Monday, December 11, 2017

Life Not Equel Math ch 11


Chapter 11 : Kesalahpahaman
Sekarang sudah memasuki jam istirahat, dan aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan saat ini. Karena semua berjalan begitu saja tanpa bisa aku kendalikan.  Sebenarnya setelah jam istirahat dimulai aku berencana ingin memperkenalkan Sara kepada teman-teman. Namun, kalau sekarang aku bertemu dengan mereka, pasti mereka akan membicarakanku. Bagaimana ya, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa, tapi bagaimana dengan Cheryl? Memang benar sebagian merupakan kesalahan cheryl. Namun, keterlibatan cheryl dalam pencalonan ini juga kesalahanku.
“akio, ada orang yang sedang mencarimu!” ucap seseorang dengan menepuk bahuku..
“siapa?”
“itu orangnya.” Jawab rendi sambil menunjuk ke seseorang yang ternyata anna..
“lama sekali sih, semua sudah menunggu di taman, ayo!” Ucap Anna sambil menarik tanganku.
“tapi..”
“sudah nggak ada tapi-tapian... ayo!”
“iya, iya... sepertinya tidak ada waktu untuk aku berfikir, baiklah aku akan kesana.” Ucapku mengiyakan..
Aku juga sudah berjanji akan bertemu dengan Sara di taman, kalau aku mengingkarinya bisa-bisa dia akan merasa ditipu.
“kenapa sih?” tanya anna.
“nggak ada apa-apa, Cuma bimbang saja”
“oh... Bisa bimbang juga ya?”
“kamu pikir aku apa?”
“marah, bimbang karena apa sih?” ucap anna.
“bukan apa-apa.”
“aku dengar kamu terpilih sebagai perwakilan kelasmu untuk kompetisi pemilihan raja dan ratu perdamaian?” Ucap anna.
“ya, berkat cheryl dan yang lainnya, aku terpilih sekalipun aku tidak menginginkannya!”
“tapi bukankah cheryl ikut terpilih karena kamu, jadi kenapa marah?”
“memang benar aku mengajukan cheryl sebagai pasanganku, tapi itu cuman sekedar cara agar dia berhenti memojokkanku.”
“tapi kamu berhasil kan.., membuatnya diam?”
“iya, memang benar dia terdiam. Tapi..”
“tapi apa? Terus kenapa kamu marah, apa kamu membenci cheryl?”
“tidak, bukan seperti itu. Aku tidak membencinya.”
“terus kenapa, atau jangan-jangan kamu menyukai cheryl?”
“hah..!” mungkin kalau aku tahu apa itu cinta, tapi saat ini aku sendiri juga tidak tahu apa itu cinta?
“kenapa hah? Aku bertanya, kamu suka atau membencinya?”
“kalau cinta, aku tidak tahu. Tapi, kalau membencinya, tidak mungkin aku bisa membencinya?”
“terus kenapa kamu marah sama dia?” tanya anna.
“marah? Siapa yang marah?”
“hah… kalau begitu setelah sampai disana, cepat kamu jelaskan sejelas-jelasnya ke Cheryl!”
 “jadi cheryl mengira kalau aku sedang marah sama dia? kenapa sih, emang aku melakukan apa sampai-sampai dia mengira kalau aku marah?”
“ayo cepat, nggak usah banyak bicara! Intinya nanti kamu harus menjelaskannya, paham!”
“iya, akan aku jelaskan.”
Kami berdua pun akhirnya sampai di taman sekolah.
“maaf Cheryl menunggu lama, ini orangnya.” Ucap Anna dengan lembut, “ayo, cepat kamu jelaskan!”
“iya akan aku jelaskan. Emm… Cheryl…”
“maaf, aku benar-benar minta maaf!” ucap Cheryl yang tak kusangka dia meminta maaf dengan ekspresi yang begitu takut dan sedih.
“maaf, aku bukan bermaksud menyudutkanmu dengan keputusan sepihakku, aku hanya ingin akio menjadi lebih terang lagi dengan menjadi perwakilan raja untuk kelas kita, aku tidak bermaksud apa-apa.” Tambahnya.
“kenapa kamu minta maaf?”
“karena kamu marah.”
“marah, kenapa aku marah? Memang benar tadi aku sempat kesal terhadapmu, namun bukan berarti aku marah. Dan itu juga sesaat. Terus kenapa kamu menganggap kalau aku sedang marah?”
“soalnya, karena aku kamu dipaksa menjadi perwakilan kelas walaupun kamu tidak menyukainya. Makanya kamu marah dan tidak mau menjawab serta mendengarkan ucapanku.”
“kapan?”
“tadi, sesaat setelah bel istirahat berbunyi”
“begitu, maaf karena perilaku saya kamu jadi salah paham. Alasan  kenapa aku tidak menjawab ataupun mendengarkan ucapanmu, karena pada saat itu aku sedang tenggelam dalam pikiranku sendiri, makanya aku tidak merasakan keadaan disekitarku.”
“syukurlah kalau kamu tidak marah kepadaku.”
“kenapa aku harus marah, kalaupun aku marah tentu bukan kamu saja yang akan membuatku marah tapi semua anak di kelas kita yang telah memilihku. Makanya kamu tidak perlu cemas tentang masalah pencalonanku. Dan justru sebaliknya aku yang seharusnya minta maaf ke kamu , karena keegoisanku kamu ikut terpilih sebagai pasanganku. Jadi, kalau kamu tidak suka dengan keadaan ini, nanti akan aku bicarakan ke wali kelas kita agar pencalonannya kita ulangi lagi. Bagaimana?”
“jangan-jangan, kamu nggak usah melakukannya! Aku nggak apa-apa kok kalau harus jadi pasanganmu di acara ini.” ucap Cheryl yang tampak agak malu.
“cie cie...! kalau begitu selamat ya atas pencalonan kalian dan semoga langgeng.” seru Anna yang tampaknya sudah tidak marah lagi.
“apaan sih?”
“anna, sudah nggak usah becanda. Masalah baru selesai, kamu jangan menambah masalah lagi!” ucapku.
“iya, begitu saja marah!”
“hampir lupa, sebentar ya aku akan segera kembali!” ucapku.
“mau kemana?”
“Cuma sebentar, tunggu ya?” ucapku yang kemudian berlari.
Dimana ya Sara? Semoga saja ia belum kembali ke dalam kelasnya. Itu dia “Sara!” ucapku sambal berlari.
“maaf ya lama menunggu, tadi ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan.”
“iya nggak apa-apa, jadi kita mau ngapain ke tempat ini?”
“kok bicaranya begitu, ini kan masih di area sekolah?”
“iya aku tahu, tapi kita mau ngapain?”
“ayo ikut aku!” ucapku sambal mearik Sara.
“kemana?”
“sudah ikut saja.” Lanjutku sambal menggandeng Sara ke tempat Anna dan Cheryl.
“nah, sekarang kita sudah sampai, maaf sudah menunggu.”
“ini siapa akio?” tanya anna.
“perkenalkan, ini Sara dan kelas 2E dan Sara ini Cheryl teman sekelasku, dan ini Anna dari kelas 2A.”
 “salam kenal.”
“salam kenal juga” jawab Anna dan Cheryl.
“kenapa tiba-tiba memperkenalkanku dengan teman-temanmu” bisik Sara
“tenang saja mereka orang baik kok” ucapku meyakinkan agar Sara tidak grogi.
“akio, ternyata kamu playboy ya, pertama Cheryl, kemudian aku setelah itu Sara terus gadis kelas mana lagi yang akan kamu incar?” ucap Anna.
“kalau ngomong jangan seenaknya bikin orang salah paham. Siapa yang playboy, atau jangan-jangan kamu menyukaiku ya?”
“hm...! siapa lagi yang suka denganmu. Suka juga pilih-pilih dan nggak mungkin sama laki-laki yang nggak bertanggungjawab sepertimu!”
“emang dia melakukan apa sama kamu?” tanya Sara.
“dia mau jadi pahlawan dengan menolongku tapi akhirnya justru aku yang menolongnya Aneh dan nggak bertanggungjawab bukan?”
“okey, kalau kamu seperti itu, selanjutnya kalau ada masalah yang menimpamu lagi aku nggak akan membantunmu.”
 “siapa juga yang meminta bantuanmu”
“sudah jangan ribut, kayak anak kecil saja!” bentak Cheryl.
“ngomong-ngomong kamu... Sara yang dapat peringkat 1 paralel berturut-turut selama 2 tahun ini bukan?” tanya anna.
“iya benar”
“wah… hebat sekali, bagimana sih caranya agar kamu dapat nilai sempurna terus menerus?”
“makanya belajar, jangan Cuma ngajak berantem!” ucapku.
“aku nggak nanya kamu!”
“aku cuman suka membaca makanya setiap ada pertanyaan hampir semua jawaban sudah ada dalam benak saya.”
“begitu ya, kapan-kapan ajari aku ya” pinta anna.
“iya!”
“terus ngomong-ngomong bagaimana kamu bisa berkenalan dengan laki-laki ini?” tanya Anna sambil menyindirku lagi.
“hei aku punya nama!”
“awalnya sih kami bertemu di perpustakaan”
“begitu ya, terus menurutmu dia bagaimana?” tanya anna.
“hei aku ada disini, kenapa sih yang dibahas cuman masalahku saja?”
“sudah orang luar diam saja!”
“tapi aku orang yang sedang kalian bahas!”
“menurutku… bagaimana ya menjelaskannya?”
“nggak usah malu-malu atau takut, anggap saja dia nggak ada disini.”
“Cheryl, bagaimana ini. bantuin aku, tolong jangan biiarkan Anna terus-menerus merusak harga diriku di depan Sara!”
“Cheryl, kamu nggak usah ikut campur! Ini demi keamanan kita semua” ucap anna.
“kamu dengar kan? Jadi maaf saat ini aku nggak bisa bantu kamu akio. Dan sebenarnya aku juga penasaran dengan pandangan orang lain terhadap kamu, jadi maaf ya.”
“ayo lanjutkan!” perintah Anna yang benar-benar membuatku terpojok.
“menurutku akio orangnya pemaksa dan selalu ikut campur masalah orang lain.”
“benar kan, makanya mulai sekarang kita harus berhati-hati dengan akio, soalnya dia sudah tertular virusnya Edward. Atau jangan-jangan, Edward seperti itu juga karena akio? Wah gawat ini” ucap Anna.
“hah, sekarang harga diriku tak ubahnya seperti virus. Tak berguna dan hanya menyakiti orang lain...” uapku menyerah untuk berargumen.
“tapi meski begitu, akio orangnya baik. Dia mau membantuku mencarikan jalan keluar untuk masalah yang selama ini aku alami dan tak bisa aku selesaikan. Dan lebih dari itu, dia adalah orang pertama yang benar-benar mau menjadi temanku. Jadi menurutku dia adalah orang yang bertanggung jawab.”
“hmm… begitu ya, sekarang bersyukurlah karena Sara sudah membantumu.”
“terima kasih Sara, terima kasih, berkatmu harga diriku bisa tertolong dihadapan perempua-perempuan ini!”
“ kalau begitu aku tarik kembali ucapanku kalau kamu adalah virus. Sekarang aku mengerti kalau kamu bukan virus, kamu adalah pengganggu.”
“itu sama saja anna!”
“hahaha…” tawa semua orang.
“mumpung masih jam istirahat bagaimana kalau kita makan dulu?” tawarku.
“iya benar aku juga sudah tidak bisa menahan rasa laparku.” Ucap Cheryl.
“kamu bilang seperti itu, terus mana makananmu?”
“oh iya aku lupa. Karena kamu tadi menarikku ke sini dengan paksa makanya aku lupa membawanya.”
“siapa suruh melamun, kan sudah kesepakatan kita kalau setiap jam istirahat kita akan berkumpul dan makan disini?”
“iya, iya aku tahu. Kalau begitu aku ambil dulu ya makananku dikelas.”
“aku juga mau ke kantin untuk membeli makanan.” Sahut Sara.
“sudah tidak ada waktu, karena beberapa menit lagi jam istirahat akan berakhir.” Ucap Anna.
“tenang saja, aku bawa lebih kok makanannya. Ayo silahkan!” ucap Cheryl.
“baiklah kalau begitu, ayo Sara kita makan.” Ucapku mengajak Sara.
Syukurlah rencanaku berjalan dengan lancar, dengan begini Sara mungkin akan mulai mengerti tentang bagaimana menyenangkannya memiliki teman yang bisa diajak melakukan berbagai macam hal bersama.
“bagaimana Sara?” tanya Cheryl.
“enak, aku suka.”
“syukurlah kalau kamu suka.”
“ngomong-ngomong apa yang akan kalian berdua tampilkan dalam sesi presentasi?” tanya Anna yang tiba-tiba membahas kompetisi pemilihan raja dan ratu perdamian.
“entahlah, karena aku terpilih bukan karena kehendaku, maka sampai saat ini aku belum ada bayangan tentang apa yang akan aku presentasikan.”
“maaf…”
“enggak, enggak, enggak… ini bukan salahmu Cheryl. Aku hanya belum ada bayangan saja jadi nggak perlu cemas.”
“kalau kamu Cheryl?” tanya anna.
“sama, belum ada bayangan. Karena terlalu fokus mengajukan akio agar jadi raja, aku sendiri tidak terlalu memikirkan apa yang akan aku lakukan jika aku yang jadi pasangan rajanya.’
“hah, kalian berdua? Waktunya singkat lho, cuman seminggu untuk mempersiapkan segala sesuatunya, dan  selanjutnya kalian harus siap apapun yang terjadi.”
“iya-iya kami tahu, kamu sendiri bagaimana, apa yang akan kelas kamu presentasikan nanti dalam kompetisi ini?”
“belum tahu.” 
“kalau begitu jangan tanya kami jika rencana kelasmu sendiri belum tahu!”
“apa salahnya kalau aku tanya, terus aku juga tidak ikut jadi mau tahu atau nggak itu terserah akulah, hehehe… maaf Cheryl, tapi kalimat tadi aku tunjukan untuk akio”
“tapi itu berlaku juga untuk Cheryl tahu!” jawabku.
“oh, begitu ya. Sorry!”
“jadi kalian berdua dicalonkan dalam pemilihan raja dan ratu perdaimaian ya, selamat ya?”
“hehe… bagaimana ya menjawabnya…. Sebenarnya, aku juga tidak tertarik untuk mengikutinya, tapi mau bagaimana lagi satu kelas sudah memilihku” ucapku yang memang bingung harus berbuat apa.
“jangan besar kepala, baru dipercaya kelas saja sudah sombong!” ucap Anna yang lagi-lagi perkatannya begitu menusuk.
“siapa yang sombong?”
“tadi apa, kalau bukan sombong?”
“terus aku harus merespon seperti apa”
“sudah, nggak usah ribut! Dari tadi nggak ada habis-habisnya mempermasalahkan hal sepele.”
“iya, kenapa sih dari tadi kamu ingin ngajak berantem terus? Ada masalah apa sama aku.”
“nggak ada apa-apa, cuman ingin tau saja bagaimana reaksi kamu saat marah”
“sekarang aku sudah benar-benar marah, puas!”
“hehehe…”
“ngomong-ngomong benar juga kata anna, apa yang akan kita presentasikan nanti akio?” tanya Cheryl.
“entahlah, tapi yang pasti ini bukan Cuma tugas kita berdua saja, ini juga tugas kelas kita. Jadi, kalau mau membahasnya sebaiknya kita bahas nanti bersama teman-teman yang lainnya.”
“baiklah kalau kamu seperti itu.” Jawab Cheryl.  
 Tak terasa bel tanda jam istirahat telah berbunyi. Perbincangan kami berempat pun akhirnya berakhir.
“kalau begitu kita berpisah dulu ya, besok kita bertemu lagi disini di jam yang sama pula.” Ucap Cheryl mengakhiri.
“okey.”
“kamu juga Sara?” ucapku.
“aku?”
“iya, karena kamu mulai sekarang adalah teman kami, jadi kamu harus ikut kami juga.” Sahut anna.
“terus terima kasih juga anna, berkatmu kesalahpahaman diantara aku dan akio akhirnya selesai dengan cepat.”
“iya nggak apa-apa. Kalau begitu sampai besok ya?” ucap Anna mengakhiri pertemuan saat itu.
Kini aku pun tengah berjalan bersama Cheryl. Dan karena kesalahpaman tadi , rasanya aku agak canggung juga untuk berbicara dengannya.
“semakin meriah juga kelompok kita ya?” ucap Cheryl memecah kekhawatiranku..
“iya…”
“terus begini, mmm… karena beberapa minggu ini kita akan bekerja sama terus-menerus, jadi mohon kejasamanya ya?”
“sama, aku juga… dan .  aku juga minta maaf untuk yang tadi.”

“nggak apa-apa kok, lagian itu kan Cuma kesalahpahaman saja, jadi nggak usah kamu pikirkan lagi.”
***

bersambung



Note : Hak Cipta karya tulis ini sepenuhnya milik Hirekija. dilarang melakukan penggandaan atau plagiat dalam bentuk apapun.  cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. 
Continue reading...

Saturday, November 25, 2017

Life Not Equel Math ch 10


Chapter 10 : Hitam putih
“memang benar inilah kehidupan yang aku inginkan… hanya saja, ketika aku mencoba untuk menikmatnya selalu saja kalimat itu menghapiri otakku. Sebuah kalimat yang tidak bisa aku lupakan namun ingin aku lupakan.”
“kalimat apa itu?” Tanyaku penasaran.
“’sekalipun kedamaian akan datang, ingatlah kalau itu datang dari hasil menumpuk mayat kami’ itulah kalimat yang diucapkan seseorang dihadapan ayahku sebelum ia meninggal. Aku tidak tahu apa makna dari kalimat itu, dan akupun tidak mengerti apa yang telah ayah saya perbuat terhadap mereka. Namun satu hal yang pasti, aku tidak bisa melupakan kalimat itu sekalipun ingin aku lupakan.”
Mendengar apa yang dikatakan sara, akupun tak bisa berbicara apa-apa lagi sekalipun aku pernah mengalaminya juga. Tapi, aku harus bisa memberikan solusinya, karena aku yang telah membuka lubang maka aku yang harus menutupnya.
...namun, Bukan berarti kamu harus merasa bersalah atas kematian mereka sehingga kamu menutup diri dari dunia luar. Kamu tahu kan, setiap manusia memiliki keputusan masing-masing, terlepas dari masalah apa yang sedang mereka alami, terlepas dari apa yang sedang menekan mereka. Mereka takkan melakukan sesuatu jika mereka tidak memutuskannya dengan Bulat. Jadi jangan menyalahkan diri kamu sendiri atas kematian mereka. Jikapun kamu tetap memilih jalan seperti itu, maka coba pandanglah kalimat itu sebagai pesan Bukan sebagai kutukan, aku yakin kamu pasti akan mengerti.” Ucapku yang tanpa sadar menggurui orang.
“apa maksudmu?”
“maksudku, untuk mendapatkan adanya perdamaian memang harus dibayar dengan harga yang mahal. Karena mahalnya harga untuk menebus kedamaian itu, sudah kewajiban kita untuk terus menjaga dan memeliharnya. Mungkin itulah pesan dibalik kalimat itu. Aku tak tahu mengapa orang tersebut berkata seperti itu dihadapan ayah kamu, aku tak tahu perasaan apa yang tengah dialami orang tersebut. Namun, satu hal yang pasti. Kalimat itu ditunjukan Bukan untuk mengutuk kamu hingga menjadi seperti ini.”
“lalu apa yang harus aku lakukan, aku pun tak mau terus seperti ini, aku sadar suatu saat nanti aku akan hidup sendiri dan saat itu pula aku harus bisa hidup membaur dengan orang lain untuk bertahan hidup?”
maka cobalah untuk membuka hatimu terlebih dahulu, terimalah apa yang sudah terjadi, pandang semua kenanganmu sebagai harta terindah sekalipun itu kenangan Buruk. Karena pada dasarnya kamu ada saat ini karena kamu berhasil melewati saat-saat yang lalu. Dan kamu hidup dimasa sekarang Bukan dimasa lalu.”
Untuk sejenak sara terlihat terdiam dalam pikirnya.
“terimakasih ya? Aku tak pernah berpikir seperti itu, jadi mungkin akan aku coba nanti.” Ucap sara dengan sedikit senyum.
“jangan nanti, tapi sekarang? Tak perlu mengubah semuanya dalam waktu singkat, cobalah secara perlahan namun berlanjut.”
“tapi apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“kalau itu aku juga belum tahu, tapi yang pasti ada hal kecil yang bisa kamu lakukan yang mungkin bisa menjadi langkah awal menuju perubahan besar yang kamu inginkan.”
“kalau seperti itu namanya tidak bertanggungjawab!” Jawab sara.
“lho kenapa?”
“kamu menyuruhku untuk memulai suatu perubahan dari sekarang, tapi kamu sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan?”
“hehehe… benar juga ya? Tapi sekalipun aku mnegetahui, mungkin sebaiknya tidak aku beritahu terlebuh dahulu sampai kamu menemukannya.”
“kenapa?”
“kalu bilang kenapa ya, mungkin menurutku akan lebih bagus jika kamu bisa menemukan dan menyelesaikan masalah yang kamu alami dengan tanganmu sendiri, karena dengan demikian kamu akan terbiasa untuk menyelesaikan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain dan hasil yang kamu peroleh benar-benar hasil dari usahamu sendiri sehingga kamu akan selalu menghargai setiap pencapaian yang telah kamu peroleh.”
“tapi disini kamu menyuruh aku untuk tidak menutup diri, terus apa yang harus aku lakukan jika sekali lagi aku menyelesaikannya dengan tanganku sendiri, Bukankah itu sama saja dengan sebelumnya?”
Mmm benar juga kalau begitu, bagaimana kalau kamu jadi teman saya?”
“hah?”
“kenapa hah? Coba kamu pikirkan lagi, hal apa dalam diri kamu yang ingin kamu ubah?”
“aku ingin bisa bersosialisasi dengan orang lain, aku ingin bisa menikmati perdamaian ini, bermain dengan teman-teman, berbelanja, berkunjung ke berbagai tempat serta menikmati banyak hal-hal lainnya yang belum pernah aku lakukan di dunia ini.”
“benar kan, kamu menginginkan untuk melakukan banyak hal di dunia ini namun  kamu melupakan syarat untuk mendapatkan itu semua. Dan apa syaratnya itu? Teman, karena dengan adanya teman kamu akan mudah untuk memperoleh informasi, pengalaman serta berbagai hal yang tidak mungkin kamu dapatkan dengan seorang diri. Jadi sekali lagi maukah kamu jadi teman saya?” Ucapku.
“meski agak aneh, tapi baiklah aku akan menjadi teman kamu.”
“sekali lagi aku minta maaf ya sudah berbicara lancang terhadap hal-hal yang tidak kamu sukai?”
“tidak apa-apa, aku justru berterimakasih karena berkat kamu sekarang aku menemukan cara baru. Dan mungkin dengan cara pandang yang kamu katakan tadi bisa menyelesaikan berbagai macam kesalahpahaman yang selama ini aku Buat.”
“kalau begitu aku permisi dulu ya, senang rasanya bisa mengobrol dengan kamu. Lain kali kita ngobrol lagi ya?” Ucapku mengakhiri pembicaraan karena bel tanda masuk telah berbunyi.
“iya!”
“hampir lupa, istirahat nanti apa kamu ada kegiatan?”
“nggak ada, kenapa sih?”
“kalau begitu nanti kita bertemu lagi di taman sekolah ya?”
“terus kenapa?”
“bukan kenapa, tapi iya?”
“tapi kan aku belum apa yang akan kita lakukan disana?”
“sudah ikut saja ya. Pokoknya istirahat nanti aku tunggu di taman sekolah!” ucapku sambil berlari meninggalkan sara.  
***
“selamat pagi semuanya, sebelum ibu memulai pelajaran  hari ini. Ada pengumunan yang ingin ibu sampaikan. Karena sebentar lagi atau tepatnya pada tanggal 14 februari nanti kita akan memperingati hari perdamaian, seperti tahun-tahun sebelumnya, sekolah kita tahun ini juga akan mengadakan pemilihan raja dan ratu perdamaian.
Pemilihan raja dan ratu perdamaian sendiri diadakan untuk menghormati atas terjadinya peristiwa berdarah yang menimpa sepasang kekasih atau lebih tepatnya Costica Ammon dan Hestia Rayya Walter. Costica Ammon adalah wakil yang di tunjuk Leute sebagai duta perdamaian pertama untuk utopia sedangkan Hestia Rayya Walter adalah Putri dari Raja Binanga argono walter yang pada saat itu menjabat sebagai pemimpin utopia selama 5 tahun setelah berhasil menggulingkan raja sebelumnya.
Peristiwa costica Ammon dan Putri hestia pada dasarnya hanya mencerminakan bagaimana kacaunya tatanan dunia akibat perang dunia III yang berkecambuk tanpa akhir.
Bermula dari alasan untuk menguasai dan mengelola energi yang tersisa di Bumi, utopia pun memutuskan untuk menginvasi dan menguasai seluruh negeri di dunia hingga hampir separuh dunia berhasil ia kuasai. Disisi lain, masyarakat dunia yang mulai murka dengan tindakan utopia yang semena-mena pun mulai membentuk perserikatan yang tak lain disebut sebagai kubu fusioneren. Dengan hadirnya lawan yang seimbang, perang pun terus berlanjut hampir 80 tahun lamanya tanpa tahu arti dan makna dari adanya perang tersebut. Duka terus menghantui dunia. Banyak negara dan bangsa yang akhirnya hancur dimana penduduknya kehilangan berbagai hal tanpa terkecuali nyawa mereka sendiri.
Rasa bosan dengan keadaan dunia yang semakin mendekati akhir dunia lantaran separuh penduduk dunia telah meninggal akibat kelaparan, penyakit, dan pembantaian. Banyak dari pejabat-pejabat yang mulai putus asa dan mulai lupa dengan alasan mengapa perang ini terjadi. Dan penyalahguaan jabatan mulai merebak dikalangan-kalangan pejabat fusioneren dengan alasan melindungi, menyelesaikan perang dan alasan-alasan lain demi semata-mata lari dari rasa takut yang berkepanjangan.
Sementara itu kelompok masyarakat sipil yang telah lama menjadi korban perang, mulai bergerak membentuk organisasi dan berhasil menguasai beberapa tempat serta melakukan penelitian secara diam-diam, hingga akhirnya mereka memproklamirkan diri sebagai suatu bangsa. Leute, itulah sebutan yang mereka Buat, dimana mereka menerima dan meminta semua masyarakat dunia yang bosan dengan adanya perang untuk ikut mengakui kedaulatan organisasi tersebut dan bergabung dengan mereka demi keselamatan bersama.
Disisi lain kedua kubu yang selama ini terus berperang mulai khawatir akan terjadinya kudeta di berbagai tempat yang mungkin bisa menghancurkan kedua kubu ini dari dalam. Fusioneren dan utopia pun tidak tinggal diam, kedua kubu ini mulai memberlakukan sistem dimana kebebasan berbicara setimpal dengan harga nyawa. Hingga akhirnya tidak ada kata keadilan, yang ada hanya menikam atau ditikam.
Dunia semakin suram, sekalipun langit masih berwarna bira, namun tak ada satu matapun yang dapat melihat luasnya langit yang membentang. Begitulah yang ibu dan semua orang rasakan saat itu.
Disetiap tempat, petaka dan maut selalu mengintai, sekalipun kematian Bukan datang dari peluru yang menyasar anggota tubuh, tapi mungkin saja berakhir di tempat pemenggalan kepala lantaran hukum yang berlaku saat itu.
Entah apa yang dipikirkan oleh pemimpin organisasi Leute saat itu, meilhat keadaan yang justru semakin memburuk lantaran propaganda yang dilakukan organisasinya. Ia justru semakin melakukan penekanan terhadap dunia, dengan beberapa satelit yang berhasil mereka bajak,  dalam waktu yang bersamaan ia mulai memerintahkan ekspansi ke perbatasan kedua belah pihak yang sedang berperang sekaligus menebar ancaman dengan senjata yang telah mereka Buat.
Berdamai atau musnah, itulah kalimat pilihan yang diberikan pemimpin Leute. Setelah  mempublikasikan senjata yang berhasil menghancurkan sekumpulan asteroid di planet saturnus, dunia mulai yakin dan takut kalau kalimat itu adalah pilihan terakhir mereka.
Tak berselang lama Leute pun mengumumkan akan mengirimkan diplomat ke masing-masing kubu yang tengah berperang sebagai kelanjutan dari misi yang tengah Leute jalankan. Dan diantara diplomat tersebut Costica Ammon yang berusia 20 tahun terpilih sebagai perwakilan untuk mengemban tugas dalam bernegosiasi dan mencari titik temu perdamaian untuk negara utopia. Dari sana pertemuan Costica Ammon dengan Putri Hestia Rayya Walter dimulai. Dari kabar yang beredar semenjak Costica Ammon datang ke istana utopia, Putri Hestia yang sebelumnya selalu tampak kosong, kini ia tampak menjadi lebih hidup, kehadiran Costica yang membawa pilihan kedamaian sekaligus kehancuran untuk umat manusia menjadi tolak ukur untuk Putri Hestia terhadap beban yang mereka miliki di masing-masing pundak mereka. Pada awalnya pertentangan selalu terjadi diantara mereka berdua. Namun, setelah Putri Hestia mengerti maksud dari kedatangannya, ia pun mulai percaya kalau Costica pasti akan membawa perubahan terhadap dunia ini.
Disisi lain karena Raja Binanga pun mulai tampak bosan dengan keadaan perang yang sama sekali ridak membuahkan titik temu di kedua belah pihak dan justru semakin mengarah ke kepunahan umat manusia, ia pun mulai berfikir untuk menjalin kerjasama yang di canangkan Leute sebagai modal perdamaian.
Sama seperti raja sebelumnya yang lengser karena fraksi bayangan yang tidak setuju dengan kebijakan yang telah berlaku, kali ini mereka pun berencana menggagalkan konferensi perdamaian yang digagas oleh Leute setelah pihak utopia dan fusioneren melakukan gencatan senjata karena tekanan dari Leute. Fraksi bayangan berencana membunuh Costica Ammon dalam pertemuan tersebut sehingga perang yang selama ini telah berjalan akan kembali pecah dengan harapan Raja Binanga akan mengambil kesempatan tersebut untuk mengambil alih situasi perang.
Meski demikian takdir tampaknya berkata lain, sesaat sebelum sang eksekutor  menarik pelatuk, tiba-tiba saja Putri Hestia menghampiri Costica Ammon sehingga pada saat itu pula sang Putri jatuh terkapar dipangkuan Costica Ammon. Ruang podium yang sebelumnya tenang kini terjadi kepanikan yang begitu hebat. Semuanya saling tuduh dan menodongkan senjata. Masyarakat dunia yang pada saat itu menyaksikan melalui televisi pun menjadi tegang hingga sebuah kalimat dari Putri Hestia mengetuk hati jutaan manusia sesaat sebelum ia menghembuskan nafas terakhir, ‘syukurlah kamu tidak apa-apa, dan untuk semua yang ada disini, sudahkah kalian terbiasa melihat darah bercecer seperti ini...’ ucap Hestia sambil menahan rasa sakit disamping Costica yang terus meminta pertolongan. ‘apa yang kalian cari dari perang ini, kekayaan, kehidupan, kebahagiaan atau apa... Hei, Costica tetap lanjutkan misimu, aku akan selalu mendukungmu sekalipun aku tak bisa menepati janji kita...’ tambah Hestia sebelum ia benar-benar menutup matanya.
Dari peristiwa tersebutlah masyarakat dunia menjadikan tanggal 14 februari sebagai hari perdamaian Bukan sebatas hari valentine. Meskipun setelah kematian Hestia banyak masyarakat dunia yang akhirnya tergerak, namun Bukan berarti semuanya sudah berakhir. Pengorbanan dami pengorbanan terus terjadi di berbagai belahan dunia sabelum akhirnya kesepakatan ketiga kubu benar-benar terwujud.” Ucap Bu disca mengakhiri narasinya.
“Bu, terus apa yang kami lakukan jika salah satu dari kami terpilih sebagai pasangan raja dan ratu perdamaian, Bukankah dalam kenyataannya Costica dan Putri Hestia berakhir dalam perpisahan maut?” Tanya salah seorang siswa.
“melanjutkan impian mereka, itulah tugas mereka, Bukan tapi tugas kita untuk menjaga dan membuat inovasi agar perdamaian terus ada dan kemakmuran terus berdampingan dengan kita.”
“oh, begitu ya?”
ya, jadi siapa diantara kalian yang ingin menjadi raja dan ratu perdamaian?” Jawab Bu disca.
“meskipun ibu bilang begitu, tampaknya kami tidak tertarik untuk mengikutinya?” Jawab salah seorang murid lain yang terlihat agak bosan.
“heeh, kenapa? Hadiahnya besar lho?”
“memang hadiahnya apa Bu?”
“hadiahnya, kalau kita berhasil membuat sepasang teman kita menang menjadi raja dan ratu perdamaian, maka kelas kita akan mendapat kesempatan berlibur selama dua hari di suatu tempat.”
“kemana Bu?”
“Kalau itu rahasia?”
“bu, aku mau bertanya?” Ucap Edward mengacungkan diri.
“ya Edward, mau tanya apa?”
misalkan aku ikut, bolehkah aku berpacaran dengan orang yang menjadi pasangan saya?”
“kalau itu terserah pasanganmu.”
“okey Bu, kalau begitu aku ikut.”
“dari pihak laki-laki ada Edward yang mengajukan diri, sekarang dari pihak perempuan?” Tanya Bu disca.
“nggak ada Bu, kami nggak akan ikut perlombaan itu jika Edward yang menjadi pasangan kami!”
“iya benar, mendengar niat awalnya saja sudah seperti itu bagaimana nantinya?”
“memang kenapa?” Tanya Edward.
“nggak, pokoknya kami nggak akan ikut.”
“bu!” Cegatku, “memang apa yang akan dilombakan jika kelas kita sudah memiliki pasangan tersebut?” Tanyaku yang penasaran dengan kegiatan apa yang akan dikerjakan di acara ini.
“pertanyaan bagus akio! Berbeda dengan tahun sebelumnya yang mana raja dan ratu perdamaian hanya menampilkan pameran Busana dan keserasian dari pasangan tersebut, kali ini sekolah memutuskan untuk membuat acara ini menjadi lebih meriah dengan menambahkan beberapa penilaian lagi, seperti adu kecerdasan sekaligus kekompakan dalam debat antar kelas yang akan diwakilkan ke setiap pasangan yang ditunjuk oleh masing-masing kelas, membuat dan mengajukan proposal untuk memperbaiki, memberi penyegaran atau membuat sesuatu yang bisa membawa lembaga sekolah ini menjadi sekolah yang tidak hanya mencerdaskan siswanya namun juga menjadi tempat yang takkan terlupakan untuk setiap orang yang pernah belajar atau bekerja di sekolah ini dan terakhir kelas yang memenangkan lomba akan diberi hak untuk mendirikan suatu event seharian penuh. ”
“dengan kata lain disini kita dituntut untuk menjadi raja dan ratu selayaknya raja dan ratu yang sebenarnya Bu?” Jawabku menyimpulkan.
“benar…”
“bu, kalau begitu saya nggak jadi ikutan.” Ucap Edward yang dengan mudahnya mengubah niatnya setelah mendengan pembicaraan tadi.
“terus siapa yang mau jadi perwakilan untuk kelas kita, padahal ibu tadi berharap akan banyak yang mnyalonkan diri untuk ikut acara ini, tapi rasanya harapan ibu terlalu tinggi.”
Untuk beberapa saat terlihat sekelompok siswa laki-laki membicarakan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu.
“bu, dari pihak laki-laki kami sudah tahu siapa orang yang pantas untuk menjadi raja dan memimpin kelas kita dalam acara tersebut, dia adalah…”
“akio Bu!” Teriak Cheryl dengan lantangnya.
Semua terdiam melihat tingkah Cheryl yang seperti itu.
Lho kok aku?
“iya, akio Bu orangnya!” Tambah siswa tadi setelah pembicaraannya terpotong oleh Cheryl.
Kenapa?
“kalau ibu berbicara masalah debat, aku, tidak kami yakin akiolah ahlinya. Karena dia adalah siswa dengan peringkat nomor dua disekolah kita, satu-satunya sekolah dengan standar tertinggi di dunia. Selain itu akio juga gampang bergaul, dan masalah wibawa dia lebih berwibawa dibandingkan semua laki-laki yang ada disini, benarkan teman-teman?”
“iya benar!”
“jadi, dari pihak laki-laki, kami sepakat kalau akio yang akan jadi rajanya?”
“jadi semua laki-laki disini cemen ya, menyerahkan segalanya ke akio saja?” Sindir Bu disca.
“iya benar, sebagai laki-laki kalian nggak punya jiwa sportifitas apa? Dengan mudahnya menyerahkan semua ini kepadaku? Bagaimana kalau aku menolak?”
“nggak mungkin kamu menolak, karena kamu satu-satunya harapan kami. Dan kami yakin kamu pasti akan memenangkannya bersama pasanganmu.”
“tapi...” Ucapku terpotong oleh cheryl.
“iya benar, terima saja. Aku yakin kamu pasti bisa akio!” Ucap cheryl yang justru semakin memojokkanku.
Bagaimana ini, aku tidak mau mengikuti acara seperti ini, memang benar aku sedang mencari arti dari sebuah cinta namun Bukan berarti harus dengan cara seperti ini. dan lagian Cheryl kenapa sih memojokkan aku untuk menjadi raja. Kalau seperti ini terus bisa-bisa aku terpilih. Sebaiknya aku menghentikan Cheryl agar tidak mengajukan aku terus-menerus. Tapi bagaimana ya? Mmm… baiklah … “kalau begitu kamu yang jadi pasanganku, bagaimana!” Ucapku dengan maksud agar cheryl berhenti memojokanku meski entah kenapa semua jadi terdiam.
 “heh...!!!
“cieeee... Terima saja cheryl, terima saja.”
Kenapa, aku ngomongnya salah ya?
“bagus akio, itu baru namanya gentleman!” Ucap edward menepuk punggungku sambil tertawa.
Disaat seperti ini kenapa aku salah tingkah sih. Kalau seperti ini menolak dengan cara apapun pasti jawabannya sama.
“ehem... Kalau begitu kami setuju kalau raja dan ratu untuk perwakilan kelas kami adalah akio dan cheryl.” Ucap ketua kelas.
“tapi aku...” Ucapku.
“nah, karena sekarang kelas kita sudah memiliki perwakilan untuk raja dan ratu perdamaian. Selanjutnya ibu akan memberitahukan secara detail mengenai apa saja yang harus dipersiapkan dan mengapa acara ini begitu penting.”
“tapi, aku belum memutuskan mau atau tidaknya?”
“tidak apa-apa akio, ini sudah menjadi keputusan bersama, jadi kamu harus menerimanya.” Jawab Bu disca.
“suatu kerajaan akan dinamakan sebagai negara jika ada masyarakat yang hidup didalamnya. Dan raja, presiden, atau apapun namanya yang memimpin suatu negara tersebut tidak akan dinamakan pemimpin jika tidak dibantu, dikawal, dan disegani oleh masyarakatnya. Maka oleh sebab itu, setiap siswa yang tidak terpilih sebagai raja dan ratu perdamaian maka akan diwajibkan untuk membantui pasangan yang terpilih dalam proses pemilihan yang akan maupun sebelum pemilihan tersebut dimulai. Untuk Cheryl dan akio mulai hari ini persiapkan diri kalian baik-baik.” Lanjut Bu disca. 
“iya Bu…”
“dalam kompertisi raja dan ratu perdamaian nanti, penilaian akan ditentukan berdasarkan dari hasil banyaknya pendukung, keterampilan dalam berpakaian, proposal yang diajukan dalam bentuk presentasi serta tulis, serta debat antar pasangan dengan topik yang akan ditentukan oleh panitia. Nah, karena banyaknya penilaian dan kegiatan yang harus dikerjakan oleh pasangan calon raja dan ratu perdamaian, maka kelas kita akan dibagi menjadi beberpa kelompok…”

***


bersambung



Note : Hak Cipta karya tulis ini sepenuhnya milik Hirekija. dilarang melakukan penggandaan atau plagiat dalam bentuk apapun.  cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. 
Continue reading...