melakukan sesuatu.”
“iya, iya aku terima!”
“nah, begitu dong!”
“tapi ingat ya kamu juga harus melakukan hal yang sama kepada mereka berdua seperti yang kamu lakukan terhadap saya/”
“tenang saja, aku janji kok.” Kata anna.
“soalnya aku tidak suka melihat orang yang membeda-bedakan…”
“iya, iya… ayo, silahkan pesan makanannya”
***

bersambung


Note : Hak Cipta karya tulis ini sepenuhnya milik Hirekija. dilarang melakukan penggandaan atau plagiat dalam bentuk apapun.  cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. 
Continue reading...