Sunday, August 13, 2017

Life Not Equel Math ch 7

Chapter 7 : hari bersejarah untuk mira
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah datang. Kini aku, Cheryl, dan Anna pun tengah menuju ke suatu restoran yang sengaja kita pesan untuk pesta ... “hei akio, kita mau kemana sih?” Tanya Edward memotong narasi yang tengah aku baca dalam hati.
Lebih baik narasinya aku ulangi saja,
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah datang. Kini aku, Cheryl, dan Anna pun tengah menuju ke suatu restoran untuk mengambil kue yang kita pesan untuk pesta ulang tahun Mira.
“woy, ditanya kok malah dicuekin”
eh..., kita mau ke restoran.”
“wah, emang ada apa sih menang lotre ya, atau kamu sudah dapat?”
“maksudnya?”
“itu, ‘pacar..’” bisiknya.
“ada apa sih, kok bisik-bisik bicaranya?”
“oh.., nggak ada apa-apa kok?”
“bener nggak ada apa-apa?”
“iya Cheryl.” Jawabku.
“ayo, jangan becanda terus nanti kita telat” ujar anna memotong pembicaraan kita.
“iya, dan lagian, kenapa kamu mengikuti kami sih edward?”
“jahat banget sih kamu, padahal kita kan sahabat.”
“sudah, nggak usah ngulang yang dulu dulu, nanti harga diriku hancur lagi.”
“lha itu nyadar.” Jawabnya dengan sok.
Nih, anak semakin hari kalau bicara denganku bukan tambah nyambung tapi tambah emosi “ehem, baiklah… memangnya kamu nggak ada urusan lain lagi apa, selain mengikuti kami. Misalnya seperti organisasi sesatmu itu atau urusan penting lainya?”
“ini sedang aku lakukan.”
“maksudnya?”
“ya mengikuti kalian.”
“pentingkah urusanmu itu?”
“tentu saja penting, karena ini demi keseimbangan dunia.”
“maksudnya, dan kenapa kamu bawa-bawa dunia? Kamu nggak berencana memicu perang lagi kan?” tanyaku yang semakin tidak mengerti dengan jalan pikirannya Edward.
“ya jelas pentinglah, dan tentu saja bukan urusan perang! coba kamu banyangkan, setiap hari setiap aku pulang sekolah entah itu di organisasi atau ditempat lain aku selalu saja dikelilingi cowok, sedangkan kamu setiap pulang sekolah selalu dikawal oleh dua cewek, dan bukan cuman itu saja, saat libur pun kamu tetap bersamanya, bagaimana mungkin ini dinamakan dunia adil. Ini namanya kejam tahu!”
“siapa suruh kamu mengikuti organisasi sesat itu”   
“hey, itu bukan organisasi sesat itu organisasi..”
“kalian bisa diam nggak! Semakin kalian banyak bercanda semakin banyak pula waktu yang kita buang. Jadi kalu kalian nggak mau membantuku sebaiknya kalian nggak usah ikut.” Bentak anna yang mulai marah dengan tindakan kami.
“maaf…”
***
Kami pun akhirnya sampai di restoran.
“Selamat datang di restoran kami, ada yang bisa kami bantu tuan?”
“saya yang kemarin pesan kue ukuran sedang?”
“oh, ternyata mas mencurigakan yang memesan kue ya?”
“siapa lagi yang mencurigakan!”
“oh, maaf keceplosan.”
“hahaha...”
“kalau kuenya sudah siap mas. Sebentar ya saya ambil dulu?”
Beberapa saat kemudian pelayan itupun datang dengan membawa kotak yang berisikan kue yang telah kita pesan.
“ini mas kuenya?”
“jadi berapa?”
“semuanya jadi 10 silfar.”
“oh, biar aku saja yang membayar.” Kata anna mengajukan diri. “ini mba, ayo kita pulang.”
“hey, kita langsung pulang ya?” kata edward yang terlihat kecewa.
“ya tentulah emang mau apalagi?”
“nggak makan dulu apa?” usul edward.
“nggak ada waktu, lagian juga kita sedang buru-buru nih.” Jawab cheryl.
“sia-sia aku ikut?”
“sudah nggak usah kecewa seperti itu, mumpung kamu juga sudah bersama kami, bagaimana kalau kamu ikut membantu kami?” ucap cheryl.
“membantu apa?”
“jadi begini...” kataku yang kemudian membisikan maksud kami ke telinga edward.
“oh, begitu ya. Kalau kamu bilang sejak awal pasti akan aku bantu dan untuk rencana pasti tidak akan menjadi seperti ini.”
“paling minta bantuan ke komunitas sesatmu itu”
“eich-eich,... sekalipun hubungan antar individu aku belum benar-benar memahami, namun untuk hal ini akulah ahlinya. Dengan pengalaman 2000 jam terbang sudah tak bisa dipungkiri bahwa aku ahli dalam membuat kejutan.”
“nggak usah mengkhayal. Ayo, nanti kita terlambat!” kataku.
***
“Untunglah kita tepat waktu. Ayo teman-teman kita persiapkan semuanya.”
“okey!”
Sesampainya kami di rumah anna, kami pun segera mempersiapkan segala sesuatunya sebelum mira pulang dari sekolah.
“okey, semuanya sudah siapkan?” kataku memberi aba-aba.
“iya”
“kalau sesuai dengan perhitunganku, dia pasti akan sampai sekitar 2 menit lagi, jadi bersiaplah diposisi kalian.”
 “saya pulang,” kata mira yang terdengar dari arah depan.
“kok gelap sih. bu, kak? kalian dimana?”
“Kak... Bu... Ibu... kalian dimana?” kata mira yang terus mencari-cari keberadaan anna dan ibunya.
“ayo, satu, dua tiga!” bisikku memberi aba-aba.
“selamat ulang tahun!!!” teriak semaunya
Entah kenapa setelah kami memberinya kejuta, ia pun hanya terdiam. Kami pun terus memandanginya dengan sejuta perkiraan. Apakah ia bahagia, apakah ia senang, apakah ia sedih atau apakah ia marah atas perbuatan kami. Saat itu kami pun ikut terdiam.
“... sudah, sudah selesai. Membosankan!” ketus mira sambil berjalan
“aku tahu kamu tidak suka hal-hal seperti ini. Jangankan hal seperti ini, berbaur dengan orang lain kamu pun membencinya. Namun paling tidak hargailah kakakmu ini. Dia sudah susah payah membuat semua ini.” Ucap edward dengan lantang-nya.
“tahu apa kamu? Jangan ikut campur urusan orang lain!”
“memang aku nggak tahu apa-apa, dan ini memang bukan urusanku. Tapi melihatmu bertingkah egois seperti itu didepan kakakmu sendiri membuatku tidak tahan saja....”
Entah kenapa tubuh mira mulai terlihat gemetar, ia seakan-akan takut akan sesuatu. Wajahnya mulai pucat dengan ekspresi menahan ketakutan yang begitu dalam “sudah edward,” ucapku menghentikan edward karna khawatir dengan kondisi mira.
“tapi,“
“sudah! Nggak usah diperpanjang lagi.” Teriakku karna edward tidak mau mendengarkan ucapanku.
“kenapa kamu yang jadi marah! Emang siapa yang bersalah disini!”
“aku tahu kamu Cuma mau membenarkan yang seharusnya, tapi lihatlah kondisinya.”
“maaf, bukankah kita kesini mau merayakan ulang tahunnya mira. Tapi kenapa jadi seperti ini?” ucap cheryl mencoba mengubah suasana.
“sudah tidak perlu, gadis seperti dia ulang tahunnya tidak pantas dirayakan.”
“edward!” teriakku.
“e,.. mira tunggu sebentar!” panggil anna mengejar mira yang berlari masuk ke dalam setelah mendengar ucapan seperti itu dari edward.
“kamu kenapa sih? Semakin hari mulut kamu semakin tidak bisa dijaga” ucapku kepada edward.
“ya maaf, tapi memang aku sudah nggak tahan melihatnya. Saat pertama kali aku kesini aku masih bisa terima perlakuan itu karna aku sadar aku tidak sopan, tapi untuk yang satu ini aku tidak bisa terima, karena bagaimanapun juga anna adalah kakaknya dia. jadi dia harus menghormatinya.”
“terus bagaimana ini, semuanya jadi kacau.” Kataku yang bingung dengan keadaan ini.
“untuk saat in lebih baik kita tunggu saja, mungkin nanti mira akan berubah pikiran.” Kata cheryl.
“tapi, kalau seperti ini kita jadi seperti tamu tak diundang.”
“memang benar sih, tapi mau bagaimana lagi.”
Beberapa saat kemudian kami pun mendengar pertengkaran antara mira dan anna.
“bagaimana ini?” ucap cheryl yang merasa tidak enak.
“Sebaiknya kalian pulang dan jangan pernah datang kemari lagi” kata ibunya anna mengusir kami dari rumahnya.
“kalau begitu kami permisi dulu bu. Dan maaf karena kami telah membuat masalah.” Ucap cheryl.
“tunggu sebentar!” cegat anna dari dalam. “kalian jangan pulang dulu.”
“tapi kan?”
“nggak apa-apa, kalian nggak salah!” kata anna.
“mau apa lagi, belum cukup kamu membuat adik kamu seperti ini?”
tentu saja, karena aku ingin dia kembali seperti dulu. Bukan menjadi sampah seperti ini!”
‘prakk!!!!’ suara tamparan pun terdengar begitu kencang.
“tarik.., tarik kembali ucapanmu itu.
“bu, sudah bu!” ucap mira yang rupanya ikut mendengar perdebatan antara anna dengan ibunya
“...Karena bagaimana pun juga dia adik kamu.” Lanjut ibunya anna
“tapi memang benar kan! Persetan dengan kematian ayah, persetan dengan hari kelahirannya. Kalau dia tidak bisa menerima hidupnya sendiiri, ...Bukankan itu sama saja dengan sampah. Aku tidak akan membuat hal-hal seperti ini, aku tidak akan mengusik kehidupan pribadi mira. Tapi sebaliknya tolong kembalilah seperti dulu sebagai adik yang aku sayangi.”
“bagaimana mungkin aku bisa kembali seperti dulu, sedang setiap hari aku terus dihantui dengan tingkah ibu yang seakan-akan ayah masih ada. Aku pun tidak ingin seperti ini namun bagaimana lagi... Karena keegoisanku ayah jadi meninggal, karena, karena keegoisanku pula keluarga ini hancur.” Balas mira meluapkan semua isi hatinya. “aku takut kalau aku kembali seperti biasa, aku akan membuat kalian lebih menderita lagi.”
“kenapa harus takut,  dan apa yang kamu takutkan?” tanya anna.
Mira hanya terdiam.
“takut kami akan membencimu, takut karena dihari ulang tahunmu ayah meninggal atau takut apa? Kami tidak akan membencimu, kami tidak akan menjauhimu atau bahkan meninggalkanmu. Kami ini keluargamu. Kami hanya ingin kamu hidup bahagia bersama kami.” Ucap anna yang akhirnya mengerti dengan situasi mira. “dan ibu, kenapa terus membayangi mira dengan kematian ayah?”
“ibu bukan bermaksud seperti itu.”
“terus kenapa?” tanya anna memojokan ibunya.
“mira bukan anak kecil bu, mira sudah tahu mana yang kenyataan dengan mana yang mimpi.” Tambah mira melanjutkan kalimat anna.
“ibu tidak ingin melihat masa anak-anak mira menjadi kelam karena kematian ayahnya. Ibu tidak ingin melihat mira menderita, makanya ibu terus mencoba melakukan hal itu sampai pada waktunya nanti ibu akan menjelaskan semuanya... Ibu tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini. Ibu minta maaf. Ibu nggak bermaksud seperti itu.”
“mira juga minta maaf bu. Selama ini mira sudah membuat ibu khawatir.” Kata mira memeluk ibunya.
“jadi, sekarang bagaimana?” kataku yang mulai merasakan perubahan suasana.
“mari kita buat hari ini menjadi hari bersejarah untuk mira! Ayo mira, sekarang tiup lilinnya dan buat hidup kamu menjadi lebih baik lagi!” seru anna.
“terima kasih kak.”
“ayo buat harapanmu dan segera tiup lilinnya!” kata ibunya.
Mira pun akhirnya meniup lilinnya.
“mira ini hadiah dari kami, tolong diterima ya?” ucapku sambil memberikan kado tersebut.
“terima kasih kak.”
“ibu juga punya sesuatu untuk kamu tunggu sebentar ya?”
“mira, ini juga kado dari ibu.”
“wah banyak banget bu.”
“iya, karena ini adalah kado yang seharusnya ibu berikan beberapa tahun lalu.”
“terima kasih bu.”
“dan ini juga kado terakhir dari ayah yang beliau titipkan sebelum terbang ke luar negeri.” Kata ibunya memberikan kado tersebut.
Setelah mendengar hal tersebut wajah mira mulai tampak berlinangan air mata.
“bu… maaf bu, maaf...” ucap mira yang kini tampak sudah tak mampu untuk menahan air matanya.
“iya, dan kenapa menangis, ini kan hari ulang tahunmu? Ayo tersenyum!” jawab ibunya.
Syukurlah semuanya berjalan dengan lancer sesuai dengan rencana. Dengan begini misiku untuk hal ini sudah selesai. Selanjutnya aku harus kembali ke rencana awal. Hah, sekalipun berpikir demikian, sampai saat ini aku pun belum menemukan seseorang yang bisa aku jadikan sebagai pacarku agar aku bisa mengerti apa itu cinta.
“hey, kenapa melamun akio? Ini, aaa….”
“apaan sih Cheryl?”
“karena dari tadi kamu bengong terus, sini aku suapin kue. Enak lho…”
“jangan-jangan! aku bisa sendiri kok.”
“cie cie… disuapin?” kata Edward yang lagi-lagi mengejekku.
“apaan sih.” Kataku yang terpaksa menjawab.
“ayo-ayo, silahkan makanannya dinikmati.” Kata anna mempersilahkan.
Waktu pun berlalu begitu cepat.
“cheryl, sudah jam segini. Pulang yuk!” ucapku berbisik ke Cheryl.
“ayo!” jawab Cheryl.
“maaf bu, mungkin sudah waktunya kami untuk pulang.” Ucapku berpamitan karena sekarang memang sudah jam 9 malam.
“sudah mau pulang ya. Padahal sedang asyik-asyiknya.”
“iya bu.” jawab Cheryl.
“mungkin lain kali kami akan main lagi.” Tambah Edward.
“Edward!” ucapku.”
“nggak apa-apa kok, lagian ibu juga senang melihat anna mempunyai teman seperti kalian. Maaf ya kalau tadi ibu sempat mengusir kalian.”
“nggak apa-apa kok bu, sebaliknya kami juga minta maaf karena kami sudah membuat keributan.” Ucapku.
“kalau begitu kami permisi dulu, sampai jumpa lagi di sekolah ya anna!” ucap Cheryl berpamitan.
“iya terima kasih ya.” Jawab anna.
Kami pun akhirnya berjalan pulang.
“wah, nggak nyangka ya, kalau akting anna dengan ibunya tadi begitu nyata.”
“akio, aku rasa tadi memang beneran dan bukan akring”
“serius!”
“buat apa aku berbohong, dan kalau tadi memang acting, apakah di skenario yang kita buat ada adegan menamparnya?”
“iya juga ya. Tapi yang penting mereka sudah berbaikan. Dan dengan kata lain semua usaha kita selama ini tidak sia-sia.”
ada apa kasih tahu dong?
“bukan apa-apa Edward.”
bersambung


Note : Hak Cipta karya tulis ini sepenuhnya milik Hirekija. dilarang melakukan penggandaan atau plagiat dalam bentuk apapun.  cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. 
Continue reading...

Saturday, July 29, 2017

Life Not Equel Math ch 6


Chapter 6 : Marah ya?
“akio, kalau hanya ingincari tahu makanan dan minuman kesukaannya mira, kenapa nggak tanya langsung sama anna saja? Dia pasti akan memberitahukanya dan yang pasti nggak perlu repot-repot berdebat dengan pelayan.”
“iya juga ya. Maaf, nggak kepikiran sampai situ.”
Beberapa saat kemudian pesanan kami pun datang.
"maaf menunggu lama, ini pesanannya."
"terimakasih"
"kalau begitu saya permisi dulu dan selamat menikmati."
Untuk beberapa saat kami pun terdiam untuk meneguk jus yang telah kami pesan.
"jadi..?" tanya cheryl.
"apa..?"
"…selanjutnya kita mau ngapain?" jawabnya menyambung.
"ngapain? Kamu sendiri tahu kan? Tentu saja kita akan mengikuti mira sampai ia pulang."
"terus, bagaimana dengan tujuan awalmu untuk datang ke sini?"
"tentu saja sedang kita lakukan."
"hah? Jangan bilang kalau kamu datang kesini hanya untuk…”
“eich, tunggu sebentar, aku tahu apa yang akan kamu katakan tapi untuk sebagiannya juga salah..”
“maksudmu?”
“memang benar tujuanku datang kesini ada kaitannya dengan mira. Namun, aku juga tidak menyangka kalau kita akan bertemu dengannya disini.. Jadi  ketimbang menebak hadiah yang cocok untuknya tapi belum tentu dia sukai, dan mumpung orangnya ada, kenapa tidak sekalian kita ikuti. Mungkin saja, kita bisa menemukan kunci permasalahan yang terjadi terhadap trauma yang dialami mira.”
”terus, kenapa mengajakku juga?”
“kalau itu,... Karena kamu seorang cewek sama seperti mira, jadi mungkin, jika aku mengajakmu aku bisa memahami apa yang paling disukai seorang gadis, terutama saat ini untuk mira.”
“jadi intinya kamu mengajakku kesini hanya dijadikan sebagai alat ukurmu saja!”
“yahahaha, tidak seperti itu juga sih” aduh kenapa cheryl tiba-tiba marah, apa aku membuat kesalahan ya? Tapi kalau dilihat, ini pertama kalinya aku melihat cheryl marah.
“… kalau tahu begini seharusnya tadi pagi aku tolak saja tawaranmu, kecewa jadinya, aku terlalu berharap…”
“hah kamu tadi bilang apa?”
“bukan apa-apa!”
“kamu marah ya?”
“nggak kok”
“tapi wajahmu bilang begitu, maaf ya kalau aku salah. Tapi, untuk sebagian juga sudah jadi tanggungjawabmu. Kamu nggak lupa kan tugas yang sudah kita buat tadi pagi saat istirahat?”
“iya aku ingat, …ngomong-ngomong, mira sedang menunggu siapa ya?"
"entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi bagaimana kalau ia tidak sedang menunggu seseorang, bagaimana jika ia hanya sedang beristirahat?"
"tapi kenapa raut wajahnya seperti itu? Dan, kalau kamu berpikir dia disini hanya untuk istirahat saja, kenapa kita mengukutinya!"
“tujuan kita dari awal kan mencari tahu hadiah yang pas untuknya, jadi mau tidak mau kita harus mengikutinya.”
“memang nggak ada cara lain apa selain menunggu, kenapa nggak langsung ditanya saja, kenapa harus mengikutinya? Bikin repot saja!"
“lho kenapa jadi marah? Kan kamu sendiri yang mengusulkan untuk membantu anna, tapi kenapa kamu sekarang yang marah.”
“memang aku yang mengusulkan untuk membantunya, tapi aku tidak mengusulkan untuk kamu menipuku!”
“maksudanya?”
“maksudnya ya… ah…! Dasar tidak peka. Lebih baik aku pulang sajalah!”
“hei tunggu!” Aduh, kenapa jadi begini. “pelayan,!”
“ya ada apa?”
“semuanya jadi berapa?” Aku harus mengejarnya.
“semuanya jadi 20 silfar.”
“ini uangnya, terima kasih” ucapku yang kemudian berlari mengejar cheryl.
“kemana ya perginya cheryl? Cheryl” ucapku sambil terus berjalan mencari.
Oh itu dia! “cheryl! Tunggu sebentar.” Akupun segera menghampirinya.
“kenapa kamu marah sih?”
“aku nggak suka saja sama cara kamu?”
“maksudnya?”
“aku nggak suka cara kamu meminta bantuan yang terkesan menutupi apa yang kamu inginkan dari bantuan tersebut. Kamu seolah-olah hanya memperralat seseorang yang kamu mintai bantuan. Begitulah yang tersirat dalam benakku saat mendengar tujuan sebenarmu.”
“terus, salahkah aku?”
“ya jelas salah, apa yang kamu lakukan ini hanya membuat orang yang kamu mintai tolong berpikir tentang sesuatu yang sebenarnya tidak akan kamu lakukan. Dan kamu tahu itu, itu hanya membuat orang tersebut menjadi kecewa.”
”kalau begitu aku minta maaf, aku nggak tahu kalau kamu akan sebegitu kecewanya terhadap apa yang aku lakukan.”
“hm!” Jawabnya ketus.
“ayolah, maafkan aku ya?”
Aduh bagaimana ini, aku sudah buat anak orang marah. Kalau begini terus bisa-bisa cheryl membenciku. Dan kalau seperti itu semua rencana yang dibuat untuk mira bisa-bisa terhambat atau bahkan gagal. Pokoknya aku harus melakukan sesuatu.
“baiklah, karena sebagian juga sudah menjadi tanggungjawabku, jadi akan aku  maafkan. Tapi, dengan satu syarat?”
“apa itu syaratnya?”
“syaratnya mulai dari sini kamu yang harus mengikuti rencanaku, bagaimana, mau?”
“baiklah akan aku ikuti. Terus seperti apa rencananya”
“begini…!” Kata cheryl yang kemudian membisikan sesuatu ke telingaku.
“hah…? Kenapa harus seperti itu”
“itu terserah kamu, mau mengikuti caraku atau tidak?”
“iya baiklah, akan aku ikuti.”
“okey, kalau begitu sebaiknya kamu bersiap-siap sementara aku akan terus mengawasi mira.”
Beberapa saat kemudian akupun sudah ada di pinggir jalan raya dengan mengenakan kostum badut yang diberikan cheryl untuk aku pakai.
“hah, kenapa aku jadi begini sih?, udah panas lagi.”
“sudah nggak usah banyak mengeluh, sebentar lagi mira akan melewatimu, jadi bersiap-siaplah.” Jawab cheryl melalui handphone.
“iya aku tahu.”
Itu dia orangnya “selamat siang?”
“siang, ada apa ya?”
“kami dari perusahaan bedream ingin menawarkan promo gratis besar-besaran.”
“maaf saya tidak tertari.”
Aduh,… “tunggu dulu mbak. Perusahaan kami adalah perusahan swasta  berskala nasional yang bertujuan mewujudkan impian terdalam setiap konsumen dengan biaya terjangkau. Dengan kata lain kami akan memenuhi keinginan anda sebisa mungkin dengan biaya yang cukup terjangkau. Dan karena saat ini perusahaan kami telah memasuki usia yang ke 3 tahun maka kami tengah mengadakan event gratis yang mana mbak bisa mengabulkan impian terdalam mbak tanpa sepeserpun uang yang harus anda keluarkan. Dengan syarat permintaan tersebut tidak diluar nalar.”
“maaf pak, saya tidak tertarik dengan hal seperti itu. Jadi maaf ya.”
“ya kalau begitu, sebagai bahan survey. Mohon tulis keinginan terdalam mbak”
“baik, akan aku tulis mana alat tulisnya.”
“ini mbak.”
“ini, sudah saya tulis. Kalau gitu saya permisi dulu.”
“silahkan mbak.” Okey, semoga saja yang tertulis disini adalah permintaan mira yang sebenarnya.
“bagaimana! Sudah dapat?” kata cheryl yang tiba-tiba muncul dari belakang.
“iya ini sudah aku dapat. Ngomong-ngomong kamu dapat kostum ini dari mana?”
“oh, itu... beberapa hari yang lalu aku dapat kenalan sama orang sini yang mempunyai toko kostum. Kebetulan tokonya sedang sepi jadi aku pinjam saja alih-alih mempromosikan. Bagaimana, cemerlang bukan ide saya?”
“iya, terus catatan ini mau kita apakan?”
“sekarang coba kamu baca?”
“baik akan aku baca...  disini tertulis ‘jangan ikut campur urusan orang lain!’... lho kenapa seperti ini?”
“hmm... kalau seperti ini jalan terbaiknya cuman satu.”
“apa itu?”
“ikhlaskan saja!”
“kenapa seperti itu, kamu juga ikut bertanggungjawab lho”
“iya-iya aku tahu.”
“hm,.. kalau seperti ini nggak ada pilihan lain selain kembali ke plan A”
“maksudnya kita mengawasinya lagi? Kamu nggak sadar ya dengan tulisan itu?”
“iya aku tahu, dan siapa lagi yang mau mengikuti mira. Aku kan Cuma bilang kembali ke plan A. Artinya kita jalan-jalan cari benda yang pas buat mira.”
“oh, begitu ya?”
“iya, ayo! Tapi sebelumnya aku juga mau ganti baju dulu” ajakku menarik tangan cheryl
“kenapa, kan bagus.”
“tapi memakai pakaian seperti ini rasanya seperti dipanggang ”
Aku pun terus memegang tangan cheryl ke berbagai tempat hingga akhirnya sampai di sebuah mall yang cukup besar.
“meneurutmu, hadiah yang cocok untuk mira benda seperti apa? Boneka, cincin, atau apa?”
“kalau aku sih lebih memilih boneka, tapi kalau untuk selera mira aku tidak terlalu yakin?”
“baiklah kita ke toko boneka saja?”
“hah?”
“ada apa, nggak mau ya?”
“bukan begitu, tapi ?”
“kan sudah aku bilang kalau tujuanku meminta kamu menemaniku kesini buat mencari hadiah yang cocok buat mira, jadi setiap pendapat yang kamu lontarkan tentu saja akan aku coba. Paham kan maksudku?”
“iya sekarang aku tahu.?”
“kalau begitu ayo?”
Setelah itu kami pun terus mencari-cari hadiah yang cocok untuk mira.
“wah, lucu-lucu sekali bonekanya?”
“bagaimana? Sudah ada yang cocok tidak menurutmu?”
“entahlah, tapi sebelum kita beli sebaiknya kita lihat-lihat dulu.”
“okey”
“hey...?” kata cheryl sambil melihat-lihat boneka.
“iya?”
“kenapa tidak kamu pilih hadiahnya sesuai dengan kata perasaanmu saja? Bukankah yang terpenting dari sebuah kado itu adalah ketulusan dari perasaan yang memberikan hadiah tersebut?”
“memang benar sih kalau bicara kado, aku pun bisa memilihnya sendiri. Namun, rasanya kurang saja kalau kamu nggak ikut?”
“kenapa?”
“emm alasannya ya.... karna kamu juga punya tanggungjawab yang sama jadi tentu saja aku ajak kamu.”
“oh, begitu ya. Terus, kalau aku tidak punya tanggungjawab yang sama denganmu, apakah kamu juga akan mengajakku?”
“kalau itu tergantung kamu mau ikut apa nggak.”
“lho kok malah balik tanya?”
“ya iyalah, emang harus ada alasan, jika ingin mengajak kamu untuk bersenang-senang?"
“nggak sih”
“lagian kenapa kita jadi membahas ini sih?”
“hahaha....” tawa cheryl yang merespon pertanyaanku.
Mungkin aku juga perlu memberinya hadiah sebagai rasa terima kasih sekaligus ucapan maafku karena telah membuatnya kecewa. Tapi, kalau dipikir-pikir lucu juga sih melihat dia kecawa dengan ajakanku ini. Padahal kan aku Cuma mengajaknya jalan, kenapa harus mengaharapkan sesuatu. Lagian apa sih yang dia harapkan dariku? Hah, entahlah setidaknya aku harus berterimakasih karena masih mau menemaniku meski sebelumnya aku telah membuatnya kecewa.
“cheryl”
“iya?”
“sebentar ya, aku mau ke toilet dulu.”
“okey, tapi jangan lama-lama ya?”
“tenang saja, cuman sebentar kok. Kamu tunggu disini ya” Kataku yang kemudian pergi.
Hmm kira-kira benda seperti apa ya, yang bisa aku berikan untuk dia.” Kataku yang berjalan sambil mencari hadiah yang pas untuk Cheryl.
Kebetulan sekali ada toko aksesoris, aku coba kesana sajalah.
“wah... bagus juga gantungan kuncinya, mungkin ini bisa aku dijadikan hadiah untuknya.”  Hmm, yang mana ya? Jadi bingung milihnya. “yang ini saja.., berapa mbak ini?”
“yang itu 2.5 silfar.”
“ini mbak uangnya.”
“terima kasih.”
“baiklah, sekarang waktunya kembali. Dan semoga saja dia suka dengan hadiah ini.”
“lama banget sih?”
“maaf, tadi toiletnya penuh.”
“sungguh?”
“kalau nggak percaya ayo ikut aku?”
“nggak, nggak, nggak... lagian kenapa aku harus ikut kamu ke toilet?” jawabnya dengan spontan menolak ajakanku.
“kamu sendiri sudah tahu aku ke toilet, masih saja nggak percaya.”
“soalnya lama banget sih? bosan tahu.”
“iya aku tahu, maaf. Terus bagaimana hadiahnya, sudah ada yang cocok untuk mira?”
“bingung, semuanya bagus-bagus.”
“begini saja, kamu pilih 3 benda yang menurutmu paling bagus. Nanti setelah itu akan aku pilih salah satunya yang akan kita beli. Bagaimana?”
“baiklah. Kalau begitu ini, yang ini dan ini.”
sudah nggak ada yang lain?”
“iya sudah”
“kalau begitu aku pilih boneka kucingnya saja. Bagaimana menurutmu?”
“oilihan tepat, dari ketiga boneka yang aku pilih memang boneka ini yang benar-benar membuat saya tertarik.”
“baiklah, kalu begitu kita beli yang ini saja.”
***
“okey, tugas kita untuk mencari hadiah sudah selesai. Sekarang kita mau ngapain?”
“lho kok Tanya aku? Kan kamu sendiri yang mengajak aku?”
“itu tadi waktu aku mau mencari hadiah untuk mira, kalau sekarang ya aku nggak ada rencana”
“kalau nggak ada rencana ya kita pulang saja.”
“beneran pulang langsung?”
“maksudnya?”
“ya, maksudku nggak mau mengabulkan harapanmu terhadap aku?”
“hah, apaan sih!”
“masa lupa sih sama ucapanmu sendiri saat di restoran?” ucapku sedikit meledek.
“emang kapan aku ngomong kayak gitu, perasaan nggak pernah.” Jawab Cheryl dengan wajah memerah.
“ya sudahlah kalau kamu nggak mau ngaku. Ayo!”
“kemana?”
“ya pulanglah, kan kamu sendiri yang minta.”
“oh, ayo.”
“tunggu!” kataku menghentikan langkah Cheryl.
“apa lagi?”
 “nih, buat kamu? Maaf ya, kalau hari ini saya telah membuat harapan palsu. Dan terima kasih karena mau menemani aku meski aku sudah membuatmu kecewa.”
“iya…”
“yaaah, kalau begitu ayo kita pulang.”
bersambung


Note : Hak Cipta karya tulis ini sepenuhnya milik Hirekija. dilarang melakukan penggandaan atau plagiat dalam bentuk apapun.  cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. 
Continue reading...

Sunday, July 9, 2017

Life Not Equel Math ch 5

Chapter  5:  seandainya
“pokoknya kita harus cepat soalnya anna pasti sudah menunggu kita.” Ujar cheryl .
Karena kelamaan bercanda, kami takut anna sudah menunggu lama sehingga kami pun berlari .
“hei....” sapa anna yang rupanya sudah menunggu
“maaf ya kami telat? Soalnya tadi ada penggangu sih.” Ujarku menjelaskan situasi.
“nggak apa-apa kok. Terus ini siapa?”
“ya ini dia orangnya.”
“hehehe... perkenalkan nama saya edward, saya sahabat karibnya akio.”
“sahabat, sejak kapan kita jadi sahabat?”
“kejam sekali.... tapi begitulah akio.” Jawab edward.
“anna...  senang berkenalan denganmu.”
“ngomong-ngomong katanya mereka berdua mau berkunjung ke rumahmu, aku boleh ikut tidak?”
“celamitan amat sih kamu?”
“nggak apa-apalah?”jawab edward.
“boleh.”
“dengar kan, orangnya saja boleh, kenapa kamu melarang aku akio?”
“terserah kamu.”
“kalau begitu, ayo kita pulang.” Celoteh edward.
“pulang kemana?” jawabku.
“tentu saja ke rumah anna?”
“sejak kapan rumah anna jadi rumahmu?”
“masalah amat sih buatmu? Intinya begitulah.”
“hahaha” anna dan cheryl tertawa.
“lihatkan harga diriku jadi turun dihadapan wanita-wanita cantik ini.”
“huh... edward, edward sejak kapan kamu punya harga diri?”
"Stop! sesama tak punya harga diri jangan bertengkar"  cegat cheryl yang terdengar lebih menyakitkan
“lihat kan aku jadi ikutan kena?” kataku.
“salah siapa?”
“sudah jangan bertengkar atau kalian mau melihat kemarahanku” ancam anna.
Gawat kalau dia sampai marah lebih baik aku nurut. “yes mom!” ucapku serentak dengan edward yang sadar akan kekuatannya.
***
Setelah berjalan cukup lama akhirnya kami sampai di rumah anna.
“nah, ini dia rumah saya, ayo masuk!”
kami pun terkejut dengan kemegahan rumah yang bagaikan sebuah istana yang cukup besar.
“kenapa melongo, ayo masuk!” ajak anna.
“o... iya”
“permisi”
Kami pun masuk.
“sebentar ya, aku mau ganti baju dulu. Silahkan duduk!”
 “wah... temannya anna ya?” kata seorang wanita yang terlihat seperti kakaknya anna pun keluar dari dalam.
“iya.... " jawab kami serentak.
"terus anna-nya pergi kemana?”
“katanya tadi mau ganti baju mba.”
“oh.. begitu ya?”
“ibu, mira-nya mana?” tanya anna yang tampaknya telah selesai ganti baju.
Ibu, Mana? Kok aku nggak lihat ibunya anna? “emang mana ibu kamu anna?” tanyaku yang penasaran.
“itu yang sedang bicara dengan kalian siapa?”
“hah!” ucap kami serentak yang terkejut.
“hahaha..... “ tawa ibunya anna melihat kami terkejut.
“maaf bu , kami kira ibu, kakaknya anna.”
“iya nggak apa-apa, memang banyak orang salah mengira saat pertama kali bertemu dengan saya.”
“perkenalkan bu, mereka teman-temanku. Ini cheryl, akio, dan edward.”
 “akio..? oh akio yang sering kamu ceritakan ya?” kata ibunya anna.
“emang anna cerita apaan bu, tentang akio?” tanya edward.
“ anna selalu...“
“apaan sih ibu.” Jawab anna memotong disertai ekspresi yang tampak malu.
“hm... hm... hmmm... rupanya ada sesuatu?” sindir edward yang tanpa malu.
“ibu, mira-nya mana?” tanya anna mengulang pertanyaan sebelumnya.
“mira belum pulang, mungkin sebentar lagi.”
“begitu ya.”
“hampir lupa, sebentar ya ibu buatkan minum dulu.”
“nggak usah repot repot bu.” Kata edward.
“nggak apa-apa.”
“Kalau begitu sebaiknya ayo kita mulai saja. Tapi enaknya dimana ya?”
“mungkin sebaiknya di teras saja, sekalian lihat pemandangan diluar.”
“baiklah...”
Kami pun menuju ke teras rumahnya anna.
“wah... indah sekali tamannya.” Ucap cheryl.
“ngomong-ngomong bagaimana rencana kita?” tanyaku.
“karena mira-nya belum pulang mending kita tunggu saja sampai dia pulang.”
“baiklah...”
“ada apa sih?” tanya edward.
“bukan apa-apa.”
“ayolah, beritahu saya”
“saya pulang” datanglah seorang gadis dengan seragam sekolah menengah pertama
“oh, mira? Selamat datang, bagaimana sekolahnya?”
Oh, jadi ini adiknya anna.
”biasa...” jawabnya.
 “hari ini saya mau jalan sama teman-teman saya, kamu mau ikut mira?”
“iya betul ikut sajal.” Tambah cheryl.
“nggak, terima kasih... ” jawabnya begitu dingin.
 “tapi...” sanggah anna.
“aku lelah kak.”
“kalau kapan-kapan bagaimana?” tambahku.
“nggak bisa?”
“kenapa nggak bisa?” tanyaku.
Kini mira terlihat marah, pipinya memerah dan matanya mulai berkaca-kaca. Kalau seperti ini bisa-bisa aku yang jadi tokoh jahatnya. Lebih baik aku berhenti memaksanya saja.
“ayolah?” tambah edward.
“nggak”
“sudah, nggak usah di paksa, mira pun punya haknya sendiri.” Usulku yang mulai khawatir dengan mira.
“ ya sudahlah.” Jawab cheryl.
“tapi, sebelumnya kenapa sih nggak mau ikut? Kita kan Cuma mengajakmu main. Bukan untuk melakukan sesuatu yang aneh.” Sanggah cheryl.
“Bagaimana bisa ikut, mengenal kalian saja nggak? Kenapa aku harus ikut, lagian siapa kalian? Kalaupun kalian teman kakakku bukan berarti kalian telah menjadi temanku.”
“kalau begitu perkenalkan, nama saya akio ahsan dan biasa dipanggil akio, kalau ini cheryl, dan ini edward.”
“ ohh...” ucapnya seraya bergerak masuk ke dalam.
“hei, mau kemana?” panggil edward.
“masuk. Emang ada apa?”
“cuma begitu reaksinya, setelah kami memperkenalkan diri?”  kata edward yang rupanya merasa tersinggung.
“emang kenapa? Kan kalian sendiri yang memperkenalkan diri, bukan aku yang menyuruh.”” Ketus mira.
“yahh... iya sih...” jawab edward yang kehabisan kata-kata.
Mira pun akhirnya masuk, dan setelah beberapa saat kami menunggu, mira pun tak kunjung keluar.
“terus bagaimana ini?” tanyaku.
“yah, kalian lihat sendiri kan bagaimana sikapnya?” jawab anna yang terlihat sedih.
“jadi bngung harus bagaimana.” Ucapku yang memang bingung mengenai permntaan anna.
***
Keesokan harinya
Bel istirahat sudah berlalu sekitar lima menit yang lalu, dan seperti sudah menjadi kebiasaan saya, anna dan cheryl. kami pun telah berkumpul di taman sekolah sebatas menghilangkan kejenuhan setelah beberapa jam mengikuti pelajaran.
“gimana, sudah dapat ide soal kejutan untuk adikku?”
“jujur, sekarang aku justru tambah semakin bingung.” Jawab Cheryl.
“kalau kamu bagaimana akio, sudah dapat ide?”
“bagaimana ya? Mmmm…” berpikir, ayo akio berpikir, putar otakmu akio “okey! Aku punya” .
“bagaimana idenya?” jawab anna.
“kesini sebentar” ajakku ke anna dan Cheryl untuk mendekat.
“apa idenya?” Tanya Cheryl.
“apa ya idenya?” jawabku meledek.
“hei akio, kamu masih ingatkan saat pertama kali bertemu dengan saya?” kata anna yang rupanya sedikit mengancamku.
“tenang - tenang, aku punya kok. jadi begini, di rencana ini aku butuh satu orang lagi untuk memerankan peran ini.”
“siapa orangnya?”
“jadi begini… bla bla bla… bagaimana?” bisikku ke cheryl dan anna.
“oh… begitu ya, bagus-bagus…  aku setuju”
“kalau kamu, gimana Cheryl?”
“bagus sih, tapi kalian yakin dengan rencana ini, resikonya dia semakin benci lho?”
“gimana?” tanyaku memastikan kebulatan anna dengan rencana ini.
“iya, aku siap dengan resiko tersbut.”
“baiklah, kalau seperti itu.  Berarti setelah ini kamu harus memberitahukannya kepada yang besangkutan. Kamu harus bisa menjelaskannya agar beliau mau memerankan peran serta mengerti akan maksudmu anna.”
“iya, aku mengerti.”
“dan untuk urusan kado biar aku dan cheryl yang mengurusnya.”
“tugas sudah kita bagi selanjutnya kita tinggal melaksanakannya.” ujar Cheryl.
Bel tanda istirahat telah usai berdenting.
“baiklah pertemuan kali ini sampai disini dulu selanjutnya tinggal melaksanakan.”
“iya benar.”
 “akio, ngomongin kado emang kamu sudah tahu kado apa yang pas untuk mira?” tanya cheryl sambil berjalan menuju kelas.
“entahlah, aku juga belum dapat ide untuk kado. Tapi paling tidak kita sudah membuat rencana.”
“iya sih”
“cheryl..?”
“iya ada apa?”
“pulang sekolah nanti kamu ada acara?”
“nggak ada, ada apa sih?”
“jalan yuk?”
“kemana?”
“ke pusat kota, nemenin aku.”
“berdua?”
“iya berdua, aku sama kamu. Bagaimana?” tanyaku.
Entah kenapa cheryl jadi terpaku dengan wajah memerah.
“emmm... iya aku mau”
“serius....?”
“iya aku mau.”
“hore...!” teriakku merasa senang karena cheryl mau menemaniku jalan. “lho?”
“ kenapa?“ tanya cheryl yang heran kepadaku
“wajahmu kenapa, kok merah?” tanyaku.
“eh.... nggak, nggak ada apa-apa, pokoknya ayo cepat,  nanti kita telat.”
***
Saat ini aku dan cheryl tengah menuju ke pusat kota. Sesuai dengan janji yang aku buat tadi pagi, rencananya aku ingin membeli sesuatu, namun aku tidak yakin dengan benda tersebut sehingga aku memutuskan untuk mengajak cheryl.
“akio?”
“ya, ada apa?” jawabku sambil berjalan.
“kamu punya impian?”
“punya, kenapa sih?”
“seandainya detik ini kamu punya satu kesempatan untuk mewujudkan impian itu, impian apa yang pertama kali akan kamu wujudkan?”
“haha... mana mungkin ada yang seperti itu?”
“makanya aku bilang seandainya! Seandainya, kamu tahu kan?”
 “iya aku tahu, kalau memang seperti itu. mungkin, aku akan berharap gadis yang diselamatkan oleh ayahku bisa hidup dengan baik.”
“alasannya?“
“mungkin dengan begitu kepergiannya bisa menjadi lebih bermakna?”
“maaf ya?”
“maaf kenapa?”
“maaf aku nggak tahu kalau ayahmu....”
“nggak apa-apa. lagian itu sudah lama terjadi, jadi aku sudah bisa menerima.”
“ hmm... aku yakin gadis yang kamu maksud itu pasti sekarang hidup dengan baik.”
“ya harus, ngomong-ngomong, kamu sendiri bagaimana cheryl?”
“aku..?”
“oh, aku tahu, aku tahu..! kamu pasti ingin bertemu dan minta maaf dengan orang yang kamu cari kan? Iya kan?”
“kenapa kamu yang jawab?”
“tapi benar kan tebakanku?”
“iya sih. Terus, ngomong-ngomong kita mau kemana?”
“ ke pusat kota.”
“ya, aku tahu ke pusat kota, sejak pagi pun kamu bilang begitu. Maksud aku, kita mau ngapain dan tepatnya kemana?”
“oh... entahlah kita lihat saja kemana kita akan sampai.”
“jadi kamu ngajak aku tanpa punya tujuan?”
“ada sih”
“kalau begitu beri tahu aku.”
“nanti kamu juga tahu.”
Satelah menempuh jarak yang cukup jauh kami pun akhirnya sampai di pusat kota tempat aku akan membeli beberapa barang.
“Akhirnya kita sampai? Sekarang, cepat beritahu aku apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”
“tunggu sebentar?”
“ada apa?”
“lihat itu , kalau tidak salah dia mira kan adiknya anna?”
“iya benar, memang ada apa?”
“Kita ikutin yuk?”
“kenapa?”
“ya bukan apa-apa sih, tapi kamu ingin tahu kan kado yang pas buat dia?”
“iya sih”
“ayo!” kami pun akhirnya mengikuti mira.
“kira-kira dia mau kemana ya?”
“mana aku tahu! kan kamu sendiri yang memutuskan untuk mengikutinya!” jawabnya yang terdengar jutek.
“lho kok marah?”
“hah, siapa lagi yang marah?”
Aneh, kenapa cheryl jadi marah? Apa aku melakukan kesalahan ya?
“benar, kamu nggak marah?” tanyaku memastikan lagi.
“iya, benar. Lihat, sebentar lagi dia mau pergi, sebaiknya cepat kita ikuti dia kalau nggak mau kehilangan jejak.”
Kami pun terus mengikutinya, berharap ada satu petunjuk yang bisa memberitahukan kami akan kado yang pantas untuknya. Sampai di suatu persimpangan jalan kami melihat mira berhenti di depan sebuah restauran sederhana.
“Kenapa dia kesini?” ujar cheryl.
 “Sepertinya dia lapar, ayo kita ikut masuk juga?” jawabku.
Kami pun akhirnya masuk dan memilih duduk di tempat yang agak jauh namun masih bisa mendengar apa yang di ucapkan mira.
“Biar tidak ketahuan sebaiknya kita juga pesan makanan, permisi!”
“Selamat datang di restaurant kami, ini daftar menu yang kami miliki hari ini, silahkan?”
“Terimakasih, kamu mau pesan apa cheryl! Aku yang traktir lho?”
“Serius ! ”
“iya, aku serius”
“kalau begitu aku pesan orange juicenya mbak.”
“kalau mas-nya”
“sama mbak, oh iya, kalau boleh tahu, mbak yang di sana sering datang kesini?”
“yang mana mas?”
“itu yang memakai seragam SMP.”
“oh, mbak mira ya?”
“mbak kenal?”
“iya mas, kalau mbak mira memang sering datang kesini.”
“sendirian seperti ini?”
“kalau beberapa tahun yang lalu sih dia sering datang kesini bersama saudara dan kedua orang tuanya. Tapi untuk beberapa tahun terakhir dia datang sendiri. Emang kenapa sih mas?”
“nggak apa-apa kok. Kira-kira mbak tahu nggak makanan atau minuman yang sering dia pesan baik saat masih sering bersama keluarganya maupun beberapa tahun terakhir?”
“maaf mas, kami tidak bisa memberikan informasi pribadi mengenai pelanggan kami kepada orang lain, ini sudah menjadi prosedur kami untuk menjaga kenyamanan pelanggan dari tindak kejahatan.”
“oh, jangan kuatir mbak, kami nggak punya niat jahat kok, kami cuman mau memberi kejutan untuk mira di hari ulang tahunnya nanti. Jadi, boleh kan mbak?” entah kenapa suasananya jadi tegang ya, padahal cuman mau minta menu yang disukai mira, bukan mau minta sesuatu yang aneh-aneh.
“tunggu sebentar.” Ucapnya yang kemudian tampak berfikir.
“sebagai jaminan, ini kartu pelajar saya, mbak bisa mencatat nama sekaligus alamat saya untuk berjaga-jaga kalau sesuatu terjadi terhadap mira”
“melihatmu seperti itu, aku justru jadi tidak percaya kalau mas tidak punya niat buruk terhadap mira.”
“lho, kenapa?”
“ehm…begini saja mbak, mbak nggak usah memberi informasi pribadi pelanggan mbak, mbak cukup memberitahu kami makanan atau minuman yang mira sukai. Bagaimana?” ucap Cheryl memotong pembicaraan kami berdua.
 “kalau Cuma masalah menu sih, pasti akan aku beritahu.” Ucapnya dengan jelas.
“hah… dari tadi maksud kami pun seperti itu, bukan mau minta sesuatu yang aneh-aneh mbak
“hahaha… maaf…”
“kalau mbak mira sih sukanya pesan softcake sama fruity ice
“oh… kalau begitu makasih ya mbak infonya”

“iya… kalau begitu saya permisi dulu mau mengambil pesanannya.
bersambung



Note : Hak Cipta karya tulis ini sepenuhnya milik Hirekija. dilarang melakukan penggandaan atau plagiat dalam bentuk apapun.  cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. 
Continue reading...